Pariwisata halal menjadi sektor dinamis akibat pertumbuhan industri halal, memenuhi kebutuhan wisatawan Muslim yang mencari pengalaman sesuai prinsip Islam. Konsep halal—yang merujuk pada yang diizinkan dalam Islam—tidak hanya diminati di negara mayoritas Muslim, tetapi juga menarik wisatawan global. Permintaan mencakup layanan komprehensif seperti akomodasi, kuliner, dan perawatan kesehatan yang sesuai syariat, sekaligus mendorong pariwisata etis berbasis keberlanjutan dan pelestarian budaya. Proyeksi menunjukkan lonjakan wisatawan Muslim dari 40 juta (2018) menjadi 230 juta (2026), menciptakan peluang bisnis untuk pengembangan layanan khusus seperti makanan halal, fasilitas salat, dan layanan peka budaya.
Dewan Ekonomi Nasional (KNEKS) menetapkan pariwisata sebagai penggerak utama ekonomi Indonesia, dengan kunjungan wisatawan asing meningkat 67% sejak 2014. Indonesia menjadi pemimpin pariwisata halal global, meraih peringkat teratas dalam GMTI 2023, meski menghadapi tantangan akibat keragaman interpretasi praktik halal. Pulau Lombok menjadi contoh integrasi nilai Islam dengan budaya lokal, didukung inisiatif seperti Desa Wisata Setanggor yang menggabungkan pariwisata halal dengan pelestarian budaya Sasak dan pariwisata berkelanjutan.
Desa Setanggor menghadapi tantangan dalam mengintegrasikan budaya Sasak dengan pariwisata halal, meskipun ada upaya menjadikannya destinasi unggulan. Permasalahan utamanya adalah kurangnya strategi terpadu untuk menggabungkan tradisi lokal dengan kerangka wisata halal, membutuhkan kolaborasi semua pemangku kepentingan. Penelitian sebelumnya fokus pada layanan dasar halal (makanan, akomodasi, fasilitas ibadah), tetapi kurang mengeksplorasi integrasi warisan budaya lokal. Studi ini mengusulkan strategi inovatif untuk menyatukan budaya Sasak dengan prinsip pariwisata halal, menciptakan model holistik yang mendukung keberlanjutan dan pelestarian budaya. Temuan penelitian memberikan kerangka kerja untuk destinasi kaya budaya, rekomendasi kebijakan berbasis bukti, serta panduan bagi pengembangan pariwisata halal yang peka budaya dan agama.
Pariwisata halal
Pariwisata halal mengintegrasikan prinsip-prinsip Islam ke dalam pengalaman perjalanan, menawarkan layanan sesuai syariah dengan akses universal. Konsep ini menekankan kesejahteraan holistik, spiritual, dan penghindaran unsur bertentangan syariah. Elemen utamanya meliputi fasilitas salat, makanan bersertifikat halal, dan akomodasi ramah Muslim (penunjuk kiblat, area terpisah gender). Kualitas SDM dan sertifikasi menjadi kunci, mencakup pelatihan staf, standar layanan syariah, serta verifikasi makanan dan akomodasi halal. Dampaknya meluas ke ekonomi dan budaya, menciptakan lapangan kerja, memajukan UMKM, serta melestarikan warisan Islam sekaligus mempromosikan toleransi. Meski ditujukan untuk Muslim, pariwisata halal menarik pasar luas berkat prinsip universal seperti kebersihan, kenyamanan, dan etika.
Perkembangan global pariwisata halal
Pariwisata halal telah berkembang dari segmen khusus menjadi kekuatan ekonomi global, dengan valuasi pasar diproyeksikan meningkat dari US$200 miliar (2022) menjadi US$300 miliar (2026). Pertumbuhan ini didorong oleh kelas menengah Muslim yang semakin makmur dan berkomitmen pada prinsip halal. Malaysia memimpin dengan infrastruktur halal yang mapan, sementara Indonesia, Turki, serta negara non-Muslim seperti Jepang dan Korea Selatan semakin aktif mengembangkan layanan wisata halal.
Revolusi digital telah mengubah pariwisata halal melalui aplikasi pencari makanan halal, platform akomodasi syariah, panduan wisata AI, dan blockchain untuk transparansi sertifikasi halal. Standardisasi global juga berkembang, dengan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) menyusun pedoman untuk hotel syariah dan layanan makanan halal. Inovasi terkini mencakup pariwisata halal ramah lingkungan dan segmen premium yang menarik tidak hanya wisatawan Muslim tetapi juga non-Muslim yang mengutamakan praktik perjalanan etis dan berkelanjutan. Dengan dukungan teknologi, standarisasi, dan keberlanjutan, pariwisata halal terus mengubah lanskap pariwisata global secara permanen.
Potensi budaya Sasak dalam pariwisata halal
Masyarakat Sasak di Lombok mempertahankan warisan budaya kaya dengan sistem patrilineal dan tiga kelas sosial (menak, biasa, jajar karang), namun tetap menjaga kohesi sosial. Mereka menggabungkan Islam dengan tradisi leluhur, terlihat dalam upacara seperti Perang Topat, serta seni seperti tari Gandrung, gamelan, dan tenun ikat. Sebagai komunitas Muslim mayoritas, Lombok menawarkan lingkungan ideal untuk wisata halal dengan kuliner khas (ayam taliwang, plecing kangkung) dan arsitektur tradisional yang bisa diadaptasi untuk akomodasi ramah Muslim. Studi perbandingan menunjukkan Lombok berpotensi mengembangkan pariwisata halal unik yang memadukan budaya Sasak dengan kebutuhan wisatawan Muslim global, serupa kesuksesan destinasi seperti Kyoto dan Bhutan. Dengan perencanaan tepat, Lombok bisa menjadi tujuan wisata halal utama yang mempertahankan identitas budayanya.
Quadruple helix
Model quadruple helix memperluas konsep triple helix dengan menambahkan peran masyarakat sebagai pilar keempat dalam menghadapi tantangan kompleks pariwisata halal. Model ini menekankan kolaborasi antara akademisi, industri, pemerintah, dan masyarakat untuk mendorong inovasi dan pertumbuhan berkelanjutan. Dalam pariwisata halal, pendekatan ini memfasilitasi pengembangan solusi inovatif melalui sinergi multidimensi, meningkatkan daya saing dan keberlanjutan destinasi wisata halal.
Penelitian ini menggunakan metodologi proses jaringan analitis (ANP) yang canggih untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menganalisis secara sistematis jaringan faktor-faktor yang kompleks yang memengaruhi integrasi budaya Sasak dalam kerangka pariwisata halal Desa Setanggor. Untuk memastikan pengumpulan data yang komprehensif dan analisis yang kuat, pendekatan metode campuran yang menggabungkan teknik kuantitatif dan kualitatif diterapkan. Ini termasuk kuesioner terstruktur untuk pengumpulan data sistematis, diskusi kelompok fokus untuk wawasan kolektif, wawancara mendalam untuk perspektif pemangku kepentingan yang terperinci, dan studi observasional langsung untuk pemahaman konteks dunia nyata.
Penelitian konseptual ini mengungkap kesenjangan penelitian yang signifikan dalam pemahaman terkini tentang pengembangan pariwisata halal di Desa Setanggor. Penelitian ini menyajikan kerangka strategis yang mengidentifikasi dan memprioritaskan elemen-elemen penting yang diperlukan untuk keberhasilan integrasi. Temuan ini menyoroti prioritas penting yang harus ditangani untuk memastikan pertumbuhan berkelanjutan dan kelangsungan jangka panjang pariwisata halal di wilayah tersebut sambil melestarikan nilai-nilai budaya Sasak yang autentik.
Penulis: Prof. Dr. Ririn Tri Ratnasari, SE., M.Si.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Sari, P. R. K., Wardani, R., Mutia, G. R., Amri, S., & Ratnasari, R. T. (2025). Halal tourism and Sasak culture: ANP approach. Journal of Islamic Marketing.





