Universitas Airlangga Official Website

Tikus Liar Sebagai Sumber Penularan Zoonosis

Ilustrasi Tikus (Sumber: Liputan6.com)
Ilustrasi Tikus (Foto: Liputan6.com)

Penyakit zoonosis, yang ditularkan antara hewan vertebrata dan manusia, merupakan tantangan kesehatan global yang signifikan. Perubahan iklim dan degradasi lingkungan telah mengintensifkan kemunculan dan kemunculan kembali penyakit zoonosis, dengan sekitar 60,3% zoonosis ditularkan oleh hewan domestik dan 71,8% oleh hewan liar. Di antara reservoir penyakit zoonosis utama, hewan pengerat, terutama tikus, memainkan peran penting sebagai pembawa patogen seperti Leptospira spp., Trypanosoma lewisi, Toxoplasma gondii, dan berbagai cacing.

Rodensia, termasuk tikus,  adalah hewan kecil sinantropik yang menjadi inang bagi lebih dari 143 agen infeksiu seperti virus, bakteri, parasit, dan jamur. Hewan pengerat dapat menyebarkan beberapa infeksi mikroba, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara ekologis, hewan pengerat merupakan salah satu pembawa zoonosis yang paling signifikan.

Spesies tikus, terutama Rattus norvegicus, merupakan salah satu hewan pengerat yang menimbulkan ancaman terbesar bagi wilayah metropolitan karena kecenderungan reproduksinya, potensi zoonosis, dan kedekatannya dengan manusia. Studi patogen parasit pada tikus liar semakin penting dalam beberapa tahun terakhir karena signifikansinya dalam penularan penyakit seperti leptospirosis, toksoplasmosis, tripanosomiasis, dan helminthiasis.

Kami melakukan Review penelitian tentang parasit pada tikus yang dipublikasikan mulai dari tahun 2015-2025. Review mencakup temuan-temuan utama dari dekade terakhir tentang identifikasi parasit pada tikus liar di Indonesia, mengkaji metodologi deteksi, insidensi penyakit berdasarkan lokasi, dan konsekuensinya bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan.

Hasil Review menunjukkan terdapat variasi dalam jumlah ektoparasit dan endoparasit diamati pada tikus liar di berbagai wilayah, musim, dan spesies inang, yang mencerminkan infestasi di berbagai habitat, termasuk lingkungan perkotaan, semi-perkotaan, kepulauan, dan persawahan. Meskipun teknik molekuler semakin banyak diterapkan dalam parasitologi, hanya enam penelitian yang menggunakannya untuk identifikasi parasit pada tikus liar. Tinjauan ini menyoroti kesenjangan penelitian terkait ukuran sampel yang kecil, terbatasnya data tentang parasit darah, dan karakterisasi molekuler yang tidak memadai. Temuan menunjukkan bahwa perubahan lingkungan—seperti urbanisasi, deforestasi, perluasan lahan pertanian, dan pergeseran musim—dapat memengaruhi pola distribusi parasit.

Penulis: Mutasem Abuzahra, Lucia Tri Suwanti, dan Muchammad Yunus

Informasi detail terkait artikel ini dapat dilihat pada: https://www.openveterinaryjournal.com/index.php?mno=241863