Sebuah studi meta-analisis terbaru yang melibatkan lebih dari 3 juta perawat dari seluruh dunia menemukan bahwa satu dari tujuh perawat telah meninggalkan pekerjaannya dan dua dari lima perawat berniat untuk berhenti. Studi ini menyoroti krisis global yang tengah mengancam sistem layanan kesehatan akibat tingginya angka perputaran dan niat berhenti kerja di kalangan perawat. Tingkat perputaran ini jauh lebih tinggi dibandingkan profesi kesehatan lain, seperti dokter dan apoteker. Data yang dianalisis mencakup 75 studi dari berbagai benua, menunjukkan bahwa beban kerja yang berat, kurangnya keseimbangan kehidupan kerja, serta keterbatasan kesempatan pengembangan profesional menjadi penyebab utama krisis ini. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan memprediksi kekurangan 4,9 juta perawat pada tahun 2030 jika tren ini terus berlangsung.
Analisis mendalam dalam studi ini juga menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti jenis shift kerja, status pekerjaan, unit kerja, status pernikahan, dan tingkat pendidikan sangat mempengaruhi tingkat perputaran dan niat berhenti perawat. Perawat yang bekerja pada shift malam memiliki peluang hampir tiga kali lipat lebih besar untuk ingin berhenti dibandingkan mereka yang bekerja pada shift siang. Begitu pula perawat penuh waktu mencatat tingkat perputaran lebih tinggi daripada yang bekerja paruh waktu. Unit kerja juga berperan penting—perawat di unit medis-bedah mencatatkan tingkat perputaran dan niat berhenti tertinggi dibanding unit emergensi dan perawatan intensif. Lingkungan kerja yang menuntut secara fisik dan emosional serta minimnya dukungan psikososial memperparah kondisi ini.
Wilayah dengan pendapatan menengah-atas, seperti kawasan Mediterania Timur dan Pasifik Barat, menunjukkan tingkat perputaran yang lebih tinggi dibandingkan negara-negara berpendapatan tinggi. Hal ini diperburuk oleh fenomena migrasi tenaga keperawatan ke negara-negara dengan sistem kesehatan yang lebih mapan dan imbalan yang lebih besar. Sebaliknya, negara-negara Eropa yang memiliki rasio perawat yang tinggi dan kebijakan dukungan profesional yang kuat menunjukkan tingkat perputaran dan niat berhenti kerja yang lebih rendah. Dengan demikian, menciptakan lingkungan kerja yang positif, memberikan insentif pendidikan lanjutan, serta menawarkan jalur karier yang jelas menjadi solusi penting dalam menahan laju eksodus tenaga keperawatan.
Peneliti menyimpulkan bahwa intervensi sistematis dari pembuat kebijakan dan pemimpin rumah sakit sangat dibutuhkan untuk membendung krisis ini. Regulasi yang membatasi jam kerja berlebihan, penyediaan fasilitas penitipan anak, serta kompensasi untuk perawat shift malam hanyalah sebagian dari upaya yang dapat dilakukan. Studi ini merekomendasikan pentingnya perumusan kebijakan berbasis bukti dan strategi retensi tenaga kerja keperawatan yang adaptif, khususnya dalam menghadapi potensi krisis kesehatan global di masa mendatang. Jika dibiarkan, tingginya tingkat perputaran ini tidak hanya merugikan tenaga kesehatan, tetapi juga berimplikasi serius terhadap kualitas layanan dan keselamatan pasien di seluruh dunia.
Penulis: Hidayat Arifin, Fakultas Keperawatan, Universitas Airlangga
Sumber:
Mafula, D., Arifin, H., Chen, R., Sung, C. M., Lee, C. K., Chiang, K. J., … & Chou, K. R. (2025). Prevalence and Moderating Factors of Turnover Rate and Turnover Intention Among Nurses Worldwide: A Meta-Analysis. Journal of Nursing Regulation, 15(4), 20-36.
Untuk membaca artikel dapat melalui tautan berikut:





