Universitas Airlangga Official Website

Menggugah Nafsu Makan Hewan: Potensi Akupunktur sebagai Solusi Non-Farmakologis

Ilustrasi Kucing (Sumber: IDN Times)
Ilustrasi Kucing (Sumber: IDN Times)

Hewan yang menolak makan, atau mengalami penurunan nafsu makan, menghadapi beragam risiko kesehatan. Ketika konsumsi pakan menurun, hewan bisa kehilangan berat badan, sistem imun melemah, dan produktivitas apakah pada ternak, hewan kesayangan, atau hewan penelitian menjadi terhambat. Dalam praktik peternakan dan kedokteran hewan, stimulant makan farmakologis sering digunakan. Namun penggunaan obat dapat meninggalkan residu atau memicu hambatan resistensi mikroba. Di tengah tantangan itu, akupunktur muncul sebagai alternatif alami yang menjanjikan.

Tinjauan Sistematis atas Studi Akupunktur Hewan

Sebuah tinjauan sistematis mengumpulkan 27 penelitian hewan yang mengevaluasi efek akupunktur terhadap asupan pakan, perilaku makan, dan biomarker terkait. Karakteristik yang dianalisis meliputi spesies hewan, titik akupunktur yang digunakan, teknik (akupunktur manual, elektroakupunktur, dsb.), hasil yang dilaporkan, dan kualitas metodologi penelitian.

Dari keseluruhan studi, sekitar 81,5 % menunjukkan peningkatan signifikan dalam nafsu makan atau konsumsi pakan setelah perlakuan akupunktur, khususnya elektroakupunktur pada titik ST36 dan SP6. Respon terhadap terapi ini lebih cepat terlihat pada unggas dan babi, sementara hewan ruminansia menunjukkan perbaikan secara bertahap namun berkelanjutan. Analisis hormon dalam beberapa studi mengungkap kenaikan kadar ghrelin dan neuropeptida Y, serta penurunan konsentrasi kortisol yang semuanya berkaitan dengan regulasi nafsu makan.

Secara keseluruhan, tingkat bias (risiko kesalahan sistematis) pada penelitian-penelitian tersebut dinilai rendah hingga sedang. Penulis menyimpulkan bahwa akupunktur memiliki potensi sebagai intervensi non-farmakologis yang dapat meningkatkan nafsu makan melalui regulasi neuroendokrin. Metode ini pun cocok diterapkan dalam sistem produksi organik dan skema bebas obat. Namun penelitian lanjutan yang terstandarisasi dan berskala besar masih sangat dibutuhkan agar protokol klinis yang konsisten bisa dirumuskan dan efektivitas jangka panjang bisa diuji.

Bagaimana Akupunktur Mendorong Nafsu Makan?

Mekanisme utama akupunktur dalam meningkatkan nafsu makan tampaknya melalui modulasi sistem saraf dan hormon. Stimulasi titik-titik akupunktur tertentu bisa memicu peningkatan sekresi ghrelin, hormon yang menghasilkan sensasi lapar. Neuro­peptida Y juga dapat diaktifkan, memperkuat sinyal-sinyal yang mempromosikan konsumsi pangan. Di sisi lain, penurunan kadar kortisol sebagai hormon stres dapat membantu menciptakan lingkungan fisiologis yang lebih kondusif untuk makan. Dengan demikian, akupunktur bukan sekadar “menggugah selera” secara mekanis, tetapi mempengaruhi sistem pengatur pusat dan perifer tubuh.

Titik ST36 (Zusanli) dan SP6 (Sanyinjiao) secara konsisten muncul sebagai titik­-titik utama dalam banyak penelitian. Elektroakupunktur pada titik-titik ini dilaporkan relatif lebih efektif dibandingkan teknik akupunktur manual atau stimulasi ringan saja.

Kelebihan dan Batasan Pendekatan

Kelebihan utama akupunktur terletak pada sifatnya yang minim efek samping, non-invasif (sedikit trauma jaringan bila dilakukan dengan teknik benar), dan sidestream-nya tidak menyebabkan residu obat. Terapinya juga dapat diterapkan dalam sistem yang menekankan kesejahteraan hewan serta produksi bebas obat.

Namun, pendekatan ini tidak tanpa batasan. Beberapa penelitian masih menggunakan desain eksperimental kecil, tanpa kontrol plasebo (sham), atau tanpa blinding, yang meningkatkan kemungkinan bias pengamat. Variasi dalam protokol (jumlah sesi, durasi, parameter arus listrik, titik yang digunakan) juga membuat perbandingan antar penelitian sulit. Selain itu, hasil yang meluas ke hewan berbeda (misalnya, ruminansia besar) memerlukan verifikasi lebih lanjut.

Implikasi Praktis dan Rekomendasi Penelitian

Bagi praktisi peternakan atau dokter hewan yang tertarik menerapkan akupunktur sebagai strategi untuk mengatasi inappetensi hewan, beberapa catatan penting:

  1. Pemilihan titik dan teknik: Prioritaskan titik yang sudah banyak terbukti (ST36, SP6), dan pertimbangkan elektroakupunktur bila memungkinkan.
  2. Penjadwalan dan durasi: Karena respons bervariasi antar spesies, sesi secara rutin dan monitoring berkala sangat penting.
  3. Standarisasi protokol: Gunakan parameter yang konsisten agar hasil dapat dievaluasi dan dibandingkan.
  4. Pengukuran bukan hanya konsumsi pakan: Sertakan biomarker (hormon), perilaku makan, dan kondisi fisiologis lain sebagai indikator respons.
  5. Uji jangka panjang dan uji klinis: Untuk memastikan manfaat berkelanjutan dan dampak terhadap produktivitas maupun kesehatan hewan.

Penutup

Masalah hewan yang kehilangan nafsu makan merupakan tantangan dalam berbagai konteks: peternakan, hewan peliharaan, hingga hewan laboratorium. Akupunktur menawarkan jalan tengah sebagai metode non-obat yang mampu memicu perubahan fisiologis positif lewat modulasi sistem saraf dan hormon. Hasil dari 27 studi menunjukkan bahwa mayoritas hewan merespons dengan peningkatan konsumsi pakan, terutama melalui penggunaan elektroakupunktur pada titik-titik spesifik. Meskipun demikian, untuk menjadikan akupunktur sebagai metode standar dalam praktik veteriner, dibutuhkan penelitian yang lebih luas, metodologi kuat, dan protokol yang konsisten. Bila dijalankan dengan tepat, akupunktur dapat menjadi alat penting untuk mendukung kesehatan, kesejahteraan, dan produktivitas hewan tanpa risiko residu obat.

Ditulis oleh: Lintang Winantya Firdausy

Sumber: Zahrudin, E., Khairunnisa, H. K., Afandik, N. A., Herdiansyah, A. D., Çalışkan, H., & Firdausy, L. W. (2025). Acupuncture to Increase Animal Appetite: A Systematic Review. Jurnal Medik Veteriner8(2), 445–454.

Link: https://e-journal.unair.ac.id/JMV/article/view/76987/34063