UNAIR NEWS – Mark Jhosua, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR) terpilih wakili Indonesia dalam Konferensi Internasional 249th ECS Meeting 2026. Pada Kamis (30/10/20205) lalu, ia resmi terpilih sebagai wakil Indonesia dalam kegiatan yang akan diselenggarakan di Seattle, Amerika Serikat itu. Mark secara resmi terpilih melalui Jalur Pelajar Indonesia untuk Sains Biru (JPISB), inisiasi dari International Blue Carbon Institute (IBCI). Program bergengsi tersebut menyeleksi ratusan mahasiswa dari seluruh Indonesia hingga terpilih delapan mahasiswa terbaik untuk mengikuti pelatihan kompetensi intensif selama satu minggu di Bali.
Dari hasil pelatihan tersebut, hanya satu mahasiswa yang berhak mewakili Indonesia, dan Mark berhasil menjadi yang terbaik. “Alhamdulillah, saya terpilih untuk mewakili Indonesia. Program ini sepenuhnya mendapatkan pendanaan (fully funded), dan saya akan berangkat bersama perwakilan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan,” ungkap Mark.
Sejak lama, Mark mengaku memiliki kepedulian besar terhadap isu kelautan. Ia menilai laut bukan sekadar sumber daya alam, melainkan juga penopang kehidupan ekonomi banyak masyarakat Indonesia. Ketertarikannya pada dunia kelautan telah muncul sejak duduk di bangku SMP, ketika ia mulai aktif melakukan penelitian seputar konservasi laut.

“Sejak lama saya concern terhadap laut. Banyak masyarakat Indonesia yang bergantung hidup dari laut. Jadi, algoritma media sosial saya pun selalu menampilkan konten seputar laut dan konservasi. Dari situlah saya menemukan event yang relevan dengan penelitian saya,” jelasnya.
Dari Ritual ke Karbon Biru
Dalam konferensi di Seattle nanti, Mark akan mempresentasikan penelitiannya yang berjudul Dari Ritual Ke Karbon Biru: Revitalisasi Sasi Laut Untuk Konservasi Padang Lamun di Desa Supu, Maluku Utara. Penelitian tersebut berfokus pada integrasi budaya lokal Sasi Laut dengan pendekatan konservasi karbon biru. Sasi Laut merupakan tradisi masyarakat Maluku Utara yang membatasi pemanfaatan sumber daya laut dalam kurun waktu tertentu, demi menjaga kelestarian ekosistem.
“Saya mencoba mengintegrasikan budaya Sasi Laut sebagai metode konservasi yang efektif. Masyarakat lokal lebih patuh terhadap aturan adat dibandingkan peraturan formal negara. Dari sini saya melihat potensi besar dalam pelestarian padang lamun atau seagrass,” terang Mark.
Dalam pemaparannya di Bali, Mark juga menjelaskan bahwa padang lamun berkontribusi sekitar 30 persen terhadap karbon biru dunia, di samping peran penting mangrove. Namun, masih sedikit penelitian yang mencoba mengkolaborasikan keduanya. Melalui riset ini, ia berharap kolaborasi antara padang lamun dan mangrove dapat menghasilkan serapan karbon biru yang lebih signifikan.
“Harapan saya, penelitian ini dapat menjadi langkah nyata untuk meningkatkan konservasi laut di Indonesia, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam riset karbon biru di dunia,” pungkasnya. Dengan semangat inovasi dan kecintaannya pada laut, Mark tidak hanya membawa nama Universitas Airlangga, tetapi juga semangat pelestarian budaya dan lingkungan Indonesia ke panggung dunia.
Penulis: Rizma Elyza
Editor: Yulia Rohmawati





