Universitas Airlangga Official Website

Dampak Puasa Intermiten Pada Tubuh Perempuan Obesitas

Ilustrasi Wanita Obesitas (Sumber; Okezone Health)
Ilustrasi Wanita Obesitas (Sumber; Okezone Health)

Kita semua tahu bahwa makanan memengaruhi kesehatan, tapi tahukah bahwa cara dan waktu makan juga bisa memengaruhi seberapa cepat tubuh kita “menua” secara metabolik?. Penuaan metabolik bukan hanya tentang bertambahnya usia secara kronologis, tetapi bagaimana tubuh kita secara biologis menjadi lebih “tua”. Tanda-tandanya bisa berupa melambatnya metabolisme, bertambahnya lemak tubuh, mudah lelah, hingga meningkatnya risiko penyakit kronis. Dua protein penting di tubuh—AMPK dan mTOR—memegang peranan besar di dalamnya. AMPK bekerja seperti “detektor energi” yang memberi sinyal saat tubuh butuh lebih banyak energi. Ketika aktif, AMPK bisa memicu perbaikan sel dan mengurangi peradangan. Sementara mTOR adalah “pengatur pertumbuhan” yang bila terlalu aktif bisa mempercepat penuaan dan memicu penyakit.

Penelitian yang dilakukan menguji dua pola puasa populer selama 20 hari yaitu Time-Restricted Feeding (TRF) yaitu makan hanya dalam jendela waktu 6 jam (misalnya jam 2 siang – 8 malam) dan Alternate Day Modified Fasting (ADMF) yaitu atu hari makan normal, hari berikutnya hanya makan 25% dari kebutuhan kalori (sekitar 500–600 kalori). Pesertanya adalah erempuan muda usia 18–25 tahun yang mengalami obesitas.

Penelitian ini mendapatkan hasil cukup menarik meskipun belum semuanya signifikan secara statistic. Pada kelompok ADMF, kadar AMPK justru menurun secara signifikan. Hal ini sedikit mengejutkan karena AMPK biasanya meningkat saat tubuh “kelaparan”. Kadar mTOR cenderung menurun pada kelompok TRF, meskipun belum signifikan. Yang cukup menjanjikan: usia metabolik sedikit menurun pada kelompok ADMF dibandingkan kelompok lain. Artinya, meskipun belum menghasilkan perubahan besar, puasa intermiten menunjukkan potensi untuk memperlambat proses penuaan metabolik, terutama bila dilakukan secara konsisten.

Studi ini memberikan sinyal awal bahwa cara kita mengatur waktu makan—bukan hanya apa yang kita makan—berpengaruh besar pada proses penuaan tubuh. Bagi perempuan muda yang mengalami obesitas, metode seperti TRF atau ADMF bisa jadi pilihan gaya hidup yang mendukung kesehatan metabolik dan menunda penuaan dari dalam. Namun, karena penelitian ini hanya berlangsung 20 hari dan melibatkan sedikit peserta, masih dibutuhkan studi lanjutan dengan durasi lebih lama dan jumlah orang yang lebih banyak untuk memastikan manfaatnya. Kesimpulan Sederhana yang bisa ditarik adalah makan dengan pola yang teratur dan berpuasa secara terencana mungkin bisa membantu tubuh tetap “muda” lebih lama—setidaknya secara metabolik.

Artikel ditulis oleh: Purwo Sri Rejeki

Artikel lengkap bisa dilihat di https://www.mdpi.com/2072-6643/17/10/1695

Sitasi Artikel: Sheeny Priska Purnomo, Purwo Sri Rejeki,*, Raden Argarini,  Dian Aristia Rachmayanti, Chy’as Diuranil Astrid Permataputri , Shariff Halim and Ivan Kristianto Singgih, 2025. Regulation of Metabolic Aging Through Adenosine Mono Phosphate-Activated Protein Kinase and Mammalian Target of Rapamycin: A Comparative Study of Intermittent Fasting Variations in Obese Young Women, Nutrients 202517(10), 1695; https://doi.org/10.3390/nu17101695