Cacat tulang alveolar adalah suatu kondisi yang ditandai dengan proses patologis dan fisiologis yang mengarah pada kerusakan komponen tulang, yang mengakibatkan hilangnya jaringan tulang. Cacat ini dapat disebabkan oleh trauma, penyakit periodontal, kranioplasti, infeksi, kelainan bawaan, dan kanker rongga mulut. Regenerasi tulang terpandu adalah pendekatan yang banyak digunakan untuk mengatasi cacat-cacat ini, yang bertujuan untuk mencapai ketebalan atau tinggi tulang yang cukup untuk terapi implan. Porositas perancah, yang meliputi ukuran pori dan persentase porositas keseluruhan, mempengaruhi proses regenerasi. Kalsium karbonat (CaCO3), bahan anorganik yang ditemukan dalam batu kapur, cangkang kerang, dan cangkang telur, semakin dianggap sebagai bahan pengganti tulang yang lebih disukai karena ketersediaannya yang melimpah, biokompatibilitas, dan potensi yang signifikan untuk aktivitas biologis. Cangkang telur ayam, yang terdiri dari 94-97% CaCO3, telah terbukti mendukung regenerasi tulang melalui mekanisme seperti osseointegrasi, migrasi sel, dan proliferasi. Gelatin, polimer alami yang dapat terurai secara hayati dan memiliki sifat hidrofilisitas, biokompatibilitas, dan bioresorbabilitas, diharapkan dapat menciptakan perancah biomimetik yang memfasilitasi regenerasi tulang. Penelitian ini dibangun di atas kesenjangan tersebut dengan memeriksa rasio material yang berbeda untuk mengevaluasi porositas perancah CaCO3.
Metode
Penelitian ini menggunakan bubuk cangkang telur ayam, gelatin, asam asetat, natrium hidroksida, dan air suling untuk membuat pemulung CaCO3 dan gelatin. Campuran tersebut memiliki rasio berat terhadap berat dan bervariasi, dengan konsentrasi CaCO3 dan gelatin yang berbeda. Scavenger yang dihasilkan digunakan dalam berbagai aplikasi.
Hasil Dan diskusi
Penelitian ini bertujuan untuk menilai porositas, ukuran pori, dan persentase porositas perancah yang terbuat dari CaCO3 dari cangkang telur ayam dan gelatin. Terdapat enam kelompok penelitian dengan rasio berbeda: kontrol medium, kontrol, dan rasio CaCO3-Gelatin 50:50, 60:40, 70:30, dan 80:20. Tinggi dan diameter perancah sama, yaitu 5mm. Ukuran pori diukur dengan perangkat lunak Image-J, dan pada rasio 70:30, ukuran porinya tertinggi, sedangkan 80:20 terendah.
Persentase porositas juga dianalisis menggunakan Image-J. Rasio 60:40 menunjukkan persentase tertinggi, sedangkan 80:20 terendah. Riset ini memberikan pemahaman tentang sifat porositas perancah yang terbuat dari bahan tersebut. Rekayasa jaringan bertujuan untuk menyembuhkan cedera tulang dengan perancah yang mendukung sel dan biomolekul. Perancah biomimetik dibuat dengan komponen anorganik dan organik untuk perbaikan tulang.
Porositas, ukuran pori, dan persentase sangat penting bagi perancah untuk mendukung proses penyembuhan. Rasio 60:40 mencatat 50,86% porositas, ideal untuk rekayasa jaringan tulang. Perancah menunjukkan struktur pori yang berinterkoneksi, menyerupai tulang trabekular.
Kesimpulan
Studi ini porositas perancah CaCO3 yang berasal dari cangkang telur ayam dan gelatin dengan rasio 60:40 sangat ideal untuk digunakan sebagai biomaterial dalam regenerasi tulang. Menurut hasil penelitian, perancah yang terdiri dari CaCO3 cangkang telur ayam dan gelatin dengan rasio
50:50, 60:40, 70:30, dan 80:20 (b/b) menunjukkan porositas yang baik, sehingga cocok digunakan sebagai pengganti tulang biokompatibel yang mendukung kelangsungan hidup, proliferasi, dan diferensiasi sel osteoblas, dengan rasio 60:40 menunjukkan porositas optimal untuk aplikasi regenerasi tulang.
Penulis: Maretaningtias Dwi Ariani, drg., M.Kes., Ph.D.
Sumber Referensi :
Maretaningtias D. Ariani, Aqsa S. Oki, Priyawan Rachmadi, Nursyamsi Djamaluddin, Ratri Indriani, Haryo A. Wicaksono, & Harly Prabowo. (2025). Porosity assessment of chicken eggshell-derived calcium carbonate and gelatine scaffolds for potential application in bone regeneration. Journal of Dentomaxillofacial Science, 10(1). https://doi.org/10.15562/jdmfs.v10i1.1906





