Universitas Airlangga Official Website

Bukan Sekadar Teman Curhat: Peran Dukungan Sosial dalam Menjaga Kesehatan Mental Mahasiswa di Masa Pandemi

ILUSTRASI pemakaian masker yang benar. (Foto: kompas.com)
ILUSTRASI pemakaian masker yang benar. (Foto: kompas.com)

Pandemi COVID-19 menjadi masa paling menantang bagi mahasiswa di Indonesia. Berbulan-bulan belajar dari rumah, terputus dari lingkungan kampus, dan menghadapi ketidakpastian akademik membuat banyak mahasiswa mengalami tekanan psikologis. Namun sebuah penelitian berjudul “The Relationship Between Peer and Familial Social Support and Mental Well-Being of Indonesian College Students During the COVID-19 Pandemic” menunjukkan bahwa ada “penyelamat” penting yang sering kali kita abaikan: dukungan sosial dari teman dan keluarga.

Teman dan Keluarga, Dua Sumber Energi Mental yang Berbeda

Penelitian ini menemukan bahwa dukungan sosial baik dari teman sebaya maupun keluarga memiliki hubungan yang kuat dengan kesejahteraan mental mahasiswa selama pandemi. Mahasiswa yang merasa didengarkan, diajak berbicara, atau diberi semangat oleh keluarga dan sahabat terbukti memiliki tingkat stres yang lebih rendah dan perasaan lebih positif.

Dukungan dari teman sebaya menjadi penting karena mereka berada dalam situasi yang sama: sama-sama kuliah dari rumah, menghadapi penugasan daring, dan tekanan akademik yang meningkat. Teman menjadi tempat berbagi pengalaman dan saling menguatkan. Sementara itu, dukungan keluarga memberi rasa aman secara emosional, apalagi ketika banyak mahasiswa harus kembali ke rumah dan menghabiskan seluruh waktunya bersama keluarga.

Kesehatan mental tidak hanya ditentukan oleh kemampuan seseorang mengelola emosinya, tetapi juga oleh hubungan sosial yang dimilikinya. Di antara berbagai bentuk dukungan sosial, peran teman menjadi faktor yang signifikan berhubungan dengan kesehatan mental mahasiswa khususnya dalam era pandemi COVID-19.

1. Teman Sebagai Penyedia Dukungan Emosional

Teman adalah orang yang biasanya kita hubungi ketika sedang stres, lelah, atau butuh cerita. Ketika seseorang merasa didengarkan dan dipahami oleh temannya, hormon stres seperti kortisol menurun, dan perasaan nyaman meningkat. Itulah sebabnya sekadar ngobrol dengan teman bisa terasa sangat melegakan.

2. Tempat Berbagi Pengalaman yang Sama

Berbeda dengan keluarga, teman—terutama teman sebaya—sering berada dalam situasi yang sama. Mereka menghadapi tekanan akademik, masalah hubungan, atau kecemasan masa depan yang serupa. Kesamaan pengalaman ini membuat dukungan mereka terasa lebih relevan dan nyata.

3. Membangun Identitas dan Rasa Percaya Diri

Interaksi dengan teman membantu seseorang memahami dirinya sendiri. Ketika teman memberi apresiasi, mengakui kemampuan kita, atau memberikan umpan balik positif, hal ini dapat meningkatkan rasa percaya diri dan harga diri.

4. Mengurangi Risiko Depresi dan Kesepian

Hubungan pertemanan yang baik terbukti menurunkan risiko depresi, kecemasan, dan rasa kesepian. Kehadiran teman membuat seseorang merasa tidak sendirian, terutama saat menghadapi masa sulit seperti pandemi, masalah akademik, atau tekanan sosial.

5. Teman sebagai Sistem Pendukung dalam Pemulihan

Bagi seseorang yang sedang mengalami masalah psikologis, memiliki teman yang suportif dapat mempercepat proses pemulihan. Teman dapat membantu mendorong kebiasaan sehat, menemani berkonsultasi, atau sekadar menjadi pengingat bahwa ada orang yang peduli.

6. Membantu Regulasi Emosi

Percakapan dengan teman sering membantu seseorang mengolah emosinya. Ketika menceritakan masalah, seseorang sebenarnya sedang “memproses ulang” perasaannya, sehingga lebih mudah memahami situasi dan menemukan solusi.

Kesejahteraan Mental Bukan Hanya Soal Tidak Stres

Penelitian ini tidak hanya fokus pada gejala stres atau kecemasan, tetapi pada mental well-being secara keseluruhan yakni perasaan bahagia, kemampuan mengelola emosi, dan kepuasan hidup. Hasilnya menunjukkan bahwa mahasiswa yang memiliki dukungan sosial baik cenderung lebih optimis, lebih mudah beradaptasi, dan lebih mampu menyelesaikan masalah selama pandemi.

Mengapa Temuan Ini Penting?

Pandemi telah mengajarkan bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Kampus sering hanya fokus pada aspek akademik, padahal faktor sosial juga berperan besar dalam menentukan keberhasilan studi mahasiswa. Temuan penelitian ini menegaskan bahwa:

  1. Mahasiswa membutuhkan ruang untuk saling terhubung, meskipun secara daring.
  2. Keluarga berperan penting menyediakan lingkungan yang suportif.
  3. Program kampus perlu memasukkan aspek dukungan sosial dalam layanan kesehatan mental.

Peran Kampus dan Masyarakat

Kampus dapat mengembangkan program pendampingan teman sebaya (peer support), konseling yang mudah diakses, dan kegiatan daring yang dapat menjaga koneksi sosial mahasiswa. Orang tua juga perlu memahami kondisi psikologis anak di masa pandemi, bukan sekadar menuntut prestasi akademik.

Link artikel: https://jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/MPPKI/article/view/7849/5917

Penulis: Yuli Puspita Devi