Universitas Airlangga Official Website

Risiko dan Manfaat Pengenalan Sapi Belgian Blue Berotot Ganda ke dalam Peternakan Iklim Tropis Indonesia

Ilustrasi sapi Belgian Blue (Foto: agropustaka)
Ilustrasi sapi Belgian Blue (Foto: agropustaka)

Indonesia merupakan negara berkembang yang berada  di daerah tropis, mengalami peningkatan konsumsi daging setiap tahun seiring dengan peningkatan pertumbuhan populasi, peningkatan tingkat pendidikan, pendapatan serta perubahan preferensi masyarakat. Peningkatan konsumsi daging tersebut merupakan tantangan pemerintah dalam upaya swasembada produk daging sapi. Menurut BPS tahun 2023, produksi daging sapi dan kerbau lokal tercatat defisit sebesar 374,1 ribu ton, hal ini karena produksi dalam negeri hanya mencapai 442,69 ribu ton dibandingkan dengan total kebutuhan sebesar 816,79 ribu ton.

Peningkatan kuantitas dan kualitas produk daging sapi secara nasional merupakan tantangan tersendiri untuk mengurangi ketergantungan pada daging sapi impor. Pemerintah telah melakukan berbagai kebijakan dalam mewujudkan swasembada daging diantaranya program pemuliaan melalui IB dan persilangan dengan Program Swasembada Daging Sapi (2001-2005) dengan sistem feedlot serta program Sapi Indukan Wajib Bunting (UPSUS SIWAB) pada tahun 2016 yang mempunyai tujuan meningkatkan populasi sapi dengan menggunakan dua sistem perkawinan yaitu Inseminasi Buatan (IB) dan kawin alam.

Tentu, bukan hanya membutuhkan kualitas indukan yang bagus, tetapi fertilitas pejantan juga memiliki peran sangat penting dalam keberhasilan program tersebut. Selain itu, peningkatan kualitas daging sapi di Indonesia juga ditentukan oleh kualitas pakan. Salah satu tantangan utama dalam pemberian pakan ternak di daerah pedesaan adalah kurangnya energi yang dapat dicerna oleh ternak, sehingga perlu suplementasi pada pakan untuk memenuhi kebutuhan energi hewan. contohnya adalah penggemukan sapi bali jantan di peternakan kecil dengan pemberian suplemen daun lamtoro, rumput gajah, batang pisang dll.

Salah satu langkah yang dilakukan pemerintah Indonesia dalam upaya keberhasilan program-program swasembada daging tersebut adalah dengan memperkenalkan sapi Belgian Blue (BB) berotot ganda yang dimulai tahun 2013. Pada tahun 2017, Indonesia berhasil memproduksi anak sapi BB pertama di Asia Selatan dengan mentransfer embrio yang diimpor dari Belgia. Mulai tahun 2019, sapi jantan BB di Indonesia telah menghasilkan semen secara lokal. BB merupakan Bos taurus dengan ciri fenotipe berotot ganda yang disebabkan oleh delesi gen myostatin sehingga memiliki sedikit tulang dan lemak, lebih banyak otot, serta rasio otot terhadap tulang yang lebih tinggi dibandingkan dengan ras lainya.

Hasil karkas yang lebih tinggi (70%) serta jejak karbon lebih rendah dibandingkan ras lainya (21 kg CO2 ekuivalen/kg daging) membuat sapi BB mempunyai produktifitas yang lebih tinggi dan ramah lingkungan. Pada tahun 2000an, BB dapat meningkatkan swasembada daging di Belgia sampai 157% sehingga BB sangat diminati untuk program persilangan yang signifikan dalam meningkatkan produksi daging di berbagai negara.

Pengenalan sapi Belgian blue  dapat memberikan peluang besar dalam pemenuhan swasembada daging nasional. Potensi manfaat dari pengenalan BB di Indonesia diantaranya adalah memiliki produktivitas yang tinggi karena efisiensi konversi pakan yang baik dan hasil karkas yang tinggi sehingga mengurangi biaya produksi per kg daging, meningkatkan keuntungan peternak serta mengurangi emisi karbon. Sapi BB dapat memperbaiki kualitas daging karena sapi BB memiliki tingkat keempukan daging yang tinggi serta lemak intramuskular yang rendah.

Sapi BB efektif dalam program persilangan dengan sapi lokal karena dapat meningkatkan pertumbuhan dan bobot karkas. Namun, potensi BB juga diikuti dengan tantangan, diantaranya BB memiliki beberapa tantangan diantaranya, sapi BB kurang beradaptasi dengan iklim tropis yang panas dan lembab, BB rentan dengan urolithiasis, serta kesulitan melahirkan (distokia) hingga 90%, serta kebutuhan manajemen yang tinggi. Sehingga strategi rekomendasi yang diberikan adalah dengan mengembangkan program persilangan BB dengan sapi lokal, mengadopsi pendekatan sistem produksi bertingkat serta meningkatkan dukungan kebijakan dan infrastruktur termasuk teknologi reproduksi, nutrisi, pelatihan teknis serta sistem monitoring adaptasi lapangan guna memastikan keberlanjutan program ini.

Pendekatan terpadu antara pemuliaan genetik, perbaikan manajemen dan penyesuaian terhadap iklim sangat penting untuk memastikan bahwa pengenalan sapi Belgian blue dapat memberikan manfaat jangka panjang yeng berkelanjutan untuk peternakan sapi di Indonesia.

Penulis: Gretania Residiwati, Habib S. A. Tuska, Oloan Parlindungan, Sri W. Siswanti, Bart Leemans, Karen Goossens, Siti Eliana Rochmi, Budiono, Agung Budiyanto, Bambang Purwantara, Bonick Kartini Lonameo, Osvaldo B. Pascottini, Geert Opsomer, Ann Van Soom

Informasi detail artikel: Link: https://smujo.id/biodiv/article/view/20096/8601Â