Kajian etnofarmakologi tanaman memiliki peranan penting dalam pengembangan obat herbal modern, terutama karena penggunaannya yang berbasis pengalaman turun-temurun dan relatif memiliki efek samping yang rendah. Bebeberapa negara telah mengunakan pendekatan ini dalam pencarian obat alternatif atau komplementer. Sebagai contoh di India, sistem pengobatan tradisional Ayurveda dan Siddha telah memanfaatkan berbagai tanaman dari famili Malvaceae khususnya genus Sida, termasuk Abutilon indicum, Hibiscus sabdariffa, Sida acuta, dan Sida rhombifolia. Tanaman-tanaman ini digunakan secara tradisional dalam bentuk ekstrak, bubuk, atau pasta oleh masyarakat suku untuk mengatasi berbagai penyakit, seperti batuk, demam, gangguan lambung, masalah ginjal dan hati, peradangan, serta luka. Penelitian tentang konstituen kimia Sida rhombifolia dan Sida acuta menunjukkan aktivitas antiplasmodial yang signifikan, menunjukkan potensi tanaman dalam mengobati infeksi parasit. Selain itu, Sida acuta telah dievaluasi karena potensi antioksidan dan antikankernya. Berbagai genus Sida telah dilaporkan mempunyai aktivitas potensial sebagai antivirus. Sebuah studi menunjukkan berbagai aktivitas antiviral dari berbagai genus Sida. Sida acuta dan Sida cordifolia, memiliki sifat antivirus pada beberapa virus patogen, termasuk virus korona dan herpes simpleks.
Aktivitas antivirus tersebut melibatkan berbagai metabolit dalam tanaman. Salah satu target penting sebagai antivirus adalah tanaman dari genus Sida. Genus ini mengandung metabolit yang menjanjikan yang merupakan target yang baik untuk potensi kualitas antivirusnya. Efek antivirus dari senyawa Sida mungkin muncul dari kemampuannya untuk mengganggu replikasi dan infektivitas virus. Berbagai penelitian fitokimia telah mengidentifikasi sejumlah senyawa aktif dari keempat tanaman tersebut, seperti flavonoid, alkaloid, tanin, dan saponin. Penelitian lebih lanjut dilaporkan beberapa senyawa berikut quindoline, cryptolepinone, vasicine, dan turunan kaempferol. Senyawa-senyawa ini diketahui memiliki aktivitas farmakologis, di antaranya sebagai antioksidan, antiinflamasi, antibakteri, hepatoprotektif, dan analgesik yang telah dibuktikan melalui uji in vitro maupun in vivo pada hewan coba. Hal ini menunjukkan bahwa banyak dari manfaat tradisional tanaman ini memang memiliki dasar ilmiah yang kuat.
Dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap obat herbal, penting untuk memastikan bahwa penggunaannya didukung oleh bukti ilmiah yang valid. Kombinasi antara pengetahuan tradisional dan pembuktian ilmiah dapat menjadi dasar yang kuat dalam pengembangan fitofarmaka yang aman dan efektif. Oleh karena itu, validasi terhadap tanaman etnomedisin seperti Abutilon indicum, Hibiscus sabdariffa, Sida acuta, dan Sida rhombifolia sangat diperlukan untuk mendukung integrasi pengobatan tradisional ke dalam sistem kesehatan modern.
Meskipun studi pendahuluan menunjukkan hasil yang menjanjikan, investigasi lebih lanjut sangat penting untuk menjelaskan mekanisme aksi, mengoptimalkan metode ekstraksi, dan melakukan uji klinis untuk memvalidasi efikasi serta keamanan tanaman sebagai pengobatan antivirus.
Penulis: Tutik Sri Wahyuni
Sumber Artikel :
Ethnopharmacological, Phytochemistry, and Antiviral Activity of Plants Belonging to Genus Sida – A Systematic Review Link : https://tis.wu.ac.th/index.php/tis/article/view/9289





