Budidaya udang vaname (Litopenaeus vannamei) menjadi salah satu sektor perikanan yang berkembang pesat di Indonesia. Namun, ancaman penyakit menjadi tantangan besar yang dapat menghambat produktivitas. Salah satu penyakit yang menjadi perhatian utama adalah White Feces Syndrome (WFS), yang menyebabkan angka kematian tinggi pada udang.
WFS adalah penyakit yang menyerang sistem pencernaan udang, ditandai dengan munculnya feses berwarna putih di permukaan air tambak. Gejala lain meliputi hepatopankreas pucat, saluran pencernaan kosong, pertumbuhan lambat, dan penurunan nafsu makan. Penyakit ini sering muncul pada tahap pertumbuhan akhir dan dapat menyebabkan kematian massal dalam waktu singkat.
Dalam penelitian yang dilakukan di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, khususnya di Desa Gerongan dan Kalianyar, ditemukan tingginya angka kematian udang akibat WFS. Di Desa Gerongan, gejala penyakit mulai muncul pada umur pemeliharaan 22 hari (DOC 22), sementara di Kalianyar gejala muncul pada DOC 51. Penelitian ini menggunakan Next-Generation Sequencing (NGS) untuk menganalisis komposisi mikrobiota di saluran pencernaan udang sehat dan yang terinfeksi WFS. Hasilnya menunjukkan dominasi bakteri patogen pada udang yang terinfeksi, seperti Photobacterium damselae, Vibrio vulnificus, dan Vibrio coralliilyticus. Ketiga bakteri ini diduga menjadi penyebab utama wabah WFS di wilayah tersebut.
Faktor lingkungan seperti suhu air, salinitas, dan kualitas oksigen berperan dalam memicu WFS. Pada musim panas, perubahan suhu yang drastis dapat menyebabkan stres pada udang, sehingga meningkatkan kerentanannya terhadap infeksi. Tambak dengan kepadatan tinggi dan biosekuriti yang kurang optimal juga menjadi pemicu utama penyebaran penyakit.
Mengingat belum ada pengobatan spesifik untuk WFS, langkah terbaik yang bisa dilakukan adalah pencegahan dengan cara menjaga kualitas air agar tetap stabil, memberikan probiotik untuk meningkatkan keseimbangan mikrobiota usus, menerapkan biosekuriti dengan membatasi akses ke tambak serta sterilisasi peralatan, dan mengelola pakan agar tidak berlebihan sehingga kualitas air tetap terjaga dan pertumbuhan bakteri patogen dapat dikendalikan.
WFS menjadi ancaman serius bagi budidaya udang vaname di Indonesia, khususnya di Pasuruan. Penyakit ini terkait erat dengan ketidakseimbangan mikrobiota usus dan dipicu oleh faktor lingkungan yang tidak mendukung. Dengan penerapan manajemen tambak yang baik, risiko penyebaran penyakit dapat dikurangi, sehingga budidaya udang tetap berkelanjutan dan menguntungkan. Sebagai pelaku usaha akuakultur, kesadaran akan pentingnya manajemen kesehatan udang dan pencegahan penyakit harus selalu ditingkatkan. Dengan demikian, produktivitas tambak dapat tetap optimal dan kerugian akibat penyakit dapat diminimalkan.
Penulis: Dr. Woro Hastuti Satyanini, Ir., M.Si.
Informasi lebih lanjut mengenai penelitian ini dapat diakses melalui:
https://doi.org/10.13057/biodiv/d260216
Satyantini, W. H., Rahardjo, K. K. E., Amin, M., Mukti, A. T., Andriyono, S., & Yasin, I. S. M. (2025). Digestive tract microbiota composition of white shrimp with symptoms of White Feces Syndrome (WFS) causing high mortality in Pasuruan, Indonesia. Biodiversitas, 26(2), 690-697.





