Universitas Airlangga Official Website

Rahasia Kulit Pisang Kayu Belum Matang untuk Mengatasi Diare

Sumber: GRID.ID

Penyakit gastrointestinal merupakan penyakit berbahaya dan dapat menyebabkan kematian. Dua penyebab infeksi bakteri adalah S. aureus dan E. coli. Enterotoksin merupakan penyebab utama keracunan makanan yang disertai diare. Kulit buah pisang kayu yang belum matang merupakan obat yang umum digunakan secara empiris di Desa Senduro, Lumajang, Jawa Timur, untuk mengobati diare.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan aktivitas antibakteri pada fraksi kulit buah pisang kayu yang belum matang. Metode pengenceran cair digunakan untuk mengukur Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) pada Konsentrasi 1 mg/ml dan KBM (Konsentrasi Bakterisida Minimum) pada Konsentrasi 1 mg/ml, dan metode difusi cakram digunakan untuk mengukur zona hambat dan kadar fenol total diukur menggunakan instrumen spektrofotometer. Fraksi etil asetat memiliki aktivitas antibakteri paling optimal dengan zona hambat 19 mm pada E. coli dan 9 mm pada S. aureus, KHM 1mg/ml dengan ΔOD (Kerapatan Optik) – 0,295 pada E. coli dan ΔOD -0,931 pada S. aureus, serta tidak ada pertumbuhan bakteri pada MBC dengan nilai total fenol 270,88 mg ekuivalen asam galat per gram fraksi.

Hasil analisis Pearson menunjukkan adanya korelasi antara kadar total fenol dengan aktivitas antibakteri, yang ditunjukkan dengan nilai R mendekati 1, untuk E. coli, memiliki korelasi sedang, dan untuk S. aureus, memiliki korelasi sangat kuat. Fraksi kulit buah pisang kayu yang belum matang memiliki aktivitas antibakteri yang berbeda dan dapat menghambat pertumbuhan S. aureus dan E. coli. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fraksi etil asetat memiliki kandungan fenol tertinggi dan kategori aktivitas antibakteri kuat, sehingga kulit buah pisang kayu yang belum matang dapat dikembangkan menjadi obat antibakteri.

Penulis : Arista Wahyu Ningsih, Achmad Syahrani, Abdi Wira Septama, Sukardiman Link : https://rjptonline.org/AbstractView.aspx?PID=2025-18-5-30