Universitas Airlangga Official Website

Kontaminasi Mikroplastik pada Kerang Hijau

Ilustrasi komunitas kerang (Foto: lifestyle okezone.com)
Ilustrasi komunitas kerang (Foto: lifestyle okezone.com)

Permintaan tahunan untuk plastik dan berbagai jenisnya telah meningkat seiring dengan pertumbuhan populasi global. Peningkatan produksi plastik akan menyebabkan peningkatan jumlah sampah plastik yang dihasilkan. Pada tahun 2018, dunia menghasilkan 360 juta ton sampah plastik, dengan proyeksi peningkatan menjadi 500 juta ton pada tahun 2025. Temuan terbaru menunjukkan bahwa 10% dari sampah plastik tersebut pada akhirnya berakhir di lautan. Pada tahun 2024, sampah plastik di Indonesia menempati peringkat kedua setelah sampah makanan, dengan total 19,71%. Sampah plastik dapat terdegradasi menjadi partikel kecil berukuran kurang dari 5 mm, yang dikenal sebagai mikroplastik (MPs).

Di Indonesia, kerang hijau (Perna viridis) melimpah di kawasan mangrove, muara, pelabuhan, dan perairan pesisir, termasuk pesisir Jawa Timur. Beberapa pasar ikan tradisional di Jawa Timur, termasuk Banyuurip Gresik, Lumpur Gresik, Kalanganyar Sidoarjo, Lekok Pasuruan (LK), dan Muncar Banyuwangi, menjual kerang hijau. Kerang hijau yang dijual di pasar-pasar ini bersumber dari budidaya kerang hijau yang berdekatan dengan pasar tradisional tersebut.

Kerang hijau hidup berkelompok dan menempel pada substrat keras, termasuk bambu, tali budidaya, kayu, dan batu. Kerang hijau menunjukkan perilaku pemijahan sepanjang tahun, dengan puncak yang signifikan terjadi pada bulan April, Mei, Agustus, dan November. Para pembudidaya kerang hijau menunjukkan bahwa panen kerang hijau di sepanjang pesisir Jawa Timur dapat terjadi terus menerus sepanjang tahun.

Kerang hijau adalah organisme penyaring makanan yang memperoleh makanannya dengan menyaring partikulat di dalam air, termasuk fitoplankton, detritus, diatom, dan bahan organik tersuspensi lainnya. Laju filtrasi mereka sekitar 24 liter/hari. Akibat perilaku makan ini, kerang hijau cenderung mengonsumsi partikel berbahaya, termasuk mikroplastik. Itulah sebabnya kerang hijau sering digunakan untuk biomonitoring polutan di perairan pesisir dan laut.

Kerang hijau merupakan makanan laut yang sering dijual di pasar makanan laut tradisional di Indonesia. Kerang hijau merupakan sumber nutrisi murah bagi masyarakat setempat. Komposisi nutrisi jaringan kerang hijau terdiri dari 40% air, 21,9% protein, 14,5% lemak, 18,5% karbohidrat, dan 4,3% abu.

Kerang hijau yang dijual di pasar makanan laut tradisional telah terdokumentasi mengandung mikroplastik. Penelitian yang dilakukan pada kerang hijau yang dijual di pasar tradisional di Thailand menunjukkan kelimpahan mikroplastik sebesar 7,32 ± 8,33 partikel per individu atau 1,53 ± 2,04 butir per gram, dengan jenis fragmen dominan mencapai 75,4%. Di pasar Korea, Mytilus edulis menunjukkan kelimpahan mikroplastik sebesar 0,12 ± 0,11 partikel/gram. Nilai ini lebih rendah dibandingkan kelimpahan mikroplastik kerang hijau yang dijual di pasar ikan Kedonganan di Bali, Indonesia, yang sekitar 5,37 ± 1,07 butir/gram. Hal ini menunjukkan bahwa kerang yang dijual secara komersial di pasar sebagai makanan laut untuk konsumsi mengandung mikroplastik. Kerang biasanya dikonsumsi utuh, sehingga mengakibatkan tertelannya mikroplastik yang terkandung di dalamnya oleh manusia. Konsumsi kerang yang terkontaminasi mikroplastik dapat berdampak buruk bagi kesehatan manusia, yang menyebabkan gangguan peredaran darah, masalah pencernaan, masalah reproduksi, komplikasi pernapasan, stres oksidatif, dan berpotensi kanker. Berbagai efek ini muncul akibat keberadaan berbagai polimer dan zat aditif dalam mikroplastik. Zat aditif yang dilepaskan dari mikroplastik dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan manusia melalui konsumsi kerang.

Kerang hijau yang dijual di pasar ikan tradisional di Jawa Timur, Indonesia, kemungkinan terkontaminasi mikroplastik. Hal ini disebabkan oleh habitatnya di perairan pesisir, yang sangat terpengaruh oleh aktivitas manusia, termasuk praktik domestik, industri, dan pertanian. Keberadaan mikroplastik dalam tubuh kerang hijau menimbulkan risiko signifikan terhadap ketahanan pangan dan, akibatnya, berdampak negatif terhadap kesehatan manusia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi keberadaan mikroplastik dalam kerang hijau yang diperoleh dari lima pasar ikan tradisional di pesisir Jawa Timur, serta potensi bahaya kesehatan yang terkait dengan konsumsi mikroplastik melalui kerang hijau.

Studi ini menyelidiki kontaminasi mikroplastik pada kerang hijau yang dikumpulkan dari lima pasar ikan tradisional di sepanjang pantai Jawa Timur, Indonesia, dan menilai risiko kesehatan terkait bagi manusia dari mengonsumsi kerang ini. Temuan menunjukkan bahwa mikroplastik, diidentifikasi sebagai jenis serat dan fragmen, dalam warna hitam dan merah, dengan ukuran <100 µm dan 100 – <500 µm, adalah yang paling umum pada kerang hijau. Kerang hijau dari pantai Jawa Timur, terlepas dari ukurannya, menunjukkan jumlah mikroplastik yang sama. Nilai indeks bahaya polimer kerang hijau yang dikumpulkan dari pasar ikan tradisional dapat diklasifikasikan dalam kategori bahaya 860 (III = tinggi) hingga 1980 (IV = sangat tinggi). Berbagai senyawa kimia berbahaya dan polimer merugikan yang umum digunakan dalam produksi plastik terdeteksi dalam jaringan kerang hijau melalui analisis FTIR dan GCMS.

Penulis: Agoes Soegianto

Disarikan dari artikel berikut:

Soegianto, A., Putranto, T.W.C., Affandi, M., Imamah, S.W Jamlean, S.A., Khairunnisak, Mukholladun, W., Payus, C.M., 2025. Microplastic contamination in green mussels (Perna viridis Linnaeus, 1758) collected from the traditional fish markets along the East Java coast of Indonesia and the associated risk assessment. Environmental Toxicology and Pharmacology 118 (2025) 104762. https://doi.org/10.1016/j.etap.2025.104762