UNAIR NEWS – Di tengah munculnya berbagai krisis global, sistem ekonomi kapitalis belum sepenuhnya mampu menawarkan solusi yang berorientasi pada keadilan dan kesejahteraan manusia. Menyikapi persoalan tersebut, Perpustakaan Universitas Airlangga (UNAIR) berkolaborasi dengan Komunitas Celengan Kata Indonesia menggelar webinar sekaligus bedah buku bertajuk Merekonstruksi Paradigma Ekonomi: Apakah Syariah Menjadi Jalan Tengah Peradaban.
Kegiatan tersebut berlangsung pada Kamis (18/12/2025) melalui Zoom Meeting. Dalam kesempatan tersebut, La Himmah il Princess Choris hadir sebagai pemateri. Ia merupakan salah satu penulis buku Ekonomi Syariah: Fondasi, Prinsip, dan Aplikasinya dalam Dunia Modern yang menjadi bahan utama dalam sesi bedah buku.
Kegagalan Ekonomi Kapitalis
La Himmah mengawali pemaparannya dengan menjelaskan konsep ekonomi kapitalis. Ia mengungkapkan bahwa sistem tersebut muncul pada abad ke-18 seiring dengan Revolusi Industri dan membawa perubahan besar dalam tatanan ekonomi dunia. Sejak awal kemunculannya, ekonomi kapitalis menitikberatkan pada keuntungan.
“Sistem ekonomi kapitalis sudah lebih dari 300 tahun dan sulit sekali menandinginya. Hal ini karena mereka menawarkan tiga legacy, seperti menjunjung tinggi hak pribadi, pasar bebas dan mekanisme harga tergantung supply-demand, serta compound interest atau bunga majemuk,” ujarnya.
Namun, prinsip-prinsip tersebut justru memunculkan berbagai problematika dalam praktiknya. Salah satunya adalah penerapan bunga majemuk yang dinilai berkontribusi terhadap ketimpangan ekonomi di masyarakat.
“Pemodal yang banyak uangnya jadi makin kaya, yang minjem uang jadi sengsara,” ucap La Himmah.
La Himmah menambahkan bahwa kelemahan sistem ekonomi kapitalis semakin terlihat ketika dunia menghadapi krisis global, seperti pandemi Covid-19. Krisis tersebut memperlihatkan kerentanan ekonomi kapitalis dalam melindungi kelompok rentan sekaligus memperlebar kesenjangan sosial di tengah masyarakat.
Pembaharuan Sistem
La Himmah menilai kehadiran ekonomi syariah sebagai sistem yang lebih mengedepankan keadilan, keseimbangan, dan tanggung jawab sosial menjadi jawaban atas persoalan akibat ekonomi kapitalis tersebut. Meskipun pada awal kemunculannya, tahun 1991, sempat diragukan oleh berbagai pihak, ekonomi syariah berhasil membuktikan diri.
Pada tahun 1998 saat krisis moneter, bank berbasis syariah, tepatnya Bank Muamalat Indonesia, lebih paham akan persoalan dan berusaha menampilkan solusi nyata. “Bank Muamalat Indonesia bisa stay strong waktu itu karena asetnya banyak yang bukan di sektor keuangan, tapi sektor riil,” tuturnya.
Ekonomi syariah mengutamakan prinsip keberlanjutan yang mementingkan dampak jangka panjang, sehingga orientasinya lebih terfokus pada sektor riil, seperti pengembangan usaha produktif dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dengan berbagai keunggulan tersebut, La Himmah berharap masyarakat mulai beranjak dari sistem ekonomi kapitalis ke ekonomi syariah.
Penulis: Selly Imeldha
Editor: Khefti Al Mawalia





