Penelitian ini menganalisis strategi keuangan yang diterapkan oleh Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) di Surabaya, Indonesia, selama pandemi COVID-19, dengan fokus pada upaya rumah sakit dalam mengatasi ketidakpastian finansial akibat perubahan kebijakan penggantian biaya dan meningkatnya kompleksitas perawatan. Rumah sakit publik, yang sangat bergantung pada dana dari pemerintah, menghadapi tantangan berat dalam mempertahankan kelangsungan operasionalnya akibat peralihan sistem pembayaran yang cepat, yang dimulai dari penutupan biaya penuh oleh pemerintah, kemudian sistem pembayaran per hari, dan akhirnya sistem INA-CBGs (Kelompok Kasus Berbasis Indonesia). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana strategi keuangan rumah sakit dijalankan dalam menghadapi perubahan sistem pembayaran ini, serta bagaimana rumah sakit memanfaatkan sumber daya internal untuk menjaga keberlanjutan keuangannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran (mixed-methods), yang mencakup analisis kuantitatif terhadap 547 klaim pasien COVID-19 yang dirawat di RSUA antara April 2020 hingga Mei 2021, serta wawancara kualitatif dengan manajer keuangan rumah sakit untuk mendapatkan wawasan mendalam mengenai strategi yang diterapkan untuk mengatasi ketidakpastian keuangan. Penelitian ini fokus pada kesenjangan antara biaya perawatan yang sebenarnya dan penggantian yang diterima oleh rumah sakit di bawah sistem pembayaran yang berbeda, serta strategi internal yang diterapkan rumah sakit untuk mengelola ketidakpastian ini.
Pada fase awal pandemi, ketika regulasi mengenai penggantian biaya untuk pasien COVID-19 belum ditetapkan, rumah sakit menghadapi tekanan finansial yang luar biasa. Rumah sakit terpaksa menanggung biaya tak terduga, seperti pengadaan alat pelindung diri (APD), pembelian alat diagnostik, dan pembangunan ruang isolasi, sementara belum ada mekanisme penggantian biaya yang jelas. Dalam menghadapi situasi ini, rumah sakit mengadopsi strategi realokasi anggaran, yang mencakup pemindahan dana yang sebelumnya dialokasikan untuk perjalanan dinas ke kebutuhan COVID-19 yang mendesak. Selain itu, rumah sakit juga mengurangi biaya operasional untuk kegiatan yang tidak berkaitan langsung dengan perawatan pasien COVID-19, seperti pertemuan dan perjalanan dinas yang tidak penting. Untuk memaksimalkan pemanfaatan sumber daya manusia, rumah sakit juga merelokasi staf medis yang sebelumnya tidak terlibat dalam perawatan COVID-19 untuk mendukung perawatan pasien COVID-19. Langkah-langkah ini menunjukkan bagaimana rumah sakit memanfaatkan sumber daya internal yang ada untuk mengatasi ketidakpastian eksternal, sesuai dengan teori Resource-Based View (RBV), yang menekankan pentingnya pemanfaatan sumber daya internal yang unik untuk merespons tantangan eksternal. Pada fase berikutnya, setelah sistem pembayaran per hari diterapkan pada bulan April 2020, rumah sakit mengadopsi strategi efisiensi biaya yang lebih ketat. Di bawah sistem pembayaran ini, rumah sakit dapat mengklaim biaya perawatan berdasarkan jumlah hari rawat inap pasien. RSUA menerapkan kontrol ketat terhadap penggunaan APD, membatasi jumlah staf medis yang berada di ruang isolasi, dan mewajibkan persetujuan dari direktur untuk prosedur medis dengan biaya tinggi. Strategi-strategi ini membantu rumah sakit untuk memperoleh surplus sebesar IDR 4,05 miliar untuk pasien COVID-19 dengan kategori terduga dan terkonfirmasi. Meskipun surplus ini menunjukkan keberhasilan dalam mengelola biaya, rumah sakit tetap menghadapi tantangan besar dalam menutup kesenjangan antara biaya aktual dan pembayaran yang diterima. Pada fase terakhir, ketika sistem INA-CBGs COVID-19 diterapkan pada Oktober 2021, rumah sakit mengalami defisit yang signifikan, baik pada kategori pasien terduga maupun terkonfirmasi. Meskipun sistem ini dimaksudkan untuk memberikan penggantian biaya yang lebih akurat, tarif yang ditetapkan tidak sepenuhnya mencakup biaya perawatan yang sebenarnya. Rumah sakit mengalami defisit sebesar IDR 45,59 miliar selama fase INA-CBGs ini, yang menunjukkan ketidaksesuaian antara tarif penggantian biaya dan biaya operasional yang dikeluarkan rumah sakit untuk merawat pasien COVID-19.
Kesimpulannya, penelitian ini menyoroti pentingnya pemanfaatan sumber daya internal, perencanaan strategis, dan kolaborasi antar departemen dalam menjaga keberlanjutan keuangan rumah sakit selama krisis. Meskipun rumah sakit menghadapi tantangan besar akibat perubahan kebijakan pembayaran yang cepat, strategi internal yang diterapkan, seperti realokasi anggaran, efisiensi biaya, dan pengembangan jalur klinis, memungkinkan rumah sakit untuk bertahan secara finansial. Temuan ini memberikan wawasan yang berharga bagi pengambil kebijakan dan manajer rumah sakit untuk mengembangkan mekanisme penggantian biaya yang lebih fleksibel dan adaptif, serta memperkuat kemampuan rumah sakit dalam menghadapi krisis kesehatan di masa depan.
Informasi lebih lanjut bisa diakses melalui link berikut:
Penulis: Sri Ningsih, Abdulloh Machin, Iman Harymawan, Nurul Fitriani, Prima Ramadhany





