Universitas Airlangga Official Website

Menjelang Hari Ibu, Tim UNAIR Bantu Proses Persalinan di Tengah Keterbatasan

Suasana usai persalinan keempat tim medis UNAIR di Aceh Tamiang (Foto: Dok. Narasumber)

UNAIR NEWS – Sejak Senin (8/12/2025), Tim Tanggap Bencana UNAIR untuk Sumatra telah melakukan pelayanan kesehatan di Aceh Tamiang. Tim ini terdiri dari Fakultas Kedokteran (FK), Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Fakultas Keperawatan (FKp), dan RS Universitas Airlangga. 

Gelombang pertama penerjunan tim, terdiri dari 9 anggota, dengan rincian 2 residen anestesi, 2 residen penyakit dalam, 2 dokter umum, 2 bidan, 2 perawat dan 1 dosen. Mereka menyusul tim Aju pembuka jalan ke Aceh Tamiang yang sudah berangkat sejak Jumat (5/12/2025). Tim Aju terdiri dari dr Basuki Rahadian SpOT (K) dari PABOI dan dan dr Airi Mutiar SpAn, dari Perdatin. Keduanya adalah staf RSUD dr Soetomo yang sekaligus dosen di FK UNAIR. Tim Aju juga mendapatkan pendampingan dari satu residen orthopedi.

Dalam perjalanan dari Medan ke Aceh, tim Aju menemukan Aceh Tamiang dalam kondisi gelap gulita seperti kota mati, penuh lumpur dan nyaris tanpa harapan. Kondisi tersebut membuat tim Aju memutuskan untuk membuka layanan kesehatan  di Aceh Tamiang. Sebuah keberuntungan, Klinik Abah di Kuala Langsa ternyata dapat dibersihkan dan dimanfaatkan untuk posko kesehatan. Sementara itu, obat-obatan didatangkan dari RS Universitas Airlangga, dan diangkut dalam kardus-kardus besar bersama rombongan tim kesehatan.

“Setiap hari, ratusan warga mendatangi posko untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Awalnya, banyak kasus pasien rawat luka yang kakinya terkena pecahan kaca atau kayu. Tapi, kemudian, kasus bergeser pada puluhan kasus infeksi saluran napas atas dan muntah diare,” ujar Lettu Laut (K) dr Sholefudin, PPDS IPD FK UNAIR.

Tak hanya itu, tim UNAIR ini juga menginisiasi tindakan operasi di RSUD Aceh Tamiang bersama tim RS Adam Malik dan ILUNI (Ikatan Alumni UI).

Lebih lanjut, dr Sholefudin menuturkan bahwa posko ini menjadi jujugan pemeriksaan kehamilan dan persalinan para ibu hamil yang terdampak bencana. Terhitung, sudah ada empat persalinan normal yang dibantu para dokter dan bidan UNAIR yang bertugas di posko esehatan. Termasuk saat tim berganti oleh rombongan kedua yang dipimpin Lettu Laut (K) dr. Sholefudin, residen Ilmu Penyakit Dalam UNAIR.

Minggu (21/12/2025) menjadi saksi sebuah kelahiran dan harapan baru seorang ibu. Hujan dan sisa lumpur mengiringi tangis Bahagia di Posko Kesehatan UNAIR di Klinik Abah. “Ini persalinan kedua, tapi bagi Ibu pasti merasakan hal berbeda, karena sebelumnya ada kesedihan dan duka bencana,” katanya.

Persalinan pun jauh dari kata ideal. Pasalnya, pasien harus bergelut dengan  kontraksi yang tak biasa, tanpa lampu dan tanpa alat atau instrumen yang memadai. Kendati demikian, tim UNAIR bisa melihat harapan besar seorang ibu, di tengah kondisi yang serba terbatas. Setiap tarikan napas ibu saat menahan kontraksi nyeri, ada doa tentang keselamatan dua nyawa, ibu dan bayinya.

“Tangan-tangan yang terbiasa dengan peralatan modern dan alat-alat lengkap, mendapat tantangan bekerja di bawah cahaya temaram dan alat seadanya. Dalam pelukan tangan yang juga penuh doa, sebuah kehidupan baru lahir. Dalam situasi bencana yang tak biasa,” tambahnya.

Saat tangis pertama itu terdengar, semua rasa lelah dan cemas hilang terbayarkan. Hal tersebut juga menjadi penanda bahwa sekalipun berada dalam kehancuran dan keputusasaan, kehidupan baru yang lahir akan tetap menemukan jalannya.

Penulis: Yulia Rohmawati, Prof Eighty  Mardiyan