Bagi sebagian orang, kunjungan ke dokter gigi adalah hal biasa. Namun, bagi yang lain, hanya mendengar suara bor gigi saja sudah cukup membuat jantung berdegup kencang, tangan berkeringat, dan tubuh terasa tegang. Rasa takut, cemas, hingga fobia terhadap perawatan gigi bukanlah hal sepele—dan kenyataannya, ini dialami oleh jutaan orang di berbagai belahan dunia.
Sebuah kajian terbaru yang dilakukan di Nigeria menyoroti masalah ini. Kajian ini dilaporkan pada artikel berjudul Nigerian dental anxiety, fear, and phobia: A prevalence review yang diterbitkan oleh Dental Journal (2025) Vol. 58/3 kerjasama peneliti dari Nigeria Chiedu Eseadi dan peneliti dari Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Endang R. Surjaningrum. Hasilnya menunjukkan bahwa banyak orang di negara tersebut mengalami dental anxiety (kecemasan gigi), dental fear (ketakutan gigi), dan dental phobia (fobia gigi). Fenomena ini ternyata bukan hanya sekadar “takut sakit”, melainkan kondisi psikologis yang serius, dengan dampak besar terhadap kesehatan mulut dan kualitas hidup seseorang.
Lalu, apakah sebenarnya kecemasan, ketakutan, dan fobia gigi ini? Banyak orang menggunakan istilah ini secara bergantian dan dianggap sama, namun sebenarnya ketiganya merujuk hal yang berbeda. Kecemasan Gigi adalah rasa gelisah atau khawatir ketika memikirkan atau menghadapi perawatan gigi. Kecemasan ini seringkali muncul sebelum perawatan dimulai. Ketakutan Gigi merujuak pada rasa takut yang lebih spesifik, misalnya takut melihat jarum suntik, mendengar suara bor gigi, atau bahkan takut dengan bau khas klinik gigi. Sedangkan Fobia Gigi merupakan bentuk yang paling ekstrem yang meliputi rasa takut yang intens, irasional, dan sering kali membuat seseorang benar-benar menghindari dokter gigi, meski sedang sakit parah.
Ketiga kondisi ini bisa membuat seseorang menunda bahkan sama sekali tidak mau berobat ke dokter gigi. Akibatnya, masalah gigi dan mulut menjadi semakin parah, yang akhirnya berpengaruh pada kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Yang menjadi perhatian kedua peneliti ini adalah seberapa banyak permasalahan ini terjadi di masyarakat. Kajian di Nigeria yang meneliti literatur selama 20 tahun (2002–2022) menemukan hal mengejutkan. Dari 23 penelitian, didapatkan bahwa jumlah kejadian kecemasan gigi berkisar antara 7,4% hingga 62,8%; Ketakutan gigi dialami oleh 36,8% remaja; sedangkan fobia gigi dialami oleh 30% orang dewasa. Artinya, hampir sepertiga hingga lebih dari separuh populasi pernah mengalami masalah ini. Angka tersebut cukup tinggi dan menandakan bahwa rasa takut ke dokter gigi adalah persoalan serius yang perlu mendapat perhatian.
Ada beberapa alasan mengapa orang takut atau cemas saat berobat gigi. Beberapa faktor penyebab adalah: (1) Pengalaman masa lalu yang menyakitkan. Mereka yang pernah merasakan perawatan gigi yang menyakitkan biasanya lebih mudah trauma. Ingatan akan rasa sakit itu terbawa hingga kunjungan berikutnya; (2) Kurangnya informasi dan literasi kesehatan gigi. Banyak orang tidak tahu pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut. Akibatnya, perawatan gigi dianggap menakutkan karena minimnya pemahaman; (3) Pengaruh sosial dan budaya. Cerita-cerita seram tentang pengalaman ke dokter gigi sering diceritakan dari mulut ke mulut. Hal ini bisa menimbulkan sugesti negatif; (4) Kondisi sosial-ekonomi. Orang dengan penghasilan rendah atau tinggal di daerah dengan akses layanan gigi terbatas cenderung memiliki kecemasan lebih tinggi; (5) Faktor psikologis individu.Kepribadian, tingkat kecemasan umum, hingga riwayat gangguan psikologis juga berperan besar.
Menghindari perawatan gigi tentu berdampak pada kondisi kesehatan gigi dan mulut. Berbagai sumber menyebutkan kondisi yang dapat dialami misalnya Kerusakan gigi yang makin parah hingga akhirnya gigi harus dicabut, Penyakit gusi yang bisa menyebabkan gigi goyah dan lepas, Infeksi mulut yang berpotensi menyebar ke organ lain, Gangguan kepercayaan diri karena bau mulut atau gigi yang rusak, Kualitas hidup menurun, baik secara fisik maupun psikologis. Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa kecemasan dan fobia gigi berhubungan dengan kualitas hidup yang lebih rendah. Pasien dengan tingkat kecemasan tinggi cenderung merasa tidak nyaman dalam aktivitas sehari-hari dan sering menunda perawatan meski giginya sakit.
Penelitian ini juga menemukan bahwa perempuan, anak-anak dan remaja yang baru pertama kali ke dokter gigi, mereka yang memiliki tingkat Pendidikan rendah dan dari kalangan masyarakat dengan penghasil rendah beresiko mengalami kecemasan atau fobia gigi. Beberapa cara dapat dilakukan untuk mengatasi, misalnya edukasi kesehatan gigi sejak dini, kunjungan rutin ke dokter gigi, melakukan relaksasi sebelum dan selama perawatan gigi, menyampaikan ketakutan kepada dokter gigi sehingga dokter akan melakukan penyesuaian dalam memberikan perawatannya termasuk memberikan obat penenang, dan jika ketakutan dan fobia sangat serius maka dapat diberikan terapi psikologis.
Walau penelitian ini dilakukan di Nigeria, temuan tersebut sangat relevan dengan negara-negara lain, termasuk Indonesia. Banyak orang di Indonesia juga enggan pergi ke dokter gigi kecuali sudah sakit parah. Budaya “menunggu sakit” ini membuat perawatan jadi lebih sulit dan menimbulkan trauma.
Selain itu, keterbatasan akses layanan gigi di daerah terpencil dan biaya perawatan yang dianggap mahal turut memperparah masalah. Dengan memahami faktor-faktor penyebab kecemasan dan ketakutan ini, tenaga kesehatan bisa merancang strategi yang lebih ramah pasien—misalnya memperbaiki komunikasi, meningkatkan literasi kesehatan gigi, serta mengintegrasikan layanan psikologis dalam perawatan gigi.
Penutup
Kecemasan, ketakutan, dan fobia terhadap perawatan gigi adalah masalah nyata yang memengaruhi jutaan orang. Kondisi ini tidak boleh diremehkan karena berdampak langsung pada kesehatan mulut, kesehatan umum, serta kualitas hidup.
Kita perlu mengubah cara pandang: perawatan gigi bukanlah sesuatu yang menakutkan, melainkan langkah penting untuk menjaga kesehatan tubuh. Dengan edukasi yang baik, pendekatan psikologis yang tepat, dan dukungan tenaga medis yang ramah, setiap orang bisa melewati pengalaman di kursi dokter gigi dengan lebih tenang.
Jadi, jangan tunggu sakit parah untuk ke dokter gigi. Mulailah rutin memeriksa gigi—karena senyum sehat adalah kunci hidup yang lebih bahagia dan percaya diri.
Penulis: Endang Retno Surjaningrum, S.Psi., M.Psych, Ph.D.
Informasi detail terkait artikel ini dapat dilihat pada: https://e-journal.unair.ac.id/MKG/article/view/53596





