UNAIR NEWS – Indonesia tercatat sebagai laboratorium bahasa terbesar kedua di dunia. Berdasarkan data petabahasa.kemdikbud.go.id, total bahasa di Indonesia adalah 718. Namun, bahasa-bahasa tersebut berpotensi mengalami kepunahan karena menurunnya penutur aktif di kehidupan sehari-hari maupun ranah digital.Â
Departemen Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) turut menyoroti persoalan tersebut dalam kuliah tamu yang bertajuk Kematian Bahasa di Dunia Digital. Kegiatan yang berlangsung secara daring pada Selasa (18/11/2025) itu menghadirkan pembicara tunggal yakni Dr Katubi MHum. Ia merupakan Kepala Pusat Riset Preservasi Bahasa dan Sastra Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Dr Katubi menjelaskan bahwa terdapat indikator pengukuran kemampuan bahasa untuk bertahan dan bertransmisi dari satu generasi ke generasi selanjutnya yang ia sebut dengan tingkat vitalitas bahasa. Terdapat sembilan indikator dalam mengukur tingkat vitalitas bahasa menurut UNESCO. Meliputi transmisi bahasa antargenerasi, jumlah penutur, proporsi penutur dalam keseluruhan jumlah populasi, kecenderungan penggunaan dalam ranah bahasa, respons terhadap ranah dan media baru, ketersediaan bahan pendidikan, keresmian bahasa, sikap komunitas terhadap bahasa, serta jumlah dan kualitas dokumentasi bahasa.
“Semakin tinggi vitalitas suatu bahasa, semakin tinggi kemungkinan bahasa itu untuk terus bertahan hidup. Tingkat vitalitas ini menjadi indikator utama dalam merancang program pemertahanan dan revitalisasi bahasa terancam punah,” tutur Dr Katubi.
Ancaman Digital
Lebih spesifik, Dr Katubi menyoroti tingkat vitalitas bahasa minoritas dalam dunia digital. Bahasa daerah sebagai minoritas cenderung sulit mengambil posisi dalam dunia digital karena dominasi bahasa global. Masyarakat dituntut menggunakan bahasa global dalam forum-forum digital dengan tujuan mempermudah komunikasi.
Dalam arti lain, dunia digital memegang peranan besar terhadap percepatan kepunahan bahasa-bahasa daerah. “Jika orang tidak peduli tentang pemertahanan atau pelestarian bahasa, internet dan globalisasi yang menyertainya akan sangat mempercepat kematian bahasa-bahasa terancam punah,” ucapnya.
Dr Katubi menambahkan bahwa eksistensi bahasa daerah dalam dunia digital juga dapat terhambat karena keterbatasan akses terhadap internet. Seperti halnya masyarakat Indonesia bagian timur alami.Â
“Wilayah-wilayah seperti di Papua itu memiliki kesenjangan digital tinggi karena kurangnya infrastruktur. Jadi, kalau misal ada cerita dari orang Indonesia timur yang cari sinyal sambil naik-naik pohon, itu betulan terjadi,” ungkapnya.
Upaya Pelestarian
Dari sudut pandang positif, internet dapat bermanfaat sebagai sarana penyimpanan dan penyebaran bahasa. Dr Katubi menyarankan penggunaan media sosial sebagai upaya pelestarian bahasa daerah. Beberapa skema yang memungkinkan untuk individu lakukan adalah keterlibatan aktif dalam dunia digital menggunakan bahasa daerah, menjadi aktivisme indigenous, dan melakukan folksonomy terhadap konten-konten yang dibuat.Â
“Hal-hal tersebut berguna untuk memperkuat identitas etnolinguistik, merevitalisasi bahasa, menopang keterlibatan kita secara politis di dunia maya, dan memproduksi kolektif pengetahuan. Mari semuanya tunjukkan tekad bahwa kita tidak ingin bahasa daerah, tradisi, dan budaya mati di dunia digital,” pungkasnya.
Penulis: Selly Imeldha
Editor: Khefti Al Mawalia





