Universitas Airlangga Official Website

Cratoxyarborenone G, Senyawa Baru dari Daun Cratoxylum glaucum Korth. Sebagai Kandidat Antiplasmodial In Vitro Terhadap Parasit Plasmodium falciparum

Ilustrasi Pohon Geronggang (Sumber: Detikcom)
Ilustrasi Pohon Geronggang (Sumber: Detikcom)

Cratoxylum glaucum yang dikenal dengan nama lokal geronggang, tersebar luas di Asia Tenggara dan telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional untuk meningkatkan laktasi, mengobati diare, dan mengelola demam yang mungkin terkait dengan malaria. Daun tanaman ini mengandung berbagai senyawa bioaktif, termasuk santon, flavonoid, dan antrakuinon. Santon telah dilaporkan menunjukkan aktivitas biologis yang signifikan, seperti aktivitas antioksidan, antimikroba, dan antiplasmodial.

Potensi santon dan turunannya terhadap parasit Plasmodium telah dipelajari dan menunjukkan hasil yang menjanjikan. Studi menunjukkan bahwa santon memiliki mekanisme yang dapat mempengaruhi siklus hidup parasit, seperti menghambat pembentukan hemozoin dan membentuk kompleks dengan heme, menjadikannya kandidat potensial untuk pengembangan obat antiplasmodial baru. Beberapa senyawa santon dengan aktivitas antimalaria antara lain: 5-O-methylcelebixanthone (IC50 5,21 µM),celebixanthone (IC50 14,32 µM), β-mangostin (IC50 16,96 µM), dan cochinchinone C (IC50 6,33 μM) yang diisolasi dari Cratoxylum cochichinense; cochinchinone D (IC50 4,79 µM) dan cochinchinoxantone (IC50 4,41 µM) yang diisolasi dari Cratoxylum sumatranum. Senyawa alami seringkali menawarkan keunggulan dalam hal toksisitas yang lebih rendah dan potensi mekanisme aksi yang berbeda dibandingkan dengan obat konvensional, menjadikannya alternatif yang efektif dalam memerangi resistensi parasit malaria.

Dalam pencarian senyawa dengan aktivitas antiplasmodial, pemurnian dan identifikasi senyawa antiplasmodial, terutama santon yang diperoleh dari daun Cratoxylum glaucum, sangat diperlukan. Studi ini juga akan memberikan perspektif yang lebih mendalam tentang senyawa bioaktif dari Cratoxylum glaucum dan potensi penggunaannya sebagai agen antiplasmodial.

Penelitian sebelumnya telah diperoleh Cratoxyarborenone E dari ekstrak diklorometana C. glaucum, yang menunjukkan aktivitas antiplasmodial dengan nilai IC50 sebesar 5,82±0,04 μM. Penelitian ini melanjutkan penelitian sebelumnya karena potensi daun C. glaucum yang sangat besar sebagai agen antiplasmodial. Pada penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode isolasi yang dipandu dengan bioassay dan dari penelitian ini dihasilkan dua senyawa. Struktur kimia senyawa yang dimurnikan selanjutnya dielusidasi dengan 1D (1H, 13C), 2D NMR, dan LC-MS/MS.

Hasil elusidasi struktur menunjukkan bahwa kedua senyawa tersebut adalah senyawa santon dimana cratoxyarborenone G adalah senyawa yang baru ditemukan dan dilaporkan. Kedua senyawa ini memiliki aktivitas antiplasmodial in vitro melalui uji LDH. Cratoxyarborenone G memiliki IC50 sebesar 3,61±0,02 µM dan cratoxyarborenone A dengan IC50 sebesar 4,07±0,03 µM. Dibandingkan dengan senyawa cratoxyarborenone E, kedua senyawa tersebut lebih aktif, khususnya pada senyawa cratoxyarborenone G yang memiliki aktivitas lebih kuat. Kedua senyawa tersebut juga termasuk dalam kategori non toksik berdasarkan hasil pengujian sitotoksisitas terhadap sel Vero. Cratoxyarborenone G dan cratoxyarborenone A keduanya memiliki kerangka santon dengan gugus prenil. Perbedaan dari kedua senyawa ini adalah Cratoxyarborenone G memiliki gugus lavandulil, sedangkan Cratoxyarborenone A memiliki gugus geranil. Kemungkinan besar gugus-gugus ini berperan dalam menghasilkan aktivitas antiplasmodial. Cratoxylum glaucum berpotensi besar sebagai sumber senyawa antiplasmodial sehingga studi lebih lanjut sangat diperlukan terutama untuk isolasi dan identifikasi senyawa lainnya serta mekanisme kerja dari senyawa-senyawa tersebut.

Penulis: Prof. Dr. apt. Aty Widyawaruyanti, M.Si.

Informasi detail terkait artikel ini dapat dilihat pada: https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/14786419.2025.2525561