Mengapa Otot Betis Disebut Jantung Kedua?
Tahukah Anda bahwa di dalam tubuh manusia, ada “jantung kedua” yang letaknya bukan di dada, melainkan di kaki bagian bawah? Ya, otot betis atau calf muscle berperan besar dalam memompa darah dari kaki kembali ke jantung. Saat otot ini berkontraksi dan relaksasi, tekanan darah di pembuluh vena meningkat dan membantu aliran darah melawan gravitasi menuju jantung.
Jika otot betis jarang digerakkan—seperti saat duduk terlalu lama di kantor, dalam perjalanan jauh, atau ketika kurang olahraga—darah bisa menggenang di tungkai bawah. Akibatnya, dapat muncul masalah seperti pembengkakan, varises, bahkan risiko deep vein thrombosis (DVT) yang berpotensi berbahaya.
Smartphone Jadi Alat Pantau Gerakan Otot
Dalam penelitian terbaru yang dilakukan oleh Fadli Ama (Universitas Airlangga) bersama Prof. Agus Muhamad Hatta dan tim dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), digunakan sensor akselerometer pada smartphone untuk memantau kontraksi otot betis dalam berbagai posisi kaki.
Alih-alih menggunakan alat laboratorium yang mahal dan rumit, penelitian ini memanfaatkan dua ponsel cerdas: satu ditempel di sisi betis, dan satu lagi di tumit. Sensor akselerometer di ponsel merekam perubahan percepatan saat kaki bergerak, lalu data tersebut dianalisis untuk mengukur kekuatan dan frekuensi kontraksi otot.
Dengan algoritma pengolahan sinyal yang dirancang khusus, tim peneliti dapat membedakan kapan otot betis sedang aktif berkontraksi dan kapan sedang istirahat. Semua data disaring, dinormalisasi, lalu diklasifikasi secara otomatis oleh sistem berbasis smartphone.
Eksperimen Delapan Posisi Kaki
Penelitian ini dilakukan pada seorang subjek pria berusia 26 tahun dengan kondisi tubuh sehat. Ia diminta melakukan delapan jenis posisi atau latihan kaki—seperti berdiri jinjit, menekuk pergelangan, hingga menekan tumit. Setiap posisi dilakukan selama satu menit sambil direkam oleh sensor ponsel.
Hasil analisis menunjukkan bahwa posisi kaki ke-5 (Knee Extension), 6 (Knee Extension with Plantarflexion), 7 (Ankle Rotation by Clockwise Foot Movement), dan 8 (Ankle Rotation by anti-clockwise Foot Movement) menghasilkan aktivitas kontraksi otot betis paling tinggi. Artinya, posisi-posisi ini paling efektif untuk melatih kekuatan otot betis dan menjaga sirkulasi darah agar tetap lancar.
Dari Laboratorium ke Kehidupan Sehari-hari
Penemuan ini bukan sekadar eksperimen teknis. Ia menunjukkan bahwa teknologi sederhana yang ada di genggaman—seperti smartphone—bisa menjadi alat bantu kesehatan yang praktis dan murah. Dengan metode ini, siapa pun dapat memantau aktivitas otot betisnya sendiri dan mengingatkan diri untuk tetap aktif menggerakkan dan melatih otot betis Anda secara rutin, terutama bagi mereka yang duduk lama di depan komputer atau sering bepergian jauh.
Dengan melakukan gerakan sederhana seperti meluruskan kaki atau memutar pergelangan kaki saat Anda duduk, Anda tidak hanya mencegah ketidaknyamanan seperti kram atau bengkak, tetapi juga secara aktif membantu jantung utama Anda memompa darah, serta mencegah risiko penyakit vaskular serius. Seperti disampaikan oleh peneliti utama, “Otot betis tidak hanya penting untuk berdiri dan berjalan, tetapi juga vital bagi kesehatan pembuluh darah. Melatihnya berarti menjaga kerja jantung dan mencegah terjadinya penyakit vaskular.”
Selain itu, temuan ini juga bisa menjadi dasar pengembangan aplikasi latihan kaki berbasis sensor ponsel, yang dapat membantu rehabilitasi pasien dengan gangguan sirkulasi darah atau kelemahan otot tungkai bawah.
Dengan demikian, penelitian ini mengingatkan kita semua bahwa menjaga kesehatan bisa dimulai dari langkah kecil—secara harfiah—dengan menggerakkan kaki.
Kesimpulan
Melalui kombinasi antara sensor akselerometer dan analisis data cerdas, penelitian ini membuka jalan bagi teknologi pemantauan otot betis berbasis smartphone. Inovasi ini tidak hanya berkontribusi pada dunia teknik biomedis, tetapi juga membawa manfaat langsung bagi masyarakat luas dalam mencegah gangguan sirkulasi dan menjaga kebugaran. Program latihan yang menargetkan gerakan meluruskan lutut (knee extension) dan rotasi pergelangan kaki adalah cara yang efisien untuk meningkatkan kekuatan dan fungsi otot betis.
Referensi:
- Hasil penelitian ini telah dipresentasikan pada The 4th International Conference on Physical Instrumentation and Advance Materials (ICPIAM) 2023 di Surabaya, Indonesia pada tanggal 24 Oktober 2023. Berikut ini adalah link dari artikel tersebut:
https://doi.org/10.1063/5.0287127
- Fadli Ama, Agus Muhamad Hatta, Katherin Indriawati, Frans R. Agustiyanto. Analysis of calf muscle contraction in various foot postures using an accelerometer sensor on a smartphone. AIP Conf. Proc. 3346, 020009 (2025). https://doi.org/10.1063/5.0287127
- Penulis: Fadli Ama, S.T., M.T.





