Universitas Airlangga Official Website

Kombinasi aripiprazole dan valproate pada anak dengan gangguan tic

ILUSTRASI: Epilepsi. (Foto: alodokter.com)
ilustrasi Epilepsi. (Foto: alodokter.com)

Tic merupakan salah satu gangguan pergerakan yang paling sering ditemukan pada anak-anak.[1] Gejalanya dapat menyerupai gangguan lain, seperti gangguan perilaku atau kejang sehingga sering terjadi misdiagnosis.[2] Perjalanan gangguan tic umumnya mulai muncul pada usia 3 hingga 8 tahun dan dapat berkurang saat memasuki masa remaja.[1] Namun, beberapa kasus dapat menetap hingga dewasa dan berkembang menjadi kondisi kronis yang lebih kompleks.[3] Tic juga terjadi pada sindrom Tourette. Gangguan tic lebih sering terjadi pada anak laki-laki dengan perbandingan 3:1, dibandingkan dengan 4:1 pada anak perempuan.[1]

Penatalaksanaan gangguan tic merupakan tantangan tersendiri dan sering kali memerlukan pengobatan yang disesuaikan secara individual.[4] Pemberian terapi tunggal sering kali tidak efektif, sehingga terapi kombinasi mungkin diperlukan.[5] Penggunaan antipsikotik seperti aripiprazole atau risperidone sering digunakan pada gangguan tic yang disertai gangguan perilaku.[3] Kombinasi yang direkomendasikan adalah aripiprazole dengan guanfacine,[4–6] namun guanfacine masih jarang tersedia di Indonesia, sehingga mendorong penggunaan kombinasi alternatif seperti aripiprazole dengan valproat. Meskipun valproat telah menunjukkan efektivitas dalam mengurangi gejala sindrom Tourette dan gangguan tic, kombinasi valproat dengan aripiprazole belum banyak diteliti secara luas.[6]

Kasus 1

Seorang anak laki-laki berusia 7 tahun dengan berat badan 30 kg datang dengan keluhan gerakan menyentak (jerking), terutama pada tangan, yang mengganggu aktivitas sehari-harinya. Gejala memburuk saat ia merasa cemas dan awal pasien didiagnosis dengan kejang. Pengobatan sebelumnya menunjukkan perbaikan sementara. Kondisi pasien memburuk setelah pindah ke sekolah baru. Awalnya ia diberikan risperidone 0,3 mg dua kali sehari dan valproat 125 mg dua kali sehari, disertai intervensi diet. Pasien menjalani diet bebas gluten dan bebas produk susu. Namun, setelah 1 minggu tidak ada perbaikan yang signifikan dan muncul tic vokal. Terapi kemudian diganti menjadi aripiprazole 3 mg sekali dan asam valproat 125 mg dua kali sehari dengan tetap mempertahankan diet bebas gluten dan tidak mengkonsumsi susu. Setelah 1 bulan, tampak perbaikan yang nyata. Gerakan menjadi lebih jarang dan hanya muncul saat aktivitas fisik berat atau berenang. Selama 6 bulan, gejalanya berangsur-angsur menghilang. Dengan terapi ini, pasien bebas gejala dan tidak mengalami masalah akademik selama masa observasi 18 bulan.

 

Kasus 2

Pasien kedua,anak laki-laki berusia 9 tahun dengan berat badan 28 kg, dengan keluhan gerakan menggerak-gerakkan leher disertai kedutan alis dan tic pada tangan sejak usia 6 tahun. Gerakan ini awalnya dipicu oleh tekanan emosional. Gejalanya memburuk akibat stres, kurang tidur, dan bermain video game secara berlebihan. Ketika tidak bisa tidur, pasien akan bermain video game dan memakan makanan manis. Pasien kemudian diberikan risperidone 0,2 mg dua kali sehari, namun hanya menunjukkan perbaikan minimal. Selama periode ini, pasien juga mengalami kesulitan dalam mengendalikan perilaku. Pengobatan kemudian diganti menjadi aripiprazole 2 mg per hari dan valproat 125 mg dua kali sehari, yang memberikan perbaikan pada regulasi emosional dan gejala tic. Terapi ini kemudian dilanjutkan hingga gejala hilang sepenuhnya setelah 3 bulan. Tidak ditemukan tic selama 1 tahun masa observasi.

 

Kasus 3

Pasien ketiga, anak laki-laki berusia 15 tahun dengan berat badan 35 kg, mengalami gerakan bibir yang tidak terkendali dan gagap, yang menyebabkan rasa malu secara sosial dan penarikan diri dari lingkungan. Pasien juga mengalami gerakan involunter berupa mengangkat alis dan beberapa gerakan pada tangan. Gejala semakin memberat saat pasien merasa tidak nyaman atau takut. Pasien diberikan aripiprazole 3 mg pada malam hari dan fluoxetine 10 mg setiap hari awalnya. Namun, setelah 2 minggu, pasien mengalami mual dan muncul masalah perilaku baru. Pasien melakukan masturbasi kompulsif, meskipun tetap dapat tidur dengan baik pada malam hari. Terapi kemudian disesuaikan menjadi aripiprazole 3 mg per hari dan valproat 125 mg dua kali sehari. Selama 3 bulan pengobatan, gejala tic dan perilaku kompulsif menghilang, serta kemampuan bicaranya membaik. Setelah 1 tahun terapi, ia tidak menunjukkan gerakan involunter maupun perilaku kompulsif. Pasien juga berhasil meraih juara ketiga dalam lomba menggambar tingkat regional mewakili sekolahnya.

Kasus-kasus yang dipresentasikan menunjukkan adanya gangguan tic kronis yang berlangsung lebih dari satu tahun, dengan gangguan motorik pada berbagai bagian tubuh. Berdasarkan kriteria DSM-V (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders – V), gangguan tic harus muncul sebelum usia 18 tahun dan tidak disebabkan oleh kondisi lain seperti penyakit Huntington, penggunaan zat, atau efek samping obat-obatan.[1]

Gangguan tic kronis didiagnosis jika terdapat tic motorik atau vokal yang menetap selama minimal satu tahun, sedangkan sindrom Tourette didiagnosis jika terdapat baik tic motorik maupun vokal secara bersamaan.[1] Gangguan tic lebih banyak ditemukan pada anak laki-laki, dengan literatur terbaru menunjukkan prevalensi dan tingkat keparahan yang lebih tinggi pada laki-laki. Komorbiditas seperti gangguan obsesif-kompulsif (OCD) dan gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas (ADHD) juga lebih sering ditemukan pada anak laki-laki.[2] Gangguan tic seringkali memburuk akibat stres atau gangguan emosional. Berbeda dengan gerakan stereotipik yang cenderung lebih ritmis, terkoordinasi, dan tidak dipengaruhi oleh stres emosional, gerakan tersebut bersifat ego-sintonik, artinya pasien merasa nyaman dengan gerakan berulang tersebut.[2]

Antipsikotik merupakan terapi utama dalam penatalaksanaan gangguan tic, terutama jika terapi lini pertama tidak tersedia. Obat ini bekerja dengan memblokir reseptor dopamin (D2), yang dapat menurunkan keparahan tic hingga sekitar 70%.[4] Antipsikotik yang umum digunakan meliputi haloperidol, risperidone, pimozide, aripiprazole, olanzapine, dan ziprasidone.[4] Gangguan tic juga dapat disebabkan oleh ketidakseimbangan neurotransmiter di ganglia basal, seperti glutamat, asam gamma-aminobutirat (GABA), dan asetilkolin, yang turut berkontribusi terhadap munculnya gejala.[5]

Ketiga kasus dalam laporan ini menggunakan kombinasi aripiprazole dan valproat dalam terapi. Asam valproat meningkatkan aktivitas GABAergik pada jalur ganglia basal, sehingga mengurangi gerakan berlebihan.[6] Obat ini juga bermanfaat dalam menangani impulse control disorder (ICD) yang dapat muncul akibat pengobatan dopaminergik, seperti pada kasus ketiga. Kombinasi aripiprazole dan valproat terbukti efektif dalam mengendalikan gejala tic dan masalah perilaku yang menyertainya.[5] Pada kasus ketiga, penggunaan aripiprazole (dengan aktivitas dopaminergik agonis parsial) memicu gejala ICD berupa masturbasi berlebihan. Dengan pemberian valproat, gejala ICD tersebut membaik. Selain itu, valproat juga memblokir saluran kalsium, yang membantu menekan gejala ICD dan ketidakstabilan emosi, sehingga gejala tic dapat berkurang.

Penulis: Dr. Yunias Setiawati, dr.,Sp.K.J(K)

 

Untuk lebih detail terkait Combination of aripiprazole and valproate in children with tic disorders dapat diunduh di https://doi.org/10.7196/SAJCH.2025.v19i1.2446