Dermatitis atopik atau eksim merupakan gangguan dermatologis yang umum terjadi. Manifestasi klinis eksim meliputi kulit kering dan gatal, serta infeksi pada area kulit tertentu. Eksim dialami lebih dari 12% anak-anak dan 7,2% orang dewasa di Indonesia. Eksim seringkali dapat memicu kejadian alergi lainnya, seperti alergi makanan dan lingkungan (15%), asma (25%–50%), dan rinitis alergi (34%–75%), penyakit infeksi telinga (27%), faringitis streptokokus (8%), dan infeksi saluran kemih (8%). Penanganan eksim terutama ditujukan untuk memulihkan pertahanan kulit. Namun, perkembangan eksim menjadi penyakit yang lebih parah tidak sejalan dengan pengembangan strategi terapi baru untuk mengobati kondisi tersebut. Eksim parah sering kali gagal merespons pengobatan yang ada, termasuk agen imunosupresif sistemik. Oleh karena itu, diperlukan identifikasi kandidat obat baru yang dapat mengendalikan perkembangan penyakit ini.
Curcuma xanthorrhiza Roxb (“Temulawak” atau kunyit Jawa) banyak digunakan di Indonesia sebagai obat herbal. Senyawa utama yang terkandung dalam tanaman ini adalah seskuiterpenoid dan kurkuminoid, terutama pada rimpangnya. Lebih spesifik lagi, senyawa yang terkandung dalam rimpang C. xanthorrhiza, seperti β-seskuipellandren, bisakumol, bisakurol, ar-turmeron, α-turmeron, β-turmeron, xanthorrizol (1,48%–1,64%), vanilin, kamper, β-bisabolol, demetoksikurkumin, kurkumin dan dihidrokurkumin.
Studi yang berfokus pada konsep “multi-senyawa”, “multi-gen”, multi-jalur” akan memberikan informasi kompleks tentang hubungan antara senyawa, target, protein, jalur, dan penyakit. Penelitian ini menggunakan pendekatan farmakologi sistem untuk menyaring metabolit sekunder dari rimpang C. xanthorrhiza sebagai kandidat obat potensial, memanfaatkan profil senyawa, analisis interaksi obat-target, pemetaan jalur, docking molekuler, dan evaluasi sifat penyerapan, distribusi, metabolisme, ekskresi, dan toksisitas (ADMET).
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi metabolit sekunder rimpang C. xanthorrhiza Roxb. yang dapat dikembangkan menjadi obat eksim menggunakan skrining virtual in silico. Senyawa metabolit sekunder dari rimpang C. xanthorrhiza dievaluasi untuk sifat kemiripan obatnya. Selanjutnya, kesamaan sifat fisikokimianya dinilai menggunakan analisis komponen utama. Pencarian target kandidat obat dilakukan menggunakan Swiss Target Prediction and Gene Expression Omnibus (GEO). Docking dilakukan menggunakan Molegro dengan membandingkan skor rerank kandidat obat dengan skor ligan pembandingnya. Prediksi absorpsi, distribusi, metabolisme, ekskresi, dan toksisitas (ADMET) dilakukan menggunakan pkCSM. Karbonat anhidrase II, reseptor faktor pertumbuhan epidermal, dan target mamalia rapamycin menjadi target protein untuk penyakit eksim. Untuk hasil docking, demetoksikurkumin (C00037023), 1,5-dihidroksi-1,7-bis (4-hidroksi-3-metoksifenil)-4,6-heptadien-3-on (C00055412), 1,7-bis (4-hidroksi-3-metoksifenil)-3,5-heptanadiol (C00055175), dan 3’-demetoksiksiklokurkumin (C00054761) memiliki skor rerank yang lebih baik daripada ligan pembanding dan profil ADMET yang baik. Empat senyawa yang berasal dari rimpang temulawak dapat dikembangkan sebagai pengobatan potensial untuk eksim. Metabolit sekunder dari rimpang temulawak – C00037023, C00055412, C00055175, dan C00054761 – menunjukkan ikatan yang kuat terhadap target utama terkait eksim (karbonat anhidrase II, EGFR, dan mTOR). Analisis ADMET in silico menunjukkan sifat farmakokinetik yang baik dan toksisitas yang rendah. Temuan ini mendukung potensi mereka sebagai kandidat obat untuk terapi eksim.
Penulis: Junaidi Khotib
Detail penelitian bisa diakses di: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/network-pharmacology-and-molecular-docking-investigation-of-curcu/





