Penyakit hati berlemak non-alkoholik (Nonalcoholic Fatty Liver Disease/NAFLD), suatu kondisi yang kini memengaruhi hingga satu dari empat orang dewasa di seluruh dunia, ditandai dengan penumpukan lemak di hati. Penyakit ini bersifat progresif dan dapat berkembang menjadi peradangan yang disertai pembentukan jaringan parut (fibrosis) di hati, yang dikenal sebagai steatohepatitis non-alkoholik(NASH). Meski telah menjadi penyebab terbesar penyakit hati kronis, dengan prevalensi yang kian meningkat, baru satu obat yang mendapat persetujuan edar dari food and drug administration (FDA), yakni Resmetirom (Rezdiffra), yang diindikasikan untuk penderita NASH fibrosis tanpa sirosis. Obat ini bekerja melalui mekanisme aktivasi reseptor tiroid β yang meningkatkan pembakaran lemak hati. Keterbatasan pilihan terapi untuk kondisi yang dapat berujung pada kegagalan hati dengan transpalantasi sebagai satu-satunya penyelamat, memicu peneliti di berbagai belahan dunia terus berupaya menemukan terapi efektif yang menargetkan jalur metabolik kunci dalam pembentukan lemak hati.
Salah satu target utama yang menjanjikan adalah acetyl-CoA carboxylase (ACC), enzim penting dalam langkah awal de novo lipogenesis — proses pembentukan lemak dari Acetyl CoA, hasil metabolisme karbohidrat di dalam tubuh. Dengan menghambat enzim ini, diharapkan pembentukan lemak hati dapat ditekan sehingga progresi penyakit dapat dicegah.
Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis terhadap enam uji klinis acak yang melibatkan 655 peserta dewasa menunjukkan bahwa inhibitor ACC, seperti firsocostat dan clesacostat, mampu menurunkan kadar lemak hati dan enzim hati secara signifikan. Pasien NASH yang mendapat terapi ini mengalami penurunan bermakna pada lemak hati dan alanin aminotransferase (ALT), yang menjadi indikator utama perbaikan fungsi hati.
Namun, hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Pharmaceuticals tersebut juga mengungkap sisi lain yang perlu diwaspadai: risiko hipertrigliseridemia meningkat hingga sepuluh kali lipat dibanding kelompok kontrol. Selain itu, kadar alkaline phosphatase (ALP) dan gamma-glutamyl transferase (GGT), penanda gangguan empedu juga meningkat, sementara fibrosis hati tidak menunjukkan perbaikan bermakna.
Meskipun efek samping serius jarang terjadi dan sebagian besar peserta dapat mentoleransi obat dengan baik, para peneliti menekankan pentingnya kehati-hatian terhadap risiko hipertrigliseridemia jangka panjang, yang dapat memicu penyakit kardiovaskular, terutama pada pasien dengan gangguan metabolik. Inhibisi ACC efektif menurunkan lemak hati, namun efek metaboliknya harus dikelola dengan cermat. Apalagi baru-baru ini, para ahli hepatologi mengajukan perubahan nomenklatur NAFLD menjadi metabolic-dysfunction associated steatotic liver disease (MASLD), yang menekankan identifikasi dan penatalaksanaan gangguan metabolik sistemik pada penyakit perlemakan hati.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: Hasanatuludhhiyah, N.; Mustika, A.; Kalanjati, V.P.; Miftahussurur, M.; Uemura, N. Acetyl-CoA Carboxylase Inhibitors for Nonalcoholic Fatty Liver Disease: A Systematic Review and Meta-Analysis of Randomized Controlled Trials. Pharmaceuticals 2025, 18, 1276. https://doi.org/10.3390/ph18091276





