Universitas Airlangga Official Website

Telemonitoring: Terobosan Baru dalam Menekan Rawat Inap Ulang Pasien Jantung Koroner

Status Gizi, Prediktor Lama Tinggal di RS Pada Pasien Covid-19
Ilustrasi Pasien Rawat Inap (sumber: Tribunnews)

Penyakit jantung koroner sudah lama dikenal sebagai pembunuh nomor satu di dunia. Namun di balik angka kematian yang tinggi, ada masalah lain yang tak kalah serius: banyak pasien kembali masuk rumah sakit dalam waktu singkat setelah dinyatakan pulang. Kondisi ini menjadi beban berat, bukan hanya bagi pasien dan keluarga, tetapi juga bagi rumah sakit dan sistem pelayanan kesehatan.

Berangkat dari keresahan tersebut, tim peneliti dari Universitas Airlangga melakukan sebuah studi untuk mencari solusi yang lebih efektif. Mereka ingin tahu: apakah telemonitoring—pemantauan kondisi pasien dari jarak jauh—mampu membantu pasien jantung koroner menjaga kesehatannya dan mencegah rawat inap ulang?

Penelitian ini dilakukan di RSUD Jombang dan melibatkan 100 pasien yang didiagnosis dengan penyakit jantung koroner. Sebagian besar berusia lanjut, berjenis kelamin laki-laki, dan memiliki tingkat pendidikan yang relatif rendah. Kondisi ini membuat mereka rentan mengalami kesulitan dalam memahami instruksi medis dan merawat diri pascapulang dari rumah sakit.

Sejak awal, tim peneliti menemukan fakta yang cukup mengkhawatirkan. Sebelum diberikan intervensi apa pun, satu dari empat pasien mengalami rawat inap lebih dari dua kali. Tidak seorang pun yang benar-benar berhasil menghindari rawat inap ulang. Hal ini menunjukkan adanya celah besar dalam proses pendampingan dan perawatan jangka panjang bagi pasien jantung koroner.

Untuk menjawab persoalan tersebut, tim peneliti memperkenalkan sebuah program manajemen perawatan jantung yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien. Program ini terdiri dari berbagai komponen sederhana namun krusial: edukasi kesehatan dalam bahasa yang mudah dipahami, pelibatan aktif anggota keluarga, pemantauan jarak jauh melalui telemonitoring, serta follow-up rutin untuk memastikan pasien benar-benar memahami dan menjalankan perawatan yang dianjurkan.

Pendekatan ini terbukti membawa perubahan besar.

Setelah mengikuti program perawatan tersebut, pasien menunjukkan perkembangan yang signifikan. Jumlah pasien yang kembali dirawat lebih dari dua kali turun drastis dari 25 persen menjadi hanya 5 persen. Di sisi lain, jumlah pasien yang tidak mengalami rawat inap ulang meningkat dari 0 persen menjadi 25 persen. Secara statistik, perubahan ini dinyatakan sangat signifikan.

Melalui telemonitoring, tenaga kesehatan dapat memantau kondisi pasien secara lebih dekat tanpa kehadiran langsung. Pasien pun memiliki saluran komunikasi yang lebih cepat dan mudah ketika gejala perburukan mulai muncul. Hal ini membantu mereka mendapatkan penanganan yang sesuai sebelum kondisinya menjadi parah.

Bagi pasien yang memiliki keterbatasan dalam memahami istilah medis atau mengingat instruksi dokter, edukasi yang diberikan berulang kali melalui telemonitoring menjadi penopang penting dalam proses pemulihan. Sementara itu, keterlibatan keluarga membantu memastikan bahwa pasien tidak menjalani proses perawatan seorang diri.

Temuan ini memberi pesan penting bagi rumah sakit dan penyelenggara layanan kesehatan. Telemonitoring tidak hanya sebuah inovasi teknologi; ia bisa menjadi jembatan yang menghubungkan pasien dengan tenaga kesehatan secara lebih manusiawi dan berkelanjutan. Dengan pemantauan yang konsisten, edukasi yang sederhana, dan dukungan keluarga, pasien memiliki peluang lebih besar untuk mengelola penyakitnya secara mandiri dan mencegah kekambuhan.

Bagi Universitas Airlangga, penelitian ini juga menegaskan komitmen institusi dalam menghadirkan solusi nyata bagi masalah kesehatan masyarakat. Pendekatan telemonitoring memberikan harapan baru dalam penanganan penyakit kronis, khususnya bagi kelompok yang paling rentan.

Di tengah meningkatnya kebutuhan akan layanan kesehatan yang lebih efektif, temuan ini layak menjadi pertimbangan untuk diterapkan lebih luas. Jika dikembangkan dengan baik, telemonitoring bukan hanya membantu mengurangi angka rawat inap ulang, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup pasien jantung koroner secara keseluruhan.

Peneliti: Dr. Hariyono, M.Kep Dosen Sekiolah Pascasarjana Unair

Link penelitian : https://journal.unnes.ac.id/journals/kemas/article/view/24553