Universitas Airlangga Official Website

Sel Telur Tanpa Zona Pellucida dalam Proses Proses Bayi Tabung, Dibiarkan atau Dibuahi?

Ilustrasi proses bayi tabung (Foto: Generated image)

Teknologi reproduksi berbantu seperti bayi tabung (in vitro fertilization/IVF) telah menjadi harapan banyak pasangan yang kesulitan memiliki keturunan. Salah satu teknik yang sering digunakan adalah Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI), yaitu proses menyuntikkan langsung satu sperma ke dalam sel telur. Dalam kondisi normal, sel telur (oosit) memiliki lapisan pelindung luar yang disebut zona pelusida. Lapisan ini berfungsi menjaga bentuk oosit, melindunginya dari kerusakan, serta mengatur masuknya sperma. Tetapi bagaimana jika zona ini hilang? Apakah sel telur masih bisa dibuahi?

Oosit tanpa zona bisa disebabkan oleh beberpa faktor. Jika sejak awal didapatkan oosit tanpa zona, kemungkinan besar hal ini disebabkan masalah genetik, dimana terdapat mutasi dari gen pembentuk zona pelusida. Dalam beberapa kondisi zona pelusida dpat pecah karena proses laboratorium, seperti pipetting dan penggunaan bahan-bahan kimia. Lepasnya zona ini akan menghasilkan oosit tanpa zona.

Sebuah laporan kasus terbaru mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Hasilnya, perjalanan sel telur tanpa zona ternyata penuh tantangan, sekaligus memberi wawasan penting bagi dunia reproduksi. Zona pelusida adalah lapisan glikoprotein yang mengelilingi sel telur. Perannya sangat vital yaitu melindungi sel telur dari kerusakan mekanik, menghalangi pembuahan oleh lebih dari satu sperma, menjaga integritas embrio awal sebelum menempel di rahim. Tanpa lapisan ini, sel telur menjadi lebih rapuh. Namun, dalam dunia laboratorium, kadang ditemukan sel telur yang kehilangan zona pelusida akibat faktor teknis atau kondisi bawaan.

Dalam laporan kasus ini, penulis mencoba melakukan ICSI pada oosit tanpa zona pelusida. Awalnya, pembuahan dapat terjadi dan embrio mulai membelah. Akan tetapi, perkembangan embrio hanya berhenti pada tahap tiga sel. Tidak ada embrio yang berkembang lebih lanjut hingga tahap blastokista, apalagi sampai kehamilan. Hal ini kemungkinan disebabkan karena ukuran oolemma lebih kecil dari oosit normal. Ukuran yang kecil ini berakibat pada berkurangnya jumlah organel terutama spindle dan mitokondria  yang berfungsi untuk menghasilkan pembelahan yang normal. Beberapa laporan sebelumnya menunjukkan hasil yang lebih menjanjikan. Ada kasus di mana embrio dari oosit tanpa zona pellucida dapat tumbuh hingga tahap blastokista, bahkan berhasil dibekukan, dicairkan kembali, dan menghasilkan kehamilan. Namun, keberhasilan ini sangat jarang. Hal ini menunjukkan bahwa nasib oosit tanpa zona sangat bergantung pada banyak faktor, seperti kondisi laboratorium, kualitas sperma, serta kesehatan sitoplasma sel telur itu sendiri.

Bagi klinisi dan embriolog, kasus ini memberi pesan penting yaitu kehilangan zona pellucida bukan berarti mustahil untuk dibuahi. Dengan teknik ICSI, sperma tetap bisa dimasukkan ke dalam oosit. Namun, peluang keberhasilan sangat kecil. Embrio yang terbentuk biasanya tidak mampu berkembang hingga tahap yang dibutuhkan untuk kehamilan. Kualitas laboratorium berperan besar. Penanganan oosit yang hati-hati sangat penting agar lapisan zona tetap utuh. Oosit yang kehilangan zona tetap harus dipastikan dalam keadaan matang untuk mendukung fertilisasi. Jika oosit tanpa zona ini tidak mempunyai badan polar, harus dipastikan letak spindle supaya saat ICSI tidak tertusuk jarumnya.

    Kehilangan zona pelusida pada sebagian oosit bisa terjadi, meski jarang. Kasus ini menegaskan bahwa meskipun teknologi ICSI memberi peluang pembuahan, tidak semua kondisi sel telur mendukung keberhasilan. Bagi pasangan, penting untuk memahami bahwa keberhasilan IVF bukan hanya soal “menyatukan” sperma dan sel telur, melainkan juga menjaga kualitas embrio sejak tahap awal. Zona pelusida adalah salah satu faktor penentu yang sering luput dari perhatian, tetapi sangat krusial

    Kasus oosit tanpa zona pelusida setelah ICSI menunjukkan bahwa embrio bisa terbentuk, dan memiliki kemampuan yang sama untuk berkembang hingga bisa menghasilkan kehamilan. Oleh karena itu penting diketahui oleh embriologis bahwa oosit tanpa zona tetap bisa dipakai dalam teknologi reproduksi berbantu dan tetap mempunyai peluang untuk menghasilkan kehamilan.

    Penulis: Prof. Dr. Hendy Hendarto, dr. Sp.OG(K)

    Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada:

    https://journals.lww.com/jhrs/fulltext/2025/01000/the_fate_of_zona_free_oocyte_following.9.aspx

    The Fate of Zona free Oocyte Following Intracytoplasmic Sperm Injection: A Case Report and Review of Literature