Universitas Airlangga Official Website

Mengapa Orang Tertarik Menghadiri Konser di Metaverse

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Konser musik kini tidak lagi terbatas pada panggung fisik. Dalam beberapa tahun terakhir, musisi mulai tampil di ruang virtual yang dikenal sebagai metaverse, dimana penonton hadir melalui avatar alih-alih kursi dan tiket. Perkembangan ini memunculkan pertanyaan penting: Apa yang membuat seseorang bersedia menghadiri konser metaverse yang sepenuhnya berlangsung secara virtual?

Berdasarkan survei terhadap penonton konser metaverse di Indonesia dan divalidasi dengan survey lanjutan di Amerika Serikat, penelitian kami menunjukkan bahwa minat untuk menghadiri konser di metaverse tidak terutama ditentukan oleh kebaruan teknologi, melainkan oleh kualitas pengalaman yang dirasakan pengguna.

Bagi banyak orang, konser metaverse dipandang sebagai sebuah pengalaman, bukan sekedar produk digital. Ketika penonton menikmati pertunjukan virtual ini, mereka merasa penasaran dengan jalannya acara, dan mampu fokus penuh pada penampilan, mereka cenderung melihat konser ini sebagai pilihan menikmati konser yang menarik. Tidak sedikit peserta merasa waktu berlalu begitu cepat saat mengikuti konser, dan ini adalah sebuah tanda keterlibatan yang tinggi pada pertunjukan. Rasa tenggelam (immerse) dalam pengalaman ini menjadi faktor penting dalam membentuk niat untuk menghadiri konser metaverse.

Kapabilitas teknologi yang digunakan oleh platform metaverse juga berperan sebagai pendukung pengalaman tersebut dalam dua hal utama. Pertama adalah dalam menyediakan kemudahan akses. Konser metaverse memungkinkan orang dari berbagai lokasi menghadiri acara yang sama secara bersamaan, tanpa harus bepergian atau mengeluarkan biaya besar. Kedua adalah dari aspek kemampuan pengelolaan platform. Sistem yang mengatur akses, melindungi identitas pengguna, dan memantau partisipasi membantu menciptakan rasa aman dan tertib. Ketika penonton percaya pada platform yang digunakan, mereka lebih bersedia untuk ikut serta.

Namun, penelitian ini juga menegaskan adanya batasan. Kekhawatiran terhadap gangguan teknis, kualitas suara dan visual yang buruk, risiko privasi, atau ketidakstabilan sistem dapat menurunkan minat hadir. Konser yang menarik sekalipun dapat kehilangan daya tarik jika penonton meragukan keandalannya. Kesenangan dapat menarik perhatian, tetapi kualitas konser menentukan kesediaan untuk berpartisipasi.

Menariknya, pola ini konsisten di Indonesia dan Amerika Serikat, meskipun latar budaya berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa faktor-faktor dasar yang membentuk minat terhadap konser metaverse bersifat cukup universal.

Bagi musisi, penyelenggara, dan penyedia platform, pesannya jelas. Konser metaverse tidak berhasil semata-mata karena bersifat virtual, melainkan karena mampu menghadirkan pengalaman yang menarik, mudah diakses, dan dapat diandalkan. Jika ketiga unsur ini terpenuhi, konser virtual di metaverse berpotensi menjadi alternatif hiburan yang semakin diterima masyarakat.

Penulis: Raras Kirana Wandira

Artikel lengkap dapat diakses pada: https://doi.org/10.1016/j.im.2025.104278