UNAIR NEWS – Hujan masih terus menyelimuti Pulau Sumatra, tak terkecuali Kecamatan Malalak, tempat relawan-relawan Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga (RSKKA) menjalankan misi kemanusiaan. Sebagian akses jalan juga masih terputus. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan upaya Tim Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga (RSKKA) melaksanakan pelayanan kesehatan pada Minggu (13/12/2025).
Berkolaborasi dengan Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), relawan RSKKA memberikan pelayanan bagi masyarakat terdampak bencana di Posko Birah Tinggi dan Puskesmas Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Sebanyak 107 pasien tercatat menerima layanan kesehatan dalam kegiatan tersebut.
Tenaga Medis dari Berbagai Bidang
Relawan medis yang hadir terdiri dari dokter umum dari berbagai bidang, dengan dukungan tenaga keperawatan, kebidanan, psikologi, kefarmasian, serta tenaga non-medis. Tidak hanya itu, kehadiran dokter spesialis obstetri dan ginekologi serta dokter spesialis kulit dan kelamin memungkinkan pelayanan berlangsung secara lebih optimal. Bahkan, dokter spesialis obstetri dan ginekologi turut melakukan pemeriksaan kehamilan menggunakan ultrasonografi (USG) di posko pelayanan bagi ibu hamil.

“Layanan kesehatan spesialistik tersebut kami dirikan dengan menghadirkan sejumlah dokter spesialis ke wilayah terdampak bencana, tepatnya di Puskesmas Kecamatan Malalak. Upaya tersebut berlangsung untuk menjawab kebutuhan layanan kesehatan masyarakat yang masih terbatas pascabencana,” ujar dr Zulfikar Salim, salah seorang relawan RSKKA.
Dalam kegiatan tersebut, tim juga menangani satu kasus kegawatdaruratan warga setempat yang mengalami penurunan kesadaran beserta dehidrasi berat. Tindakan resusitasi dan stabilisasi pasien telah mereka lakukan dan dan di bawah penanganan dokter spesialis. Namun, pasien tetap harus mendapat rujukan ke rumah sakit lanjutan akibat keterbatasan ketersediaan obat-obatan spesialistik serta reagen pemeriksaan darah penunjang di lokasi pelayanan.
Tantangan di Lokasi Terdampak
Dalam pelaksanaannya, tim relawan harus menghadapi tantangan berupa kondisi pascabencana yang berdampak pada keterbatasan akses jalan menuju lokasi pelayanan. “Perjalanan menuju Malalak membutuhkan waktu lebih lama dari biasanya. Meski demikian, kegiatan pelayanan kesehatan tetap dapat terlaksana sesuai dengan rencana,” imbuh dr Zulfikar.

Terputusnya akses jalan menuju rumah sakit rujukan di Kota Bukittinggi akibat longsor turut memperparah kondisi di lokasi. Jika dalam kondisi normal waktu tempuh hanya sekitar 30 menit, pascabencana perjalanan harus memutar hingga mencapai sekitar 4 jam 30 menit.
“Padahal, dengan ketersediaan obat dan sarana yang memadai, penanganan lanjutan sebenarnya dapat dilakukan langsung di lokasi pelayanan,” sambung dr Zulfikar. Kegiatan pelayanan kesehatan ini menjadi bagian dari upaya membantu pemulihan layanan kesehatan masyarakat di wilayah terdampak bencana. Sekaligus memperkuat kolaborasi lintas perguruan tinggi dalam misi kemanusiaan.
Penulis: Yulia Rohmawati





