Dua mahasiswa Fakultas Keperawatan (FKp) Universitas Airlangga (UNAIR), Sandrina Indah Paraswati dan Faiz Wildan Anshory dari angkatan 2022, menjadi delegasi UNAIR dalam ajang Asia Biomedical Culture 2025 NCKU Summer Program. Program pertukaran mahasiswa internasional ini berlangsung di College of Medicine, National Cheng Kung University (NCKU), Tainan, Taiwan, Senin hingga Sabtu, (7–19/7/2025). Kegiatan tersebut mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara seperti Amerika Serikat, Polandia, Thailand, Jepang, dan Indonesia. Tujuan kegiatan ini untuk mendalami keterkaitan budaya Asia dengan praktik medis melalui rangkaian kuliah, workshop, dan kunjungan lapangan.
Menggali Pengobatan Tradisional Lewat Perspektif Global
Selama dua minggu, para peserta mengikuti berbagai sesi akademik, termasuk kuliah tentang pengobatan tradisional Tiongkok (Traditional Chinese Medicine/TCM), antropologi medis, dan praktik kesehatan masyarakat di Asia. Mereka juga terlibat dalam praktik langsung seperti cupping (bekam), akupunktur, serta kunjungan ke rumah sakit sejarah, pabrik obat herbal, dan toko TCM. Tak hanya kegiatan medis, peserta juga menyelami budaya lokal melalui pelatihan kaligrafi, Tai Chi, dan Qi Gong. Menjelang penutupan program, seluruh peserta mempresentasikan hasil diskusi ilmiah dan refleksi pembelajaran lintas negara.
“Yang paling berkesan adalah bagaimana kuliah dan praktik bisa saling melengkapi. Kami jadi paham bahwa kesehatan di beberapa negara Asia tidak hanya bergantung pada medis modern, tetapi juga budaya dan tradisi yang masih kuat dipraktikkan,” ujar Sandrina.

Belajar, Berkoneksi, dan Membawa Pulang Inspirasi
Selain memperluas wawasan akademik, pengalaman ini juga menjadi momen berharga untuk membangun jejaring global dan mengenalkan budaya Indonesia. Sandrina bercerita bahwa mereka sempat membagikan suvenir UNAIR serta makanan khas Indonesia kepada mahasiswa asing. Tidak hanya itu, Sandrina terpilih sebagai perwakilan Indonesia untuk menyampaikan pidato penutup program. Sebuah kehormatan yang mencerminkan partisipasi aktif UNAIR dalam kegiatan internasional.
“Program ini membuka pikiran kami. Bahkan di tengah tantangan seperti badai typhoon dan kendala bahasa, kami tetap bisa menjalin relasi, berdiskusi, dan saling belajar. Ini bukan sekadar pertukaran akademik, tapi juga pertukaran nilai dan semangat kolaborasi global,” tutupnya.
Penulis: Febriana P N A
Editor: Ragil Kukuh Imanto





