UNAIR NEWS – Mahasiswi Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menorehkan prestasi di kancah internasional. Kali ini, Fransisca Charvia Lee, mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNAIR angkatan 2022, berhasil terpilih sebagai awardee Canada-ASEAN Scholarships and Educational Exchanges for Development (SEED) 2025.
Program bergengsi yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kanada itu merupakan hasil kerja sama dengan negara-negara ASEAN untuk memberikan kesempatan bagi mahasiswa di kawasan Asia Tenggara mengikuti pertukaran pelajar dan penelitian di berbagai universitas terkemuka Kanada. Fransisca menjadi satu-satunya perwakilan UNAIR yang lolos untuk menjalani exchange program di Memorial University of Newfoundland (MUN), St. John’s, Kanada sejak September hingga Desember 2025.
Perjalanan Seleksi dan Tantangan
Ketertarikan Fransisca terhadap sistem pendidikan Kanada berawal dari penelusurannya mengenai beasiswa internasional. “Saya awalnya riset mandiri soal beasiswa di Kanada dan menemukan program Canada-ASEAN SEED. Ketika jenjang sarjana akhirnya dibuka pada 2025, saya langsung mencoba,” ungkapnya.
Proses seleksi yang ia jalani terdiri dari dua tahap, yakni seleksi di tingkat universitas dan seleksi akhir oleh pemerintah Kanada. Tantangan terbesar, menurutnya, adalah menulis Letter of Intent sepanjang 300 kata yang harus meyakinkan juri. “Saya fokus menulis tentang diplomasi internasional dan intergenerational harmony di ASEAN yang mendukung SDGs nomor 11 tentang Sustainable Cities and Communities,” jelasnya.
Representasikan Indonesia Lewat Diplomasi Budaya
Selama berada di MUN, Fransisca aktif terlibat dalam kegiatan multikultural dan volunteering di lingkungan kampus. Ia juga berkesempatan memperkenalkan budaya Indonesia melalui ajang Cultural Fashion Show, dengan mengenakan kebaya adat Betawi.
“Banyak mahasiswa di sini sangat tertarik dan terpesona dengan kebaya yang saya pakai. Momen itu membuat saya bangga bisa memperkenalkan Indonesia secara langsung,” ujarnya. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi bukti nyata peran mahasiswa Hubungan Internasional dalam mengimplementasikan diplomasi budaya di ranah global.
Dukungan Kampus dan Pembelajaran di Kanada
Dalam proses persiapan, Fransisca mendapat dukungan penuh dari FISIP UNAIR, Program Studi Hubungan Internasional, serta Airlangga Global Engagement (AGE). “Persiapannya cukup singkat, hanya dua bulan dari pengumuman hingga keberangkatan. Tapi bantuan kampus luar biasa, terutama dalam pengurusan visa dan dokumen keberangkatan,” katanya.
Selama menjalani program, Fransisca mengambil sejumlah mata kuliah di bidang criminology, gender studies, dan political science, yang memperluas perspektifnya tentang keadilan dan kebijakan publik global.
Harapan dan Kontribusi untuk Indonesia
Usai menyelesaikan program, Fransisca berharap dapat mengaplikasikan nilai-nilai inklusivitas dan aksesibilitas yang ia pelajari di Kanada ke lingkungan kampus dan masyarakat Indonesia. “Saya ingin membawa semangat keberagaman dan akses pendidikan yang setara bagi semua kalangan,” tuturnya.
Ia juga berpesan kepada mahasiswa UNAIR untuk tidak takut mencoba kesempatan internasional. “Jangan tunggu siap dulu. Coba, belajar, dan terus berproses. Karena dari keberanian mencoba, kita tahu sejauh mana langkah bisa membawa kita,” pungkasnya.(*)
Penulis: Nafiesa Zahra
Editor: Khefti Al Mawalia





