Universitas Airlangga Official Website

Kafe dan Discord sebagai Ruang Kerja “Hybrid” yang Menyatukan Para Pekerja Jarak Jauh

Ilustrasi Fenomena Silent Quitting (Sumber: ANTARA News)
Ilustrasi Fenomena Silent Quitting (Foto: ANTARA News)

Sejak pandemi COVID-19 melanda, cara kita bekerja berubah. Digitalisasi semakin massif dan banyak kantor beralih ke sistem kerja jarak jauh (remote work). Dengan perubahan cara kerja ini, banyak pekerja dari Indonesia yang kemudian mendapatkan kesempatan bekerja secara remote di perusahaan yang berada di luar kota bahkan luar negeri. Mereka bisa bekerja dari rumah tanpa perlu menempuh perjalanan jauh untuk ke kantor. Akan tetapi, di balik fleksibilitas yang ditawarkan oleh sistem kerja jarak jauhini, muncul tantangan baru yang dialami pekerja yaitu rasa kesepian, kehilangan semangat, dan sulit menjaga produktivitas. Hal ini dikarenakan Sebagian dari pekerja jarak jauh (remote workers) ini tidak pernah atau jarang berinteraksi dengan rekan kerja mereka. Bahkan ada beberapa dari mereka yang tidak pernah mengetahui wajah rekan kerja mereka karena setiap rapat secara daring, mereka tidak menyalakan kamera. Bersama dengan tantangan ini, muncul fenomena menarik di kalangan pekerja jarak jauh, terutama di kota-kota besar seperti Surabaya. Mereka mulai membentuk komunitas kerja bersama yang unik, menggabungkan tempat fisik seperti kafe dan ruang digital seperti saluran Discord. Inilah yang disebut sebagai ruang kerja bersama “hybrid”, sebuah konsep yang mengintegrasikan dunia nyata dan dunia maya untuk menciptakan pusat komunitas terpadu.

Bagi para pekerja jarak jauh, ternyata kafe bukan cuma tempat ngopi atau bersantai. Dalam penelitian yang saya lakukan selama enam bulan (Juni–November 2023), terungkap bahwa kafe berfungsi sebagai tempat kerja alternatif yang memberi keseimbangan antara fokus dan interaksi sosial. Para pekerja jarak jauh memanfaatkan suasana kafe yang hidup, tapi tidak terlalu bising, sebagai tempat yang memotivasi mereka untuk bekerja. Di sana, mereka bisa menyelesaikan tugas sambil tetap merasa “dikelilingi” orang lain. Kafe juga memfasilitasi interaksi spontan seperti obrolan ringan saat makan siang, saling tanya pekerjaan, bahkan kolaborasi dadakan. Interaksi spontan ini menciptakan koneksi sosial yang penting untuk menjaga kesehatan mental dan semangat kerja.

Namun, interaksi di dunia fisik tidak selalu cukup. Untuk melanjutkan komunikasi dan kerja sama setelah pulang dari kafe, para pekerja ini terhubung melalui Discord, sebuah platform komunikasi berbasis suara dan teks yang populer di kalangan gamer, tapi kini juga digunakan secara luas oleh komunitas profesional. Di saluran Discord komunitas pekerja jarak jauh ini, mereka berbagi info pekerjaan, berdiskusi topik-topik produktivitas, saling menyemangati, bahkan mengadakan sesi kerja bersama (coworking session) secara virtual. Discord menjadi kantor digital yang aktif hampir 24 jam, tempat mereka bisa tetap merasa terhubung meski bekerja dari lokasi berbeda.

Efek Positif: Produktif dan Tidak Lagi Kesepian

Penelitian kualitatif ini melibatkan 11 pekerja jarak jauh yang aktif dalam komunitas hybrid tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mereka merasa lebih produktif, termotivasi, dan jauh dari rasa kesepian berkat interaksi rutin, baik di kafe maupun di Discord. Integrasi antara ruang fisik dan digital memungkinkan mereka menciptakan sense of community di mana ada perasaan menjadi bagian dari kelompok yang saling mendukung. Hal ini sangat penting dalam kerja jarak jauh yang rentan membuat seseorang merasa terisolasi.

Menariknya, komunitas ini tidak bersifat kaku atau formal. Justru karena sifatnya yang fleksibel, para anggotanya merasa lebih nyaman dan bebas berpartisipasi sesuai kebutuhan dan kapasitas masing-masing. Ada yang rutin datang ke kafe, ada yang lebih aktif di Discord, dan ada pula yang memadukan keduanya. Ruang kerja bersama tak lagi identik dengan gedung berbayar di pusat kota. Kini, kafe dan ruang digital seperti Discord telah menjadi tempat ke tiga (third place) bagi banyak pekerja jarak jauh, di mana ruang kerja hybrid ini menjadi tempat mereka bekerja, bersosialisasi, dan saling mendukung pada saat bersamaan.

Dengan menggabungkan interaksi sosial secara langsung dan virtual, konsep coworking hybrid ini menjawab kebutuhan zaman, yaitu kerja yang fleksibel, produktif, dan tetap terhubung secara manusiawi. Bukan tidak mungkin, di masa depan, model seperti inilah yang akan menjadi norma baru dalam dunia kerja. Model hybrid coworking ini juga menunjukkan potensi besar bagi kota-kota lain. Bayangkan jika lebih banyak komunitas seperti ini tumbuh di berbagai daerah. Bukan hanya mendukung pekerja jarak jauh, tapi juga bisa menjadi wadah kolaborasi lintas bidang, peningkatan keterampilan, bahkan penciptaan peluang usaha baru.

Penulis: Nur Syamsiyah, S.Sosio., M.Sc.

Judul Artikel Jurnal: “Hybrid coworking spaces for remote workers: The role of cafés and Discord channels as a unified community hub”

Link Artikel Jurnal: https://e-journal.unair.ac.id/DIALEKTIKA/article/view/68452