Universitas Airlangga Official Website

Mahasiswa BBK 7 Mojoasem Lakukan Akselerasi Digitalisasi UMKM lewat Pengenalan QRIS

Sosialisasi Cara Pembuatan QRIS Kepada Pelaku UMKM Warung Rujak di Kelurahan Mojoasem
Sosialisasi Cara Pembuatan QRIS Kepada Pelaku UMKM Warung Rujak di Kelurahan Mojoasem (Foto: Dok. Tim)

UNAIR NEWS – Mahasiswa Belajar Bersama Komunitas (BBK) 7 Universitas Airlangga (UNAIR) realisasikan digitalisasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kelurahan Mojoasem, Gresik. Program kerja bertajuk UMKM Naik Kelas ini bervisi membuatkan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dengan metode door-to-door oleh mahasiswa ke tempat UMKM pada Sabtu (17/1/2026). 

Ide pelaksanaan program ini berlatar belakang dari kondisi UMKM di Desa Mojoasem yang hanya mengandalkan transaksi tunai. Sebagian besar masyarakatnya justru belum mengetahui eksistensi QRIS. Sementara tren pembayaran digital di masyarakat terus meningkat.Mahasiswa Belajar Bersama Komunitas (BBK) 7 Universitas Airlangga (UNAIR) realisasikan digitalisasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kelurahan Mojoasem, Gresik

“Banyak pelaku UMKM belum memanfaatkan QRIS karena keterbatasan informasi, pemahaman teknologi, serta anggapan bahwa sistem pembayaran digital itu rumit. Padahal, QRIS memiliki potensi besar untuk membantu UMKM meningkatkan efisiensi transaksi, memperluas pasar, dan beradaptasi dengan perkembangan ekonomi digital,” ujar Adam Vieto, Penanggungjawab program kerja UMKM Naik Kelas, Minggu (18/1/2026). 

Pembuatan QRIS kepada Smartphone pelaku UMKM oleh Adam Vieto pada Sabtu (17/1/2026)
Pembuatan QRIS kepada Smartphone pelaku UMKM oleh Adam Vieto pada Sabtu (17/1/2026) (Foto: Dokumentasi Tim)

Meskipun QRIS merupakan informasi baru bagi mayoritas UMKM, Vieto menyatakan respons yang ia terima justru sangat positif. “Pelaku UMKM sangat antusias ketika kami sambangi. Terutama saat mengetahui bahwa QRIS mudah digunakan dan tidak memerlukan banyak perangkat. Banyak pelaku UMKM merasa terbantu karena mendapatkan pemahaman baru mengenai sistem pembayaran digital serta peluang peningkatan penjualan,” katanya. 

Terlepas dari antusiasme pelaku UMKM, faktor eksternal seperti perangkat smartphone yang tidak mendukung, serta koneksi internet tidak stabil menjadi penghambat upaya digitalisasi di Mojoasem. 

“Bagi pelaku UMKM yang sudah bertahun-tahun berjualan, mereka juga khawatir dengan QRIS dan penggunaan teknologi baru. Namun, semua kendala itu bisa teratasi dengan pendekatan persuasif, pendampingan langsung, serta penjelasan sederhana dan praktis,” jelas Vieto.

Setelah menyisir UMKM di Kelurahan Mojoasem, Vieto dan tim berhasil menerapkan QRIS di berbagai warung sembako dan warung kopi. Pembuatan QRIS ini menjadi awal bagi UMKM untuk masuk ke ekosistem digital. 

“Harapannya, semoga QRIS bisa membuka peluang bagi pelaku UMKM. Supaya Mojoasem dapat menjadi desa yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi serta mampu mendorong UMKM lokal untuk naik kelas dan berdaya saing,” tutup Vieto. 

Penulis: Dinnaya Mahashofia 

Editor: Yulia Rohmawati