Potret Fajar Satriyo S.Hum., Bramantio S.S., M.Hum., dan Dr. Ida Nurul Chasanah S.S., M.Hum. saat Kuliah Tamu Alumni Bahasa dan Sastra Indonesia.
FIB NEWS – Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia (Basasindo) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB UNAIR) menyelenggarakan Kuliah Tamu Alumni bertema “Dari Membaca ke Menulis Prosa Fiksi: Sebuah Perjalanan Kreatif” pada Rabu (27/11/2025) melalui Zoom. Narasumber dalam kegiatan tersebut adalah Fajar Satriyo S.Hum., Jurnalis ANTARA News sekaligus Pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2025.
Dosen Basasindo, Bramantio S.S., M.Hum., menyampaikan apresiasi atas prestasi narasumber sekaligus harapan kegiatan ini bagi mahasiswa. “Kuliah tamu ini kami selenggarakan sebagai target untuk program studi dan apresiasi untuk Mas Fajar. Harapan kami kegiatan ini menjadi bekal mahasiswa Basasindo apapun nanti minat ilmu yang akan mereka pilih,” ungkapnya dalam sambutan.
Perjalanan Kreatif
Fajar Satriyo S.Hum. membuka sesi dengan mengenang masa kuliahnya di Basasindo yang menjadi titik mula proses kreatifnya. Ia menyebut kelas penulisan kreatif sebagai ruang penting bagi lahirnya gagasan awal novelnya. “Saya rasa ini sebuah memori lagi ya dengan mengikuti kelas penulisan kreatif di Basasindo,” ungkapnya.
Menurut Fajar, sastra lahir dari kegelisahan terhadap kondisi masyarakat, terutama isu yang jarang diungkap. Ia memandang sastra sebagai dokumen sejarah yang perlu terus disuarakan. “Karya-karya tersebut adalah sebuah dokumen sejarah yang seharusnya dimunculkan,” katanya.
Selain itu, Dr. Ida Nurul Chasanah S.S., M.Hum. memberi perhatian pada proses panjang Fajar hingga mampu meraih penghargaan nasional. Menanggapi hal tersebut, Fajar mengisahkan bahwa dorongan menulisnya lahir dari kebiasaan membaca sejak kecil. Rasa penasaran terhadap proses kreatif penulis lain juga memacu dirinya mencoba menulis karya sendiri. “Kok bisa ya orang kepikiran nulis begini, kok saya nggak bisa,” ungkapnya.
Formula Menulis
Fajar menekankan riset sebagai kunci kekuatan prosa, bukan sekadar menuangkan emosi ke dalam tulisan. Ia menerapkan strategi theatre of mind, yakni menyelesaikan cerita di kepala sebelum menulisnya. “Saya menggambarkan dulu sampai ceritanya selesai, baru saya tulis,” ucapnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya judul dan kalimat pembuka sebagai bagian paling menentukan. “Judul itu membungkus semuanya dan kalimat awal itu paling mengenal,” tambahnya.
Keikhlasan dalam Menulis
Di sesi akhir, Bramantio menyoroti keberhasilan yang diraih Fajar adalah bukti bahwa proses pembacaan yang konsisten akan tumbuh menjadi kemampuan menulis yang semakin matang. “Pengalaman pembacaan pada masa-masa terdahulu akan membentuk bagaimana kemudian kita membaca sekaligus menulis pada hari ini,” ujar Bramantio.
Ia menegaskan bahwa menulis bukan sekadar menyelesaikan halaman-halaman, tetapi menjaga keikhlasan dalam proses kreatif hingga karya dapat benar-benar rampung. “Keikhlasan itulah yang menjadikan sebuah karya ini selesai atau belum,” tutupnya.
Kuliah Tamu Alumni Basasindo mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4 yaitu quality education.
Penulis : Priska Dwita Aulia
Editor : Mohammad Adif Albarado




