Mahasiswa kedokteran seringkali dihadapkan pada tantangan besar dalam memahami materi yang kompleks, terutama untuk mahasiswa baru di tahun pertama. Pada umumnya, mahasiswa kedokteran di tahun pertama mendapatkan pelajaran ilmu kedokteran dasar, seperti anatomi, fisiologi, biologi dasar, biokimia, dll. Hal ini juga diperberat dengan adanya sistem pembelajaran blok atau terintegrasi yang menuntut mahasiswa untuk lebih proaktif dan menguasai materi dalam waktu yang lebih singkat. Mengandalkan perkuliahan formal tentunya tidak cukup untuk menguasai semua materi yang diperlukan sebagai bekal dalam memahami ilmu klinis. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menggali dan menganalisis metode pembelajaran yang digunakan saat kompetisi, yang notabene dilakukan dalam waktu yang singkat sehingga dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa kedokteran untuk meningkatkan kemampuan belajar ilmu kedokteran dasar, khususnya dalam bidang Fisiologi.
Indonesian Medical Physiology Olympiad (IMPhO) merupakan kompetisi fisiologi terbesar di Indonesia yang diselenggarakan sejak tahun 2017 oleh Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. IMPhO diselenggarakan sebagai respons terhadap kebutuhan mahasiswa kedokteran di Indonesia yang ingin berpartisipasi dalam kompetisi internasional, tetapi terkendala oleh biaya dan waktu. Kompetisi ini terinspirasi dari International Medical Physiology Quiz (IMSPQ) yang digagas oleh Profesor Cheng Hwe Ming dari Universitas Malaya pada tahun 2003.
Sejak pertama kali diadakan, IMPhO telah menarik perhatian banyak mahasiswa dengan jumlah tim yang berpartisipasi meningkat dari 35 tim pada tahun 2017 menjadi 50 tim pada tahun-tahun berikutnya. Kompetisi IMPhO sendiri memiliki beberapa tahapan yang menguji pengetahuan peserta dan kemampuan kerja sama dalam tim. Tahap awal merupakan ujian tertulis yang harus dikerjakan secara individu. Selanjutnya, babak lisan dimulai dengan pembagian peserta ke dalam beberapa kelompok untuk sesi perempat final yang mana mereka diberi kesempatan berdiskusi bersama dalam menjawab 10 pertanyaan.
Babak semifinal dan final mengharuskan setiap tim menyusun strategi agar dapat saling melengkapi. Contohnya, satu anggota tim bertugas untuk mendalami materi secara mendetail, sementara dua anggota lainnya bertugas memberikan jawaban dengan cepat. Sistem ini tidak hanya menguji kemampuan individu, tetapi juga mengedepankan kerja sama dan koordinasi antar anggota tim. Oleh karena itu, setiap peserta dituntut untuk menguasai ilmu fisiologi secara menyeluruh serta mampu beradaptasi dan berkolaborasi dalam situasi kompetitif yang menuntut kecepatan dan ketepatan pengambilan keputusan.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa salah satu kunci keberhasilan dalam IMPhO adalah persiapan yang matang dengan menggunakan bahan ajar yang tepat serta pengaturan waktu belajar yang efisien. Panitia kompetisi merekomendasikan tiga buku teks utama, yaitu Costanzo Physiology, Guyton and Hall Textbook of Medical Physiology, dan Medical Physiology karya Walter Boron. Dua buku pertama menjadi favorit karena penyajian materi yang mudah dipahami, terutama bagi mahasiswa yang baru mempelajari ilmu fisiologi, namun pemenang dari kompetisi ini menggunakan 5 (lima) jenis buku teks yang berbeda.
Selain itu, para peserta juga memanfaatkan materi tambahan, seperti video ulasan, slide kuliah, catatan, bank soal, dan artikel penelitian, sebagai pendukung pembelajaran. Sebagian besar peserta menghabiskan waktu belajar sekitar 1 hingga 2 jam per hari, meskipun ada pula yang meluangkan waktu lebih dari 3 jam setiap harinya. Selain penguasaan materi, strategi pembagian topik antar anggota tim diterapkan agar masing-masing dapat mendalami bagian tertentu dan tetap saling melengkapi dalam menjawab soal di babak ujian tertulis. Metode pembelajaran ini sangat membantu dalam mengatasi keterbatasan waktu persiapan, terutama karena materi yang harus dikuasai sangat padat dan beragam. Para peserta mampu meningkatkan pemahaman dan kecepatan dalam menjawab pertanyaan sehingga peluang untuk meraih prestasi semakin terbuka dengan adanya persiapan yang terstruktur.
Peran dosen pembimbing atau mentor dalam kompetisi IMPhO tidak kalah penting. Dosen tidak hanya bertugas mengajar, tetapi juga membimbing serta memfasilitasi diskusi kelompok, menjelaskan materi yang masih membingungkan, dan memberikan latihan soal secara langsung. Beberapa dosen bahkan menyelenggarakan sesi tambahan di luar jadwal perkuliahan agar mahasiswa dapat lebih mendalami topik-topik yang sulit. Mahasiswa menjadi lebih percaya diri dan terbiasa berpikir kritis serta kreatif dalam menghadapi soal dengan adanya bimbingan yang intensif.
Metode pembelajaran yang melibatkan diskusi, presentasi, dan tanya jawab secara interaktif menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan kondusif. Selain itu, pengalaman mengikuti kompetisi juga mengajarkan mahasiswa untuk mandiri serta bertanggung jawab atas proses belajarnya. Keterampilan seperti kerja sama tim, komunikasi efektif, dan pemecahan masalah yang diasah melalui kompetisi ini nantinya akan sangat berguna dalam dunia medis yang penuh tantangan. Dengan demikian, IMPhO tidak hanya menjadi ajang unjuk kemampuan akademis, tetapi juga sarana pembentukan karakter dan keterampilan yang diperlukan oleh calon dokter di masa depan.
Sebagai kesimpulan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemahaman mendalam terhadap struktur kompetisi, kekompakan tim, dan perencanaan strategis yang matang merupakan kunci utama keberhasilan peserta dalam kompetisi IMPhO. Selain itu, penelitian ini mengungkap bahwa metode pembelajaran yang mengutamakan diskusi mendalam, studi kasus, serta dukungan intensif dari dosen tidak hanya meningkatkan pemahaman materi, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan keterampilan komunikasi. Oleh karena itu, integrasi strategi-strategi tersebut dalam proses pembelajaran formal diharapkan dapat membantu mahasiswa kedokteran menjadi lebih mandiri dan efektif dalam menghadapi tantangan di dunia medis.
#impho #kompetisifisiologi #strategikompetisi
Penulis: Agde Muzaky Kurniawan (Mahasiswa Program studi Profesi Kedokteran) dan Raden Argarini, dr., MKes.,PhD (Dosen di Departemen Fisiologi dan Biokimia Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga)
Informasi lebih detail mengenai penelitian kami dapat dilihat pada tautan berikut: https://doi.org/10.1152/advan.00010.2024
Maulana, M. N., Kurniawan, A. M., Argarini, R., Rimbun, R., & Putri, E. A. C. (2025). Preparation strategies for physiology competition: lessons learned from participants of Indonesian Medical Physiology Olympiad. Advances in physiology education, 49(6), 352–355. https://doi.org/10.1152/advan.00010.2024





