Kanker mulut merupakan masalah serius dan terus meningkat di banyak belahan dunia. Oral Potentially Malignant Disorder (OPMD) atau Gangguan Mulut Berpotensi Ganas merupakan kondisi lesi yang berpotensi berubah menjadi keganasan. Asia memiliki prevalensi kasus OPMD tertinggi, dengan persentase 10,54%. Penyakit yang tergolong dalam OPMD meliputi leukoplakia, eritroplakia, fibrosis submukosa rongga mulut, liken planus rongga mulut, dan beberapa penyakit keturunan seperti diskeratosis kongenital dan epidermolisis bulosa, meskipun kejadiannya sangat jarang.
Etiologi OPMD meliputi kebiasaan merokok, mengunyah tembakau, mengunyah sirih dan konsumsi alkohol. Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2011, Indonesia merupakan salah satu negara dengan prevalensi merokok tertinggi secara global, yaitu sekitar 46,8% pada pria dan 3,1% pada wanita. Merauke merupakan salah satu kota di Indonesia yang terletak di Papua Selatan. Berdasarkan data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) tahun 2018, sebanyak 25,39% penduduk Merauke merokok, yang terdiri dari 63,08% rokok kretek, 49,55% rokok putih dan 31,23% rokok kretek tangan. Selain itu, sekitar 9,55% penduduk memiliki kebiasaan mengunyah tembakau. Konsumsi alkohol juga umum di kalangan masyarakat Merauke, dengan sekitar 22,3% penduduk mengonsumsi alkohol.
Tingginya prevalensi kebiasaan merokok dan mengunyah sirih di Kota Merauke mengindikasikan kemungkinan tingginya kasus OPMD, meskipun kasus tersebut belum terdokumentasi dengan baik. Keadaan ini menunjukkan adanya kesenjangan pengetahuan dokter gigi di Merauke dalam mendiagnosis dini OPMD, mengingat tingginya prevalensi perokok dan pengunyah sirih di kota tersebut yang mengakibatkan minimnya pelaporan kasus OPMD di Indonesia. Pemahaman dokter gigi tentang OPMD terutama diperoleh dari pendidikan formal selama sekolah kedokteran gigi, keikutsertaan dalam seminar, workshop mengenai OPMD dan pengalaman praktik di lapangan. Akan tetapi, cara-cara tersebut mungkin belum cukup memotivasi dokter gigi untuk mempelajari lebih lanjut tentang OPMD. Oleh karena itu, diperlukan metode pembelajaran OPMD yang lebih menarik dan interaktif, salah satu pendekatan tersebut adalah penggunaan mini-game edukasi.
Populasi penelitian ini terdiri dari 8 orang dokter gigi yang tergabung dalam PDGI (Persatuan Dokter Gigi Indonesia) Merauke. Eksperimen dalam penelitian ini diukur sebelum dan sesudah intervensi. Sampel penelitian dibagi secara merata menjadi kelompok kontrol dan intervensi. Kelompok intervensi diberikan Mini Educational Game GIDI-OM (Game for Mini Detection of Oral Malignancies), sedangkan kelompok kontrol diberikan media edukasi OPMD standar berupa booklet yang berisi materi OPMD.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner daring yang diberikan sebelum dan sesudah intervensi untuk menilai perbedaan pengetahuan, sikap, dan perilaku dokter gigi. Kuesioner pengetahuan terdiri dari 19 pertanyaan, sedangkan kuesioner sikap dan perilaku terdiri dari 10 pertanyaan. Kuesioner ini dikembangkan oleh penulis dan konsultan spesialis kedokteran gigi dengan mengacu pada tinjauan pustaka OPMD khusus untuk penelitian ini.
Kelompok yang diberi perawatan GIDI-OM menunjukkan peningkatan pengetahuan yang lebih baik dibandingkan dengan kelompok kontrol. Analisis ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Zaror et al., pada tahun 2021, yang menyatakan bahwa “Permainan Serius” telah terbukti meningkatkan pengetahuan mahasiswa kedokteran dan profesional kesehatan dengan menumbuhkan motivasi untuk pembelajaran proaktif dan permainan interaktif. Disebutkan juga bahwa petugas kesehatan lebih menyukai simulasi dan kuis yang berfokus pada pengembangan pengetahuan dan keterampilan melalui permainan yang menyenangkan daripada metode konvensional seperti buku. Zaror et al., menyatakan bahwa “Permainan Serius” telah efektif dalam pencegahan atau pengobatan berbagai bidang seperti diabetes, asma, kanker, dan kesehatan mental.
Pada kategori sikap dan perilaku, mayoritas responden baik pada kelompok kontrol maupun kelompok intervensi menunjukkan sikap dan perilaku terhadap lesi OPMD berada pada kategori sedang. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Jamali pada tahun 2012 yang meneliti sikap dan perilaku 100 orang dokter gigi, dimana sekitar 61,2% masuk dalam kategori sedang, hanya 16,3% yang masuk dalam kategori tinggi dan sisanya masuk dalam kategori rendah (22,5%). Sikap dan perilaku dokter gigi tersebut secara signifikan mempengaruhi pengambilan keputusan saat mendiagnosis kasus OPMD. Dalam sebuah telaah sistematis, Coppola et al. (2021) menyimpulkan bahwa dokter gigi sering kali merasa bahwa pengetahuannya tidak memadai untuk melakukan skrining lesi prakanker, tetapi mereka menyadari pentingnya peran dokter gigi dalam pencegahan kanker. Ketakutan dalam mengambil keputusan dan memberikan perawatan pada pasien yang diduga menderita OPMD ini bersumber dari faktor-faktor tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa kelompok yang diberikan terapi GIDI-OM menunjukkan peningkatan pengetahuan, sikap, dan perilaku dibandingkan dengan kelompok kontrol yang hanya diberikan media standar seperti booklet. GIDI-OM memberikan manfaat sebagai metode yang menarik bagi dokter gigi untuk meningkatkan kemampuan mendeteksi tanda-tanda awal pasien yang diduga mengalami lesi OPMD. Ke depannya, direkomendasikan agar GIDI-OM dikembangkan lebih lanjut menjadi aplikasi berbasis Android untuk membantu meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku dokter gigi di seluruh dunia dalam mendiagnosis lesi OPMD secara dini.
Penulis: Yeni Puspitasari, Desiana Radithia, Nurina Febriyanti Ayuningtyas, Taufan Bramantoro, Gremita Kusuma Dewi
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami dengan judul “Enhancing Knowledge, Attitude, and Behavior of Merauke’s Dentist to Diagnose OPMD: Assessing the effectiveness of “GIDI-OM” an Educational Mini Game” pada European Journal of Dentistry, 2025 melalui link berikut:
https://medic.upm.edu.my/our_journal/volume_21_2025/mjmhs_vol21_supp_2_may_2025-86845
https://medic.upm.edu.my/upload/dokumen/202506101105158-0177_FINAL.pdf





