Universitas Airlangga Official Website

Menembus Batas: Perjalanan Riset Seorang Ibu hingga ke Polandia

(Foto: Airlangga Global Engagement)
(Foto: Airlangga Global Engagement)

UNAIR NEWS – Sulih Indra Dewi, mahasiswa tahun ketiga Program Doktor Ilmu Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga (UNAIR), membuktikan bahwa peran sebagai ibu tidak menjadi penghalang untuk terus mengejar ilmu. Dalam perannya sebagai ibu dari dua anak, ia menyebut dirinya dengan bangga sebagai emak yang sedang studi S3—sebuah identitas yang sarat makna perjuangan.

Kesempatan untuk mengikuti program Inclusion of Talented Young Scientists in Research di University of Warsaw, Polandia, menjadi langkah besar dalam perjalanannya. Selama dua bulan, ia menjalani kegiatan riset di bawah bimbingan Prof. Aneta Ostaszewska dari Faculty of Applied Social Sciences and Resocialization. Ketertarikannya pada kajian perempuan dan gender membawanya pada kolaborasi yang berharga ini. “Saya merasa ada kecocokan nilai dan visi dalam bidang kajian kami, bahkan sejak komunikasi awal melalui email,” ungkapnya.

Prof Aneta bahkan menjemputnya langsung di bandara dan mendampinginya mengelilingi lingkungan kampus. “Penelitianmu itu penting, tapi aku ingin kamu juga bisa mengeksplor dan belajar tentang budaya Polandia,” ungkapnya. Sambutan yang hangat tersebut menjadi awal dari pengalaman akademik dan budaya yang mendalam.

Perjalanan ini tentu tidak tanpa tantangan. Bagi Sulih, keputusan meninggalkan keluarga untuk sementara waktu bukan hal mudah. Namun dukungan dari suami dan anak-anak menjadi kekuatan utama. “Tantangan terbesar bukan sekadar jarak, tetapi bagaimana menata hati untuk berpisah sementara dengan keluarga,” ujarnya.

Selama berada di Polandia, ia belajar banyak hal baru, dari cara menggunakan transportasi umum hingga menghadapi kendala bahasa. Ia bahkan mengandalkan aplikasi digital sembari tetap membawa peta fisik, sambil berseloroh, “Maklum, emak-emak kadang lebih percaya metode konvensional.”

Salah satu momen paling membekas adalah ketika mengunjungi BUW (Biblioteka Uniwersytecka w Warszawie), perpustakaan megah dengan taman di atap yang merepresentasikan semangat keilmuan yang mendalam. Diskusi dengan sesama mahasiswa doktoral dan akses literatur internasional turut memperkaya perspektif risetnya.

Pengalaman ini bukan hanya pencapaian akademik, melainkan juga pencapaian personal. “Ketika perempuan memperoleh akses terhadap pendidikan tinggi, ia tidak hanya membangun masa depannya, tetapi juga menjadi agen perubahan bagi lingkungan sekitarnya,” tegas Sulih.

Kisahnya menjadi inspirasi bahwa ibu, perempuan, dan siapapun yang merawat mimpi memiliki tempat dan peluang untuk tumbuh. Tak ada kata terlambat untuk belajar, dan tak ada peran yang membatasi langkah menuju pemberdayaan.

Penulis: Fiona Lim, Airlangga Global Engagement Intern

Editor: Khefti Al Mawalia