Universitas Airlangga Official Website

Ternyata Ini 5 Kunci Pentingnya Peran Ayah dalam Keluarga Berencana

Selama ini, program Keluarga Berencana (KB) seolah menjadi tanggung jawab perempuan. Data Kementerian Kesehatan RI tahun 2023 menunjukkan, dari 27 juta pasangan usia subur yang menjadi peserta KB, hampir semuanya adalah wanita. Padahal, keputusan untuk ber-KB seharusnya menjadi tanggung jawab bersama. Sebuah tinjauan literatur terbaru yang dipublikasikan dalam Health Dynamics (2025) mengungkap fakta mengejutkan: hanya 0,2% pria Indonesia yang menjalani vasektomi, dan 3,1% menggunakan kondom. Artinya, partisipasi suami sebagai akseptor KB masih sangat minim.

Lalu, apa saja faktor yang memengaruhi keterlibatan suami dalam program KB?

  1. Pengetahuan: Kunci Utama Perubahan Pola Pikir
    Banyak pria menganggap KB adalah domain perempuan. “Minimnya informasi tentang kontrasepsi pria, termasuk manfaat, efek samping, dan cara penggunaannya, menjadi penghalang terbesar,” jelas Jayanti Dian Eka Sari, peneliti utama dari Universitas Airlangga Banyuwangi. Studi Manurung dkk. (2023) membuktikan, suami dengan pengetahuan baik tentang KB memiliki kemungkinan 3,2 kali lebih besar untuk menjadi akseptor dibanding yang pengetahuannya kurang.
  2. Dukungan Istri: Pengaruhnya Sangat Kuat
    Dukungan istri menjadi faktor pendorong yang sangat signifikan. “Ketika istri mendukung, suami merasa dihargai dan termotivasi untuk terlibat,” tambah Jayanti. Meta-analisis oleh Yuvrista dkk. (2023) menunjukkan, pria yang didukung pasangannya 2,48 kali lebih mungkin menggunakan kontrasepsi.
  3. Peran Tenaga Kesehatan: Dari Pasif Menjadi Aktif
    Tenaga kesehatan cenderung fokus pada target KB perempuan. Padahal, keterlibatan aktif mereka sangat dibutuhkan. Penelitian Manurung dkk. menemukan, suami yang didukung aktif tenaga kesehatan 7,9 kali lebih mungkin menjadi akseptor KB.
  4. Sikap Positif dan Ekonomi Keluarga
    Sikap positif terhadap KB, keyakinan akan manfaatnya bagi keluarga, serta kondisi ekonomi yang memadai turut memengaruhi. “Keluarga dengan pendapatan lebih baik cenderung lebih mudah mengakses layanan KB,” ungkap Andina Fatimatus Zuhro, anggota tim peneliti.
  5. Faktor Lain: Pendidikan, Pekerjaan, dan Akses Informasi
    Tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan yang menyita waktu juga berperan, meski pengaruhnya bervariasi. Begitu pula dengan akses informasi. Meski informasi mudah didapat, kualitas dan kedalaman informasilah yang menentukan.
    Mengapa Peran Suami Penting?
    Keterlibatan suami dalam KB bukan hanya tentang keadilan gender, tetapi juga efektivitas program.
  6. Meningkatkan Kesuksesan KB: Keputusan bersama mengurangi angka putus pakai kontrasepsi.
  7. Memperkuat Keharmonisan Rumah Tangga: Komunikasi terbuka tentang perencanaan keluarga mempererat hubungan.
  8. Mendorong Kemandirian Keluarga: Keluarga yang merencanakan kelahirannya lebih mudah mencapai kesejahteraan.

Ayo, Suami Beraksi!
Program KB bukan lagi urusan “dia” (istri), tapi “kita” (suami-istri). Dengan membuka wawasan, mendukung satu sama lain, dan berani berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, para suami bisa menjadi pahlawan keluarga yang turut menentukan masa depan yang lebih terencana dan sejahtera.

Penulis: Jayanti Dian Eka Sari, S.KM., M.Kes.

Detail penelitian bisa diakses di: https://scholar.google.com/citations?view_op=view_citation&hl=en&user=RIIul7EAAAAJ&cstart=20&pagesize=80&citation_for_view=RIIul7EAAAAJ:4fKUyHm3Qg0C