Selat Bali merupakan salah satu jalur penting bagi nelayan di Jawa Timur dan Bali. Salah satu ikan yang banyak ditangkap di kawasan ini adalah kurisi (Nemipterus peronii), yang dikenal memiliki rasa gurih dan nilai ekonomis yang stabil. Meski sering muncul di pasar, masih banyak yang belum mengetahui bagaimana ikan ini berkembang biak di alam. Karena itu, kami melakukan kajian mendalam untuk memahami karakteristik seksual dan pola reproduksinya. Informasi ini penting sebagai dasar pengelolaan perikanan yang berkelanjutan, terutama di tengah tekanan penangkapan yang terus meningkat.
Penelitian dilakukan di Pelabuhan Muncar, Banyuwangi, dengan mengumpulkan 300 ekor ikan masing-masing 150 jantan dan 150 betina. Secara visual, ternyata ikan jantan dan betina hampir tidak bisa dibedakan. Ukuran tubuh, bentuk kepala, hingga jumlah siripnya sama. Namun dengan pengamatan detail, jantan memiliki kedalaman kepala dan diameter mata sedikit lebih besar. Meski begitu, perbedaannya tetap sangat halus sehingga nelayan sulit mengenali jenis kelamin ikan hanya dari luar. Peneliti juga memeriksa hubungan antara panjang dan berat tubuh ikan. Hasilnya menunjukkan pola pertumbuhan isometrik, yaitu pertumbuhan panjang dan berat berlangsung seimbang. Tidak ada perbedaan pertumbuhan antara jantan dan betina, yang menandakan kurisi hidup di lingkungan yang cukup mendukung dan memperoleh makanan yang memadai. Pengetahuan ini membantu perhitungan potensi tangkapan lestari sehingga aktivitas perikanan tetap berada dalam batas aman.
Temuan paling penting berasal dari analisis reproduksi. Ovarium ikan betina bersifat cystovarian, tempat sel telur berkembang dalam ruang tertutup. Yang lebih menarik, perkembangan telur berlangsung asynchronous, artinya ada telur yang matang dan belum matang dalam waktu bersamaan. Hal ini menunjukkan bahwa kurisi melakukan pemijahan bertahap (multiple spawning). Betina tidak mengeluarkan telur sekaligus, tetapi beberapa kali dalam satu musim. Strategi ini meningkatkan peluang kelangsungan hidup anakan, terutama ketika kondisi laut berubah-ubah. Secara keseluruhan, kurisi memiliki adaptasi reproduksi yang membuat populasinya tetap stabil di alam. Namun, karena tidak ada perbedaan kelamin yang jelas dari luar, pengelola perikanan perlu berhati-hati menentukan aturan tangkap. Penelitian seperti ini menjadi dasar penetapan musim penangkapan, ukuran minimal ikan yang boleh ditangkap, hingga masa larangan tangkap untuk memberi kesempatan ikan berkembang biak. Dengan memahami kehidupannya, kita dapat menjaga agar kurisi tetap menjadi sumber pangan dan mata pencaharian masyarakat pesisir Indonesia.
Penulis; Suciyono
Detail dari penelitian bisa diakses di : https://scholar.unair.ac.id/en/publications/sexual-characteristics-of-nemipterus-peronii-valenciennes-1830-in/





