Universitas Airlangga Official Website

Elektrolit dan Stoma Intestinal pada Anak

Ilustrasi Stoma Intestinal (Foto: Alodokter)

Stoma Intestinal atau sering disebut stoma usus merupakan prosedur bedah yang dilakukan dengan membuka saluran pencernaan melalui dinding perut. Prosedur tersebut dilakukan dengan tujuan yang beragam seperti mengalihkan aliran tinja, mengurangi tekanan dalam usus, melindungi hasil sambungan operasi saluran cerna, atau bahkan untuk memberikan nutrisi langsung. Stoma intestinal pada anak sering menjadi bagian dari penanganan gangguan saluran cerna baik bersifat bawaan sejak lahir maupun akibat penyakit atau infeksi. Stoma intestinal dapat  menyebabkan kemampuan usus dalam penyerapan cairan dan nutrisi menjadi berkurang. Selain itu kesembangan bakteri baik dalam sistem pencernaan anak bisa terganggu yang dapat mempengaruhi kesehatan secara keseluruhan. Hal tersebut dikarenakan prosedur yang dilakukan tidak hanya melibatkan pembuatan saluran baru namun juga pengangkatan bagian usus yang sudah rusak atau mati.

Stoma intestinal tidak terlepas dari risiko komplikasi pada anak-anak. Salah satu komplikasi yang sering terjadi adalah gangguan elektrolit, dimana terjadi ketidakseimbangan zat-zat penting dalam tubuh anak seperti natrium, kalium dan klorida. Hal tersebut harus segera dilakukan penanganan supaya tidak menimbulkan dampak serius bagi kesehatan anak. Anak-anak dengan stoma dan usus yang telah direseksi tergolong kelompok yang sangat rentan mengalami gangguan elektrolit. Penelitian yang membahas kadar elektrolit dalam darah dan tinja anak-anak dengan stoma masih sangat terbatas, terutama di negara-negara berkembang. Penelitian bertujuan menganalisa hubungan kadar elektrolit dalam darah dan tinja pasien stoma intestinal pada anak.

Penelitian ini dilakukan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya yang melibatkan pasien usia 0 sampai 18 tahun yang dirawat di ruang NICU, ruang anak, dan ruang bedah dengan stoma usus. Penelitian ini berlangsung dari 1 April hingga 31 Juli 2023. Dari total 53 anak yang memiliki stoma usus selama periode penelitian, hanya 34 anak yang memenuhi kriteria karena hanya mereka yang memiliki tinja cair yang bisa dianalisis. Tinja cair mengandung banyak sisa material, peneliti harus melakukan proses pemurnian menggunakan alat pemutar cepat (sentrifugasi) dua kali, hingga hanya cairan jernih (supernatan) yang tersisa dan bisa diperiksa dengan alat analisa elektrolit khusus (Ion Selective Electrode / ISE). Salah satu sampel kemudian harus dikeluarkan dari analisis karena alat tidak bisa membaca hasilnya, sehingga total yang dianalisis adalah 33 pasien.

Hasil penelitian menunjukkan 33 anak yang memiliki stoma intestinal, baik berupa ileostomi (stoma di usus halus) maupun sigmoidostomi (stoma di usus besar). Mayoritas pasien adalah laki-laki, sesuai dengan data penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa anak laki-laki memang lebih sering mengalami kondisi seperti intususepsi, yang sering kali membutuhkan tindakan ileostomi. Selain itu, hasil penelitian menunjukkan malnutrisi cukup umum terjadi, terutama pada pasien yang menjalani operasi pemotongan usus (reseksi). Hal tersebut dikarenakan pemotongan bagian usus, terutama di usus halus, dapat menyebabkan sindrom usus pendek. Kondisi ini membuat tubuh kesulitan menyerap nutrisi dan cairan secara optimal. Dalam penelitian ini, kadar elektrolit seperti natrium, kalium, dan klorida diukur dari darah dan tinja cair yang keluar dari stoma. Hasilnya menunjukkan kisaran nilai yang sangat bervariasi, terutama pada tinja. Bahkan dibandingkan dengan penelitian sebelumnya pada orang dewasa dengan ileostomi, variasi kadar elektrolit pada anak jauh lebih luas. Hal ini kemungkinan besar karena sebagian besar peserta penelitian adalah bayi dan neonatus yang masih memiliki fungsi saluran cerna yang belum matang.

Simpulan dari penelitian yang dilakukan yakni kadar elektrolit dalam tinja tidak dapat dijadikan patokan untuk melihat kondisi elektrolit dalam darah anak. Selain itu, lokasi stoma dan tindakan reseksi usus menunjukkan tidak berhubungan terhadap perbedaan kadar elektrolit pada anak. Pemantauan keseimbangan elektrolit pada anak dengan stoma intestinal harus dilakukan secara menyeluruh dan penting untuk melakukan pemeriksaan darah secara rutin serta intervensi nutrisi yang tepat. Oleh karena itu diperlukan penelitian lanjutan khususnya mengenai mekanisme tubuh dalam mengatur keseimbangan elektrolit, seperti peran sistem hormon RAAS (Renin-Angiotensin-Aldosteron) pada pasien anak dengan stoma intestinal.

Penulis: Dr. Alpha Fardah Athiyyah, SpA(K)

https://rjp.com.ro/articles/2024.4/RJP_2024_4_Art-08.pdf

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Haliza, W., Ranuh, R. G., Athiyyah, A. F., Novi, T., Darma, A., Sumitro, K. R., & Sudarmo, S. M. (2024). Electrolyte profile in pediatric patients with intestinal stoma. Romanian Journal of Pediatrics, 73(4), 236-240. https://doi.org/10.37897/RJP.2024.4.8