Penggunaan sinar-X di bidang medis semakin meningkat, baik untuk tujuan terapeutik maupun diagnostik. Selain memberikan manfaat tetapi juga efek samping, seperti kerusakan DNA dan protein akibat radikal bebas. Kelebihan radikal bebas dalam sel menyebabkan stres oksidatif. Ketidakseimbangan ini memicu peradangan dan apoptosis, yang merangsang proses penyembuhan luka pasca pencabutan gigi akibat berkurangnya jumlah sel fibroblas. Penghambatan proses penyembuhan ini menyebabkan inflamasi yang berkepanjangan dan akhirnya terjadi apoptosis sel. Respon imun yang dipicu oleh sitokin proinflamasi dihambat oleh sitokin anti-inflamasi. Salah satu sitokin anti-inflamasi yang berperan dalam mengendalikan respons sitokin pro-inflamasi adalah IL-10. Sementara itu, regulasi apoptosis bergantung pada protein BCL-2 sebagai faktor anti-apoptosis melalui regulasi fungsi membran mitokondria.
Mengingat dampak signifikan yang disebabkan oleh radiasi pengion, yang meningkatkan jumlah radikal bebas dan menyebabkan peradangan, berbagai bahan proteksi radiasi juga telah dikembangkan. Penggunaan senyawa alami dari tanaman herbal dapat menjadi salah satu alternatif, salah satunya adalah buah mengkudu. Mengkudu (Morinda Citrifolia L.) mengandung senyawa aktif, terutama flavonoid dan antrakuinon, yang memiliki efek utama sebagai antioksidan, agen antiinflamasi, dan pelindung sistem kekebalan tubuh. Senyawa antioksidan dan antiinflamasi bioaktif dapat digunakan sebagai radioprotektor, yaitu agen yang diperlukan untuk melindungi sistem biologis atau sel normal yang terpapar radiasi.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan potensi ekstrak buah mengkudu (Morinda citrifolia L.) sebagai radioprotektor melalui ekspresi IL-10 dan BCL-2 dalam kultur sel fibroblas (in vitro).
Metode. Ekstrak buah mengkudu dibuat dari bubuk buah mengkudu yang digiling halus, ditempatkan dalam wadah kaca, kemudian diekstraksi menggunakan teknik maserasi dengan etanol 96%. Selanjutnya, ekstrak buah mengkudu (Morinda citrifolia L.) dengan berbagai konsentrasi ditambahkan tetes demi tetes ke dalam kultur sel BHK-21 untuk pengujian imunositokimia setelah paparan radiasi. Ekspresi protein IL-10 dan Bcl-2 diamati melalui analisis imunositokimia pada sel fibroblast.
Hasil.Pengamatan imunositokimia menunjukkan bahwa ekspresi Bcl-2 lebih rendah pada kelompok kontrol tanpa pemberian ekstrak dan yang terpapar radiasi, baik pada hari ke-3 maupun hari ke-7. Hal ini menunjukkan potensi terjadinya apoptosis yang dipicu oleh kerusakan DNA yang disebabkan oleh radikal bebas akibat paparan radiasi.Sementara itu, ekspresi IL-10 pada kelompok kontrol pada hari ke-7 lebih tinggi dibandingkan dengan hari ke-3. Fungsi IL-10 adalah untuk menghambat pelepasan sitokin pro-inflamasi.
Pada kelompok perlakuan dengan konsentrasi ekstrak buah mengkudu 12 mg/100 mL dan 6 mg/100 mL, ekspresi Bcl-2 lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol tanpa ekstrak buah mengkudu pada hari ke-3 dan ke-7. Hal ini terkait dengan peran penting protein Bcl-2 dalam mengatur apoptosis melalui jalur mitokondria. Bcl-2 bertindak sebagai pengatur apoptosis yang berfungsi sebagai agen anti-apoptosis, menghambat proses apoptosis. Pemberian ekstrak buah mengkudu memengaruhi hambatan apoptosis, karena mengandung senyawa bioaktif dengan sifat antioksidan.
Hasil pemeriksaan IL-10 menunjukkan peningkatan yang signifikan antara kelompok kontrol pada hari ke-3 dan ke-7 dibanding yang menggunakan ekstrak mengkudu. Hal ini menunjukkan bahwa lebih banyak agen anti-inflamasi yang diproduksi atau dilepaskan ekstrak mengkudu.
Kesimpulan. Ekstrak buah mengkudu (Morinda citrifolia L.) mempunyai potensi sebagai radioprotektor dengan menghambat apoptosis dan inflamasi melalui peningkatan ekspresi Bcl-2 dan IL-10.KHASIAT EKSTRAK BUAH MENGKUDU (MORINDA CITRIFOLIA L.) SEBAGAI RADIOPELINDUNG MELALUI EKSPRESI IL-10 DAN BCL2 DALAM KULTUR SEL FIBROBLAS
Penulis: Dr. Sri Wigati Mardi Mulyani, drg., M.Kes.





