UNAIR NEWS – Permasalahan air bersih di Desa Sumberjati, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto membangkitkan semangat mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) dalam memberikan solusi inovatif. Airlangga University Bidikmisi Organization (AUBMO) memberikan solusi berupa rekonstruksi bak penampungan air bersih yang diharapkan dapat menekan krisis air bersih di wilayah sekitar.
Camp Pengabdian merupakan salah satu program kerja Kementrian Pengabdian Masyarakat AUBMO selama 9 hari di Desa Sumberjati, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto. Kegiatan ini melibatkan 63 mahasiswa penerima Beasiswa KIP-K dari berbagai program studi yang bersedia memberikan dedikasinya untuk mengabdi kepada masyarakat.

Solusi re-Konstruksi Bak Penampungan Air Bersih
Azzahra Wahidatul Fauzia, Mahasiswa Fakultas Vokasi (FV) selaku ketua pelaksana Camp Pengabdian menyebutkan jika kegiatan ini memiliki beberapa klaster pengabdian, antara lain Pendidikan, kesehatan, lingkungan, pertanian dan infrastruktur. “Tujuan utama Camp Pengabdian yakni ingin menunjukkan kontribusi nyata mahasiswa penerima bantuan KIP-K kepada masyarakat. Sekaligus menjadi ruang belajar dalam menerapkan ilmu di tengah masyarakat,” ujar Zahra.
Salah satu program kerja unggulan dari Camp Pengabdian yakni rekonstruksi bak penampungan air bersih. Zahra menjelaskan jika munculnya program kerja tersebut berangkat dari permasalahan air bersih yang hingga saat ini masih menghadapi kendala akses air bersih. Persiapan bermula dengan observasi lokasi, pembersihan bak penampungan serta penataan ulang untuk sistem aliran air.
“Sebetulnya masalah ini masih problem mendasar, tapi perlu kita selesaikan. Selain itu juga kami berhadap program kerja ini mampu memberikan filtrasi air bersih pada tiga dusun yang ada di Desa Sumberjati,” tegasnya.
Musim Hujan menjadi Tantangan Camp Pengabdian
Lebih lanjut, Zahra menjelaskan bahwa tidak ada tantangan besar yang ada selama kegiatan berlangsung. Tetapi yang sempat menjadi penghambat dalam pelaksanaan adalah musim hujan dan teknis lapangan. “Program unggulan yang kita bawa ditargetkan selesai dalam 2 hari. Tetapi melihat kondisi cuaca dan lapangan yang tidak memungkinkan, mengakibatkan proker kita molor menjadi 3 hari,” tambah Zahra.
Zahra berharap program kerja yang sudah terlaksana tidak hanya berhenti saat kegiatan saja, melainkan dapat terus bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Selain itu, ia juga merasa terbantu dengan adanya keterlibatan dari perangkat desa dan masyarakat sekitar selama pelaksanaan program kerja Camp Pengabdian. “Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa penerima beasiswa KIP-K mampu berperan aktif dalam pembangunan sosial terhadap masyarakat. Tidak hanya itu, kami juga berharap semoga program kerja yang sudah terlaksana mampu memberikan manfaat bagi masyarakat,” jelas Zahra.
Sebagai penutup, Zahra berpesan kepada mahasiswa yang ingin berpartisipasi terhadap kegiatan pengabdian masyarakat untuk tidak takut terjun langsung ke masyarakat. Menurutnya, dengan mengikuti pengabdian masyarakat akan menciptakan kepekaan kita terkait apa yang masyarakat butuhkan. “Merancang program kerja pengabdian masyarakat tidak bisa semata-mata kemauan kita sendiri. Kita harus belajar berinteraksi dan berkomunikasi dengan baik sehingga bisa diterima oleh masyarakat,” pungkas Zahra.
Penulis: Muhammad Nabil Fawaid
Editor: Ragil Kukuh Imanto





