Kanker kolorektal (CRC) merupakan salah satu jenis kanker paling sering dan mematikan di dunia, dengan estimasi 1,9 juta kasus baru dan 0,9 juta kematian secara global pada tahun 2020. Di Indonesia, CRC memiliki angka insidensi 8,6% dan angka kematian 7,9%, sehingga menjadi beban kesehatan nasional yang signifikan. Sekitar 70% CRC bersifat sporadik, sedangkan 20–30% menunjukkan komponen herediter seperti Sindrom Lynch dan familial adenomatous polyposis (FAP). Beberapa gen berperan besar dalam perkembangan CRC, seperti TP53, KRAS, BRAF, COL-3A1, danSOCS-2. Mutasi atau perubahan ekspresi pada gen-gen tersebut dapat mendorong proliferasi sel, resistensi apoptosis, hingga metastasis. Studi ini bertujuan menilai hubungan antara stadium klinis CRC dengan tingkat ekspresi TP53, KRAS, BRAF, COL-3A1, dan SOCS-2, serta kaitannya dengan kejadian metastasis jauh.
Berdasarkan latarbelakang tersebut, peneliti dari Oita University, Jepang bekerjasama dengan peneliti dari Divisi Gastroentero-Hepatology, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Universitas Airlangga melakukan penelitian kepada pasien yang menjalani kolonoskopi dan pertama kali didiagnosis menderita kanker kolorektal di RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada tahun 2021–2024, menggunakan analisis imunohistokimia.
Sebanyak 63 pasien CRC diikutsertakan dalam penelitian ini. Analisis menunjukkan bahwa tingkat ekspresi gen penekan tumor TP53 memiliki korelasi terbalik dengan perkembangan stadium klinis. Penelitian ini juga menilai perbedaan tingkat ekspresi TP53, BRAF, KRAS, COL-3A1, dan SOCS-2 antara pasien CRC dengan dan tanpa metastasis jauh. Dari kelima penanda histologis, pasien dengan metastasis jauh memiliki ekspresi TP53 yang secara signifikan lebih rendah dibandingkan mereka yang tanpa metastasis. Hal ini mengindikasikan adanya penurunan regulasi TP53 pada pasien kanker kolorektal metastatik. Meskipun BRAF, KRAS, COL-3A1, dan SOCS-2 tidak berkaitan dengan parameter klinis, keempatnya menunjukkan korelasi langsung dengan ekspresi TP53, tetapi tidak berhubungan dengan metastasis organ tertentu seperti hati, paru, atau tulang.
Mutasi inaktif TP53 relatif jarang ditemukan pada lesi prakanker, namun jauh lebih sering ditemukan pada kanker invasif. Karena ekspresi TP53 masih relatif tinggi pada kanker stadium awal, hasil ini mengindikasikan bahwa sebagian besar pasien CRC di Indonesia kemungkinan tidak berkembang dari penyakit radang usus. Lesi kanker yang berhubungan dengan kolitis memiliki profil genetik yang berbeda—umumnya membawa mutasi TP53, IDH1, dan MYC, sementara mutasi APC dan KRAS lebih jarang dijumpai. Pada CRC terkait kolitis, hilangnya heterozigositas TP53 justru terjadi pada tahap awal patogenesis kanker.
Klasifikasi kanker kolorektal sangat penting untuk memprediksi prognosis dan menentukan strategi terapi. Pada tahun 2015, konsorsium subtipe CRC menyatukan berbagai metode klasifikasi molekuler menjadi satu sistem baku, yaitu consensus molecular subtype (CMS). Studi ini menunjukkan bahwa pasien CRC di Indonesia didominasi oleh tumor primer yang terletak di sisi kiri kolon dan rektum. Selain itu, hubungan terbalik antara ekspresi TP53 dan perkembangan stadium klinis mengindikasikan bahwa hilangnya aktivitas P53 terjadi pada fase akhir perjalanan penyakit. Kedua temuan ini konsisten dengan karakteristik CMS2, yang dikenal sebagai subtipe kanonik CRC.
CMS2 ditandai oleh mutasi TP53 dan EGFR, ketidakstabilan kromosom, perubahan jumlah salinan gen, serta tingkat hipermutasi yang rendah. Subtipe ini mengikuti jalur karsinogenesis adenoma–karsinoma, dimulai dari hilangnya APC pada fase awal, diikuti mutasi KRAS, dan diakhiri dengan hilangnya TP53. Pada CMS2, jalur sinyal Wnt tetap aktif, menyebabkan akumulasi β-catenin yang kemudian mengaktifkan gen regulator siklus sel pro-onkogenik seperti c-Myc dan cyclin D1. Di antara keempat subtipe molekuler CRC, CMS2 memiliki prognosis terbaik, dengan angka kelangsungan hidup lima tahun mencapai 77% dan median kelangsungan hidup sekitar tiga tahun pada penyakit metastasis.
Penulis: Prof. M. Miftahussurur, dr., M. Kes., Sp.PD-KGEH., Ph.D
Detail penelitian bisa diakses di: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/downregulation-of-the-tumor-suppressor-p53-gene-associated-with-t/





