Siapa yang tidak suka cabai rawit? Selain memberi rasa pedas yang khas, cabai rawit juga memiliki banyak manfaat, baik dalam masakan maupun untuk kesehatan. Namun, untuk mendapatkan cabai rawit yang sehat dan produktif, petani sering kali menghadapi tantangan besar, terutama dalam hal pemupukan yang efisien dan ramah lingkungan. Salah satu solusi yang mulai banyak digunakan adalah biofertilizer atau pupuk hayati.
Baru-baru ini, sebuah penelitian mencoba melihat bagaimana BiomeFert-1, salah satu jenis biofertilizer yang dihasilkan oleh peneliti dari Pusat Riset Rekayasa Molekul Hayati (PUIPT BIOME) Universitas Airlangga, dapat mempengaruhi pertumbuhan dan hasil panen cabai rawit. Penelitian ini ingin mengetahui dosis dan frekuensi aplikasi yang paling efektif untuk meningkatkan kualitas tanaman dan hasil produksinya.
Pada penelitian ini, tanaman cabai rawit diberi perlakuan dengan tiga dosis berbeda: 5 mL, 10 mL, dan 15 mL per tanaman. Pemberian pupuk dilakukan dalam tiga frekuensi yang berbeda: sekali, dua kali, dan tiga kali. Kemudian, para peneliti mengamati beberapa aspek penting dari tanaman, seperti tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, dan jumlah bunga yang muncul.
Hasilnya cukup mengejutkan! Tanaman cabai yang diberi 10 mL biofertilizer dua kali ternyata tumbuh dengan tinggi terbaik. Sementara itu, 15 mL satu kali aplikasi menghasilkan tanaman dengan jumlah daun terbanyak. Untuk diameter batang, tanaman yang diberi 15 mL dengan tiga kali aplikasi menunjukkan hasil terbaik.
Namun, yang paling menarik adalah hasil produktivitasnya. Tanaman yang mendapat 10 mL biofertilizer hanya sekali ternyata menghasilkan bunga terbanyak, yang artinya potensi hasil panen yang tinggi. Bahkan, nilai efektivitas dari penggunaan pupuk ini mencapai 134%, yang menunjukkan bahwa pupuk ini bekerja lebih baik dibandingkan dengan metode lainnya.
Apa yang bisa dipelajari dari penelitian ini? Ternyata, untuk mendapatkan hasil yang maksimal, tidak selalu diperlukan dosis tinggi atau aplikasi yang sering. Dengan dosis yang tepat dan pemberian yang terjadwal dengan baik, biofertilizer dapat membantu tanaman tumbuh lebih baik dan menghasilkan lebih banyak bunga, yang pada akhirnya meningkatkan hasil panen.
Bagi petani dan masyarakat umum yang tertarik pada pertanian ramah lingkungan, ini adalah temuan yang sangat menarik. Penggunaan biofertilizer bukan hanya menguntungkan dari segi hasil, tetapi juga lebih ramah lingkungan dibandingkan pupuk kimiawi yang sering digunakan. Dengan teknologi ini, kita bisa memperoleh hasil pertanian yang lebih baik tanpa merusak alam.
Judul Publikasi : Effectiveness of biofertilizer BiomeFert-1 on growth and productivity of Capsicum frutescens L
Penulis : Fatimah*), N. A. A. Hidayatb, S. Salsabilab, N. D. Rahayuningtyas , A. N. P. Soelistyob, T. Nurhariyati, and Nimatuzahroh
Universitas Airlangga, University CoE Research Center for Bio-Molecule Engineering, Mulyorejo Surabaya, Indonesia
Universitas Airlangga, Faculty of Science and Technology, Department of Biology, Mulyorejo Surabaya, Indonesia
Link Url: https://www.scielo.br/j/bjb/i/2025.v85/
Link doi: https://doi.org/10.1590/1519-6984.289368
Baca juga: Mengeksplorasi Jarak dan Dominasi Pada Graf Korona Sisi





