Universitas Airlangga Official Website

Identitas Diri Remaja Putri: Kunci Kepatuhan Minum Tablet Zat Besi

ilustrasi anemia (foto: klikdokter)

Anemia masih menjadi masalah kesehatan yang menghantui remaja putri di Indonesia. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan bahwa 32% remaja putri mengalami anemia, angka ini meningkat tajam dibanding tahun 2013. Kondisi ini tentu mengkhawatirkan, sebab anemia dapat menurunkan konsentrasi belajar, daya tahan tubuh, bahkan berisiko pada kesehatan reproduksi di masa depan.

Pemerintah sebenarnya sudah memiliki program suplementasi zat besi dan asam folat (tablet tambah darah/TTD) yang dibagikan rutin di sekolah-sekolah. Namun, masalahnya bukan pada ketersediaan tablet, melainkan kepatuhan remaja dalam mengonsumsinya. Banyak yang enggan minum karena alasan lupa, bau atau rasa yang tidak enak, atau merasa tidak perlu.

Sebuah penelitian terbaru dari tim Universitas Airlangga yang dipublikasikan di Journal of Multidisciplinary Healthcare (2025) mencoba mengurai persoalan ini dari sisi psikososial. Studi yang dilakukan pada 375 siswi SMA di Kabupaten Sidoarjo menemukan bahwa identitas diri remaja berperan besar dalam menentukan kepatuhan minum tablet zat besi.

Masa remaja adalah fase krusial pembentukan jati diri. Di usia ini, seseorang mulai mencari siapa dirinya, apa yang diyakini, serta bagaimana ia memandang masa depan. Proses ini tidak hanya berpengaruh pada pilihan gaya hidup, pertemanan, atau minat, tetapi juga pada perilaku kesehatan.

Menurut psikolog James Marcia, identitas diri remaja terbentuk melalui empat gaya:

  1. Informative style – remaja aktif mencari dan menganalisis informasi untuk menentukan sikap.
  2. Normative style – remaja cenderung mengikuti nilai dari keluarga atau lingkungan dekat.
  3. Diffuse-avoidant style – remaja cenderung menghindar dari keputusan dan masalah.
  4. Commitment – remaja berkomitmen pada pilihan identitas tertentu.

Penelitian di Sidoarjo menemukan bahwa remaja dengan gaya identitas informatif—yang terbuka menerima informasi dan kritis—lebih patuh minum tablet zat besi dibanding yang pasif atau menghindar.

Peneliti juga menggunakan kerangka teori Health Belief Model (HBM), yaitu sebuah model yang menjelaskan bahwa perilaku kesehatan seseorang dipengaruhi oleh:

  1. Perceived susceptibility: seberapa rentan ia merasa terhadap suatu penyakit.
  2. Perceived severity: seberapa serius dampak penyakit tersebut.
  3. Perceived benefit: seberapa besar manfaat dari perilaku sehat.
  4. Perceived barrier: hambatan yang dirasakan saat melakukannya.

Dalam konteks ini, remaja yang memiliki identitas diri kuat lebih mudah menyadari bahwa mereka rentan terkena anemia, paham akan bahayanya, serta yakin bahwa minum tablet zat besi membawa manfaat besar. Identitas diri juga membantu mereka memecahkan masalah praktis, misalnya mencari cara agar tidak lupa minum, mengatasi rasa tidak enak di mulut, atau minum bersama teman sebaya. Dari analisis statistik menggunakan Structural Equation Modeling, hasil penting yang ditemukan adalah:

  1. Identitas diri remaja berpengaruh signifikan terhadap harapan (expectation), persepsi kerentanan dan keparahan anemia, serta kemampuan pemecahan masalah.
  2. Kepatuhan minum tablet zat besi meningkat ketika remaja memiliki ekspektasi positif dan kemampuan menyelesaikan hambatan.
  3. Jalur paling kuat yang menghubungkan identitas diri dan kepatuhan adalah melalui ekspektasi manfaat dan kemampuan problem solving.

Dengan kata lain, semakin remaja memiliki identitas diri positif, terutama gaya informatif, semakin besar kemungkinan ia memahami pentingnya tablet zat besi dan mampu mengatasi hambatan untuk meminumnya secara teratur. Hasil penelitian ini memberi pesan penting: program kesehatan remaja tidak cukup hanya dengan membagikan tablet zat besi. Dibutuhkan pendekatan psikologis dan edukatif yang membantu remaja membangun identitas diri sehat.

Sekolah bisa berperan besar, misalnya melalui:

  1. Konseling dan pendampingan untuk memperkuat rasa percaya diri dan identitas diri remaja.
  2. Peer support atau kelompok teman sebaya yang saling mengingatkan minum tablet.
  3. Edukasi kreatif yang menekankan manfaat tablet tambah darah, bukan sekadar kewajiban.
  4. Keterlibatan orang tua untuk menciptakan komunikasi yang terbuka dan mendukung.

Anemia pada remaja bukan sekadar masalah individu, melainkan juga menyangkut masa depan bangsa. Remaja putri yang sehat akan menjadi ibu yang sehat, sehingga risiko bayi lahir dengan berat badan rendah atau stunting bisa ditekan. Hal ini mendukung pencapaian SDG 3 (Good Health and Well-being) dan SDG 5 (Gender Equality).

Penelitian ini menunjukkan bahwa investasi pada pembentukan identitas diri positif sama pentingnya dengan intervensi gizi. Jika remaja merasa dirinya berharga, berdaya, dan mampu membuat keputusan sehat, maka kepatuhan minum tablet zat besi akan meningkat secara alami.

Kepatuhan minum tablet zat besi di kalangan remaja putri bukan hanya urusan rasa atau lupa, tetapi terkait erat dengan siapa mereka dan bagaimana mereka memandang diri sendiri. Identitas diri yang kuat, terutama gaya informatif yang kritis dan terbuka pada informasi, terbukti meningkatkan keyakinan, mengurangi hambatan, serta memperkuat kemampuan memecahkan masalah kesehatan.

Penulis : Dr. Lutfi Agus Salim, SKM., M.Si.

Link Artikel : https://www.dovepress.com/the-effect-of-self-identity-on-increasing-iron-tablet-adherence-among–peer-reviewed-fulltext-article-JMDH