Universitas Airlangga Official Website

Terapi Sensori Integrasi Berbasis Sekolah Dalam Memperbaiki Masalah Emosi Dan Perilaku Anak Dengan Gejala ADHD

sumber: nutriclub
sumber: nutriclub

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah gangguan perkembangan saraf yang umumnya ditemukan secara global. Gejala ADHD ada pada kontinum yang dapat berfluktuasi selama perkembangan, sehingga dimungkinkan untuk menyajikan gambaran gejala ADHD yang mencapai ambang diagnostik pada satu titik waktu tetapi tidak pada titik lain (1). Perkembangan penelitian dan data terbaru menunjukkan bahwa kompleksitas gangguan perkembangan saraf di otak ini juga menyebabkan sensitivitas berlebihan dan gangguan pemrosesan rangsangan sensorik (2). Gangguan ini juga disebut Sensory Processing Disorder (SPD) yang mempengaruhi emosi dan perilaku (3,4) dan berdampak pada fungsi sehari-hari, kognitif, kesejahteraan mental, interaksi sosial, kemampuan beradaptasi dan dapat menyebabkan gangguan mental komorbid lainnya pada individu dengan ADHD (5–7).

Analisis penelitian di Afrika, Spanyol, Cina dan Amerika menemukan prevalensi ADHD 4% -11,4% (8,9) dan penelitian di beberapa kota di Indonesia menemukan prevalensi ADHD sebesar 3%-26,2% (10,11). Beberapa penelitian juga menemukan gejala ADHD subklinis (orang dengan gejala ADHD yang tidak memenuhi kriteria diagnostik klinis) pada 0,8% -23,1% dari populasi anak dan remaja global (12,13). Disregulasi emosi ditemukan pada 25-45% anak dengan ADHD  (14), dengan prevalensi depresi seumur hidup 45-55% dan gangguan bipolar 21,2%, di mana komorbiditas ini semakin mengurangi kualitas hidup pada individu ADHD (15,16).

ADHD ditandai dengan 3 kelompok gejala, yaitu kurang perhatian, hiperaktif-impulsivitas  (17). Gejala ADHD sering ditemukan pada anak usia sekolah dan biasanya mereka mengalami kesulitan belajar dari tahap sekolah dasar (18) yang sering menjadi alasan anak-anak dibawa ke klinik psikologi dan psikiatri (9). Selain itu, anak dengan gejala ADH rentan mengalami masalah emosional dan perilaku karena gangguan regulasi emosi (19,20). Selain itu, orang tua cenderung enggan memberikan terapi obat kepada anak-anak mereka karena khawatir akan efek samping (21). Oleh karena itu, diperlukan terapi yang dapat membantu pemrosesan sensorik yang dapat meningkatkan emosi dalam upaya mencegah gangguan mood pada anak ADHD.

Terapi Sensori Integrasi adalah jenis terapi okupasi yang awalnya dikembangkan sebagai terapi untuk anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) dan menunjukkan perbaikan gejala (22–24). Penelitian sebelumnya tentang efek terapi Sensori Integrasi menunjukkan penurunan lekas marah/agresi pada anak-anak ASD dengan ADHD komorbid (25), kognisi, perilaku, perawatan diri, fungsi sosial dan pencapaian tujuan orang tua pada anak ASD (26–28). Terapi Sensori Integrasi akan dapat meningkatkan pemrosesan rangsangan sensorik dan emosional yang juga dapat memperbaiki tiga gejala klasik ADHD, meningkatkan kemampuan beradaptasi, kesehatan mental, dan kesejahteraan mental (29,30).

Intervensi berbasis sekolah telah dikenal sebagai upaya untuk mempromosikan kesehatan mental dan kesejahteraan serta mencegah gangguan mental (31). Dukungan sekolah dalam terapi untuk anak-anak ADHD cukup umum karena gangguan kinerja akademik dan perilaku yang mengganggu lingkungan (32). Oleh karena itu, menggabungkan Terapi Sensori Integrasi dalam intervensi berbasis sekolah memainkan peran penting dalam menumbuhkan kesehatan mental dan kesejahteraan (31,33).

Penelitian ini merupakan proyek percontohan yang bertujuan untuk menilai kemanjuran terapi Sensory Integration dalam meningkatkan emosi anak dengan gejala ADHD di lingkungan sekolah di Indonesia.

Bahan dan Metode

            Penelitian ini merupakan uji coba terkontrol acak, pre-post test dengan desain kelompok kontrol, non blinding. Penelitian dilakukan di sebuah sekolah dasar di Surabaya, Indonesia yang membutuhkan pemeriksaan terhadap anak dengan gangguan belajar berupa masalah konsentrasi dan hiperaktif.  Kami menggunakan teknik pengambilan sampel total di mana setiap anak yang memenuhi kriteria inklusi dimasukkan dalam penelitian ini.

Setelah izin etik (183/EC/KEPK/FKUA/2023), penelitian dimulai dengan meminta persetujuan dari kepala sekolah, guru, orang tua dan anak untuk disaring ADHD. Singkatan Conners’ Teacher Rating Scale (ACTRS), alat skrining ADHD yang dapat digunakan di lingkungan sekolah dengan sensitivitas 90%, digunakan. Terdiri dari 10 soal skala Likert bagi guru untuk mengevaluasi kondisi anak dalam jangka waktu 6 bulan.

Kriteria inklusi tersebut adalah sebagai berikut: (1) siswa kelas 3 dan 4, (2) dapat berkomunikasi dengan baik, (3) disaring dengan kuesioner Abbreviated Conners’ Teacher Rating Scale (ACTRS) memiliki skor 12 ke atas, (4) orang tua/wali dan subjek memahami tujuan dan prosedur penelitian yang telah dijelaskan oleh peneliti (informasi untuk persetujuan) (5) bersedia menjadi subjek penelitian dan menandatangani formulir informed consent.

Kriteria pengecualian adalah sebagai berikut: (1) menderita penyakit fisik yang serius, (2) menjalani terapi farmakologis untuk gangguan mental yang didiagnosis, (3) memiliki riwayat epilepsi, keterlambatan perkembangan global, dan kelainan bawaan.

Kriteria putus sekolah adalah sebagai berikut: (1) subjek tidak dapat menghadiri terapi dua kali berturut-turut, (2) subjek mengalami insiden yang mengakibatkan cedera serius atau memiliki penyakit serius selama penelitian yang menghambat intervensi, (3) subjek mengalami peningkatan gejala yang membutuhkan terapi farmakologis, (4) subjek dan/atau keluarga/wali subjek menolak untuk terus berpartisipasi dalam penelitian kapan saja.

Terapi Sensori Integrasi berbasis sekolah dilakukan dua mingguan selama 4 minggu ke kelompok intervensi. Kelompok kontrol akan berada dalam pengamatan tanpa intervensi apa pun. Penelitian dilakukan bersama tim sebagai bagian dari penelitian kolaboratif.

Dari 120 anak yang disaring, 14 anak memenuhi kriteria. Semua orang tua subjek diminta untuk mengisi Strength and Difficulties Questionaire (SDQ). SDQ adalah 25 pertanyaan skala Likert untuk mengevaluasi emosi, perilaku dan kondisi hubungan anak dalam jangka waktu 6 bulan dan banyak digunakan untuk anak ADHD. Pengukuran SDQ dilakukan sebelum dan sesudah terapi.

Subjek dibagi secara acak menjadi kelompok kontrol dan perlakuan dengan menetapkan angka untuk setiap subjek dan mengundi.

Analisis statistik menggunakan uji McNemar untuk mengukur peningkatan data nominal kategori abnormal/normal setelah terapi dibandingkan sebelum terapi.

Perbandingan analisis skor sebelum dan sesudah dimulai dengan penentuan distribusi data menggunakan uji Shapiro-Wilk, dengan data distribusi normal dianalisis lebih lanjut menggunakan uji t berpasangan dan distribusi data non normal yang dianalisis menggunakan uji Wilcoxon.

Perbandingan intervensi dan analisis skor kelompok kontrol dimulai dengan penentuan distribusi data menggunakan uji Shapiro-Wilk, dengan data distribusi normal dianalisis lebih lanjut menggunakan dua sampel uji-t dan distribusi data non normal yang dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney.

Hasil

Dari 120 anak yang disaring, 14 anak memenuhi kriteria. Informasi lebih lanjut untuk persetujuan diberikan kepada orang tua dan anak mengenai penelitian yang akan mengukur kemanjuran terapi Sensori Integrasi dalam meningkatkan emosi anak dengan ADHD. Semua 14 subjek dan orang tua setuju dan menandatangani persetujuan. Orang tua mengisi kuesioner SDQ sebelum dan sesudah intervensi. Tidak ada subjek yang putus selama penelitian.

Karakteristik Subjek Penelitian

Subjek penelitian memiliki rentang usia 9-10 tahun. Subjek berusia 9 tahun adalah 1 anak dan usia 10 tahun adalah 13 anak (92,9%). Setelah pembelahan dilakukan, pada kelompok kontrol terdapat 7 anak (100%) berusia 10 tahun dan pada kelompok perlakuan terdapat 6 anak (85,7%) berusia 10 tahun dan 1 anak (14,3%) berusia 9 tahun.

 Ada 10 anak (71,4%) laki-laki dan 4 anak (28,6%) perempuan. Setelah pembelahan dilakukan, pada kelompok kontrol terdapat 7 anak (100%) laki-laki dan pada kelompok perlakuan terdapat 3 anak (42,9%) laki-laki dan 4 anak (57,1%) perempuan. Semua subjek penelitian mengikuti penelitian sampai akhir.

Analisis Kondisi Emosional Anak dengan Gejala ADHD Sebelum dan Sesudah Terapi Sensori Integrasi

Pada kelompok kontrol, tidak ada perubahan kategori pada SDQ (semua tetap dalam kategori abnormal). Pada kelompok perlakuan, ada kecenderungan perubahan SDQ dari kategori abnormal ke normal pada subskala masalah emosional (83,3%), masalah perilaku (66,7%), hiperaktif-kurang perhatian (66,7%), masalah teman sebaya (25%), dan domain kesulitan (60%). Dari hasil analisis statistik menggunakan uji McNemar, ditemukan bahwa hasilnya tidak berbeda secara signifikan (p >=0,05) pada semua data sebelum dan sesudah kelompok kontrol dan perlakuan.

Analisis statistik dilakukan untuk membandingkan data skor sebelum dan sesudah untuk masing-masing kelompok. Sebelum analisis statistik dilakukan, uji normalitas distribusi data dilakukan dengan menggunakan uji Shapiro-Wilk. Data dengan distribusi normal (p >=0,05), kemudian dianalisis menggunakan uji-t berpasangan untuk membandingkan perbedaan data antara sebelum dan sesudah. Data dengan distribusi non-normal (p <0,05) kemudian dianalisis menggunakan uji Wilcoxon.

Dari hasil data uji normalitas pada selisih skor sebelum dan sesudah, ditemukan bahwa distribusi data tidak normal (p <0,05) pada perbedaan skor SDQ di seluruh domain-subskala kelompok kontrol. Selanjutnya, hasil analisis perbedaan skor sebelum dan sesudah pada kelompok perlakuan menunjukkan bahwa distribusi tidak normal (p <0,05) pada perbedaan skor pada subskala SDQ masalah teman sebaya dan prososial, sedangkan domain kesulitan dan setiap subskala (masalah emosional, masalah perilaku, hiperaktif-kurang perhatian, masalah teman sebaya) memiliki distribusi normal (p >=0,05).

 Median (minimum-maksimum) Rata-rata ± Standar Deviasi
PratesPasca-tesNilai P
Grup kontrolMasalah emosional SDQ5 (3-6)5 (4-6)0,317 a
Masalah perilaku SDQ3 (1-5)3 (1-5)1.000 a
SDQ hiperaktif-inatensi5 (5-7)6 (5-7)0,317 a
Masalah rekan SDQ2 (1-4)2 (1-4)1.000 a
Domain kesulitan SDQ16 (11-20)16 (12-20)0,157 a
SDQ prososial6 (5-8)6 (5-8)1.000 a
Kelompok intervensiMasalah emosional SDQ6,43 ± 1,3973,43 ± 1,9020,002 b
Masalah perilaku SDQ 2,86 ± 2,8541,86 ± 1,7730,062 b
SDQ hiperaktif-inatensi5,57 ± 1,7183,57 ± 1,8130,006 b
Masalah rekan SDQ5 (0-7)3 (0-6)0,102 a
Domain kesulitan SDQ18,71 ± 6,15712,14 ± 5,9000,001b
SDQ prososial7 (1-10)9 (1-10)0,317 a
a= Tes Wilcoxon            b = uji-t berpasangan
Tabel 1. Perbandingan kondisi emosional sebelum dan sesudah Terapi Sensori Integrasi

Analisis data dengan distribusi non-normal pada kelompok kontrol menggunakan uji Wilcoxon menunjukkan bahwa hasilnya tidak berbeda secara signifikan (p >=0,05) pada seluruh item yang diuji, yaitu perbedaan skor SDQ untuk domain kesulitan dan masing-masing subskalanya (masalah emosional, masalah perilaku, hiperaktif-kurang perhatian, masalah teman sebaya) dan perbedaan skor subskala prososial SDQ. Analisis data dengan distribusi non-normal pada kelompok perlakuan menggunakan uji Wilcoxon menunjukkan bahwa hasilnya tidak berbeda secara signifikan (p >=0,05) dalam perbedaan skor SDQ untuk masalah teman sebaya dan subskala prososial tetapi menunjukkan hasil yang berbeda secara signifikan (p <0,05) dalam data perbedaan.

Analisis data dengan distribusi normal pada kelompok perlakuan menggunakan uji-t berpasangan menunjukkan bahwa hasilnya tidak berbeda secara signifikan (p >=0,05) dalam perbedaan skor SDQ untuk masalah perilaku, masalah teman sebaya, dan subskala prososial; Uji-t berpasangan pada data tentang perbedaan skor pada subskala masalah emosional SDQ, hiperaktif-kurang perhatian, domain kesulitan menunjukkan hasil yang berbeda secara signifikan (p <0,05).

Analisis Kondisi Emosional Anak dengan Gejala ADHD antara Kelompok Kontrol dan Pengobatan

Analisis statistik dilakukan untuk membandingkan data antara kelompok kontrol dan perlakuan. Sebelum analisis statistik dilakukan, uji normalitas distribusi data dilakukan dengan menggunakan uji Shapiro-Wilk. Data dengan distribusi normal (p >=0,05), kemudian dianalisis menggunakan dua sampel uji-t untuk membandingkan perbedaan data antara kelompok kontrol dan perlakuan. Data dengan distribusi non-normal (p <0,05) pada satu atau kedua kelompok, kemudian dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney.

Berdasarkan uji normalitas untuk distribusi data kelompok kontrol dan perlakuan, ditemukan bahwa distribusi tidak normal (p <0,05) pada skor SDQ untuk subskala hiperaktif-kurang perhatian, masalah teman sebaya, dan domain kesulitan, sedangkan skor SDQ untuk masalah emosional, masalah perilaku, dan prososial memiliki distribusi normal (p >=0,05).

 Median (minimum-maksimum) Rata-rata ± Standar Deviasi
Grup kontrolKelompok intervensiNilai P
PratesMasalah emosional SDQ4,71 ± 1,1136,43 ± 1,3970,026 a
Masalah perilaku SDQ3,00 ± 1,5282,86 ± 2,8650,909 a
SDQ hiperaktif-inatensi5 (5-7)5 (4-8)0,642 b
Masalah rekan SDQ2 (1-4)5 (0-7)0,155 b
Domain kesulitan SDQ16 (11-20)22 (10-24)0,223 b
SDQ prososial6,57 ± 1,1346,43 ± 3,2590,915 a
Perbedaan skorMasalah emosional SDQ0 (0-1)-3 (-5-(-1))0,001 b
Masalah perilaku SDQ0 (0-0)-1 (-3-0)0,025 b
SDQ hiperaktif-inatensi0 (0-1)-2 (4-0)0,003 b
Masalah rekan SDQ0 (0-0)0 (-2-0)0,061 b
Domain kesulitan SDQ0 (0-1)-6(-11- (-3))0,001 b
SDQ prososial0 (0-0)0 (0-2)0,317 b
A = dua sampel uji-t b = Tes Mann-Whitney
Tabel 2. Perbandingan kondisi emosional antara kelompok kontrol dan intervensi

Dua sampel uji-t pada data perbandingan antara kelompok kontrol dan perlakuan sebelum terapi menunjukkan bahwa hasilnya berbeda secara signifikan (p <0,05) pada skor SDQ pada subskala masalah emosional, dan tidak berbeda secara signifikan (p >=0,05) pada skor SDQ pada subskala masalah perilaku, dan prososial.  Tes Mann-Whitney pada data perbandingan antara kelompok kontrol dan perlakuan sebelum terapi menunjukkan bahwa hasilnya tidak berbeda secara signifikan (p >=0,05) pada skor subskala SDQ dari domain hiperaktif-kurang perhatian, masalah teman sebaya, dan kesulitan.

Tes Mann-Whitney pada data perbandingan untuk kelompok kontrol dan pengobatan menunjukkan perbedaan yang signifikan (p <0,05) dalam perbedaan skor subskala SDQ untuk masalah emosional, masalah perilaku, hiperaktif-kurang perhatian dan domain kesulitan. Tes Mann-Whitney pada data perbandingan untuk kelompok kontrol dan perlakuan menunjukkan bahwa hasilnya tidak berbeda secara signifikan (p >=0,05) dalam perbedaan antara skor SDQ untuk subskala masalah sebaya dan prososial.

Diskusi

Sekitar 25-45% anak-anak ADHD memiliki gangguan regulasi emosional dan cenderung mengekspresikan emosi yang berlebihan, tidak sesuai dengan konteks sosial atau tahap perkembangan (14). Hal ini dapat disebabkan oleh masalah pemrosesan sensorik dan dapat berkembang menjadi masalah emosional dan perilaku, terutama pada anak yang cenderung menginternalisasi emosi, terutama anak perempuan (27,34,35).

Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa ada lebih banyak subjek laki-laki daripada subjek perempuan (10 pria, 4 wanita). Hal ini bisa jadi karena munculnya gejala ADHD pada anak perempuan lebih sulit dideteksi karena anak perempuan masih dapat mengkompensasi dan tidak mengalami gangguan fungsional (35). Gejala ADHD pada anak perempuan seringkali hanya muncul ketika kondisi emosional dengan penampilan yang mirip dengan depresi dan kecemasan ditemukan (35,36). Dalam penelitian sebelumnya, selama masa kanak-kanak, lebih banyak anak laki-laki yang didiagnosis menderita ADHD daripada anak perempuan (rasionya bervariasi antara 2:1 hingga 10:1), dan anak perempuan kemudian didiagnosis dengan ADHD pada masa remaja hingga dewasa (9,36,37). Orang tua dan guru mungkin kurang mampu menilai gejala internalisasi yang sering dikompensasi atau ditutupi pada anak perempuan dan hanya terdeteksi pada anak perempuan yang menunjukkan gejala eksternalisasi (38,39). Skrining dalam penelitian ini menggunakan ACTRS yang dinilai oleh guru, namun beberapa penelitian menunjukkan hasil yang beragam mengenai kemampuan guru dalam mendeteksi gejala ADHD, terutama subtipe kurang perhatian yang lebih sering terjadi pada anak perempuan; Beberapa penelitian lebih memilih kuesioner laporan diri untuk mengidentifikasi gejala internalisasi dan kurangnya perhatian yang lebih sering terjadi pada wanita  (35,39). Ketika masalah emosional dan eksternalisasi ditemukan, gejala ADHD pada anak perempuan lebih terdeteksi, yang menjelaskan mengapa subjek wanita dalam penelitian ini cenderung memiliki masalah emosional yang lebih tinggi daripada subjek pria (Attoe & Climie, 2023; Mowlem et al., 2019a).

Dalam penelitian ini, perbaikan emosi dan masalah perilaku anak dengan gejala ADHD setelah terapi Sensori Integrasi pada kelompok intervensi dibandingkan dengan sebelum terapi, serta jika dibandingkan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol menunjukkan peningkatan emosi dan masalah perilaku anak. Terapi Sensori Integrasi dalam bentuk permainan sensorimotor memberikan stimulus dan melatih anak untuk merespons sensasi, mengurangi kesusahan, meningkatkan konsentrasi, keterampilan motorik, respons adaptif dan meningkatkan hubungan (24). Modulasi keadaan fisiologis, pengalaman/psikologis dan perilaku/ekspresif emosi dalam terapi Sensori Integrasi dapat memberikan peningkatan emosi dan gejala ADHD (30,40,41). Dalam terapi Sensori Integrasi, latihan dalam bentuk permainan dapat membantu mengurangi kepekaan berlebihan terhadap rangsangan, meningkatkan pemrosesan sensorik dan evaluasi lingkungan sehingga mengurangi respons emosional (42). Selain itu, peningkatan emosional memengaruhi respons yang lebih adaptif terhadap rangsangan dan meningkatkan perilaku, gejala, dan hubungan sosial (18,30,42).

Sepengetahuan peneliti, belum ada penelitian sebelumnya yang menguji efek terapi Sensori Integrasi berbasis sekolah terhadap perbaikan emosi dan masalah perilaku anak dengan gejala ADHD di Indonesia. Temuan dari penelitian ini, terapi Sensory Integration dapat dilakukan di sekolah dalam bentuk permainan yang dapat diterapkan dengan pelatihan sederhana, dan berdampak signifikan pada perbaikan emosi dan masalah perilaku anak dengan ADHD.

Untuk lebih detail dapat diunduh di

https://medicalforummonthly.com/index.php/mfm/article/view/5210