Universitas Airlangga Official Website

Mengenali Diri, Bekal Penting Mahasiswa Baru Memasuki Dunia Perkuliahan

Ilustrasi sekelompok mahasiswa (Foto: JAKI)

UNAIR NEWS – Memasuki dunia perkuliahan bukan sekadar berpindah status dari siswa menjadi mahasiswa. Fase ini menjadi titik awal pembentukan pola pikir sekaligus arah pengembangan potensi diri. Pasalnya, mahasiswa tidak lagi hanya dituntut mengikuti pelajaran. Tetapi juga mampu mengenali diri sendiri agar dapat menjalani proses belajar secara optimal.

Psikolog pendidikan Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Airlangga (UNAIR), Dr Tino Leonardi MPsi Psikolog, menilai bahwa mengenali diri sendiri merupakan fondasi utama agar mahasiswa mampu memaksimalkan potensinya. Kesadaran ini mencakup pemahaman akan kelebihan, kekurangan, serta kesiapan menghadapi konsekuensi sebagai individu yang lebih mandiri.

“Masuk ke universitas dan memilih satu program studi sebagai mahasiswa baru artinya kita sudah sadar apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Dari situ, kita perlu mengenali potensinya, apa yang perllu mereka siapkan, kuatkan, dan keterampilan apa yang harus mereka kuasai sebagai mahasiswa baru,” ujarnya.

Tino menambahkan, bagi calon mahasiswa yang masih dalam proses mengenali dirinya, langkah sederhana yang dapat mereka lakukan ialah mencari informasi sebanyak mungkin. Mulai dari informasi mengenai jurusan atau universitas yang mereka inginkan hingga sistem perkuliahan yang akan mereka jalani. Menurutnya, proses ini penting agar calon mahasiswa memiliki gambaran awal yang nantinya dapat menjadi acuan untuk meninjau kesiapan dirinya. Sekaligus menjadi dasar dalam mengembangkan potensi selama perkuliahan.

Psikolog pendidikan Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Airlangga (UNAIR), Dr Tino Leonardi MPsi Psikolog (Foto: Idtimewa)

“Cari informasi sebanyak mungkin. Berdiskusi dengan orang tua atau keluarga, bertanya ke guru, berbagi dengan teman sekolah. Informasi awal memang tidak membuat kita siap seratus persen, tetapi setidaknya membuat kita tidak kaget saat menjalaninya. Dengan mengenali diri, kita tahu bagaimana mempersiapkan langkah kita ke depan,” jelasnya.

Lebih lanjut, dari proses mengenali diri tersebut, Tino menyoroti kemampuan belajar mandiri sebagai salah satu potensi yang kerap luput mahasiswa sadari. Di perguruan tinggi, proses pembelajaran tidak lagi sepenuhnya bergantung pada dosen maupun teman. Oleh karena itu, mahasiswa dituntut aktif mencari dan memahami informasi secara mandiri. Terlebih, sistem Satuan Kredit Semester (SKS) dirancang untuk mendorong mahasiswa juga aktif belajar di luar kelas.

Menurut Tino, kemampuan belajar mandiri turut berpengaruh pada capaian akademik. Mahasiswa yang mampu mengatur cara belajarnya sendiri cenderung memiliki pemahaman yang lebih mendalam. Selain itu, dengan belajar mandiri, mahasiswa juga dapat menemukan metode belajar yang paling efektif sesuai dengan karakter masing-masing.

“Waktu belajar di kelas itu tidak cukup. Sebagian besar pemahaman justru terbentuk dari proses belajar mandiri di luar perkuliahan. Di situlah keunggulan belajar mandiri, kita bisa memilih cara yang paling sesuai. Ada yang lebih paham lewat membaca, ada yang lewat diskusi, bahkan ada yang lewat video pembelajaran,” paparnya.

Setelah mulai mengenali potensi diri, langkah berikutnya adalah memaksimalkannya. Tino menyebut lingkungan kampus telah menyediakan banyak ruang untuk proses tersebut. Salah satunya melalui peran dosen wali yang tidak hanya berfokus pada urusan akademik semata, tetapi juga menjadi tempat mahasiswa berdiskusi serta mencari arahan. Interaksi dengan dosen dan teman sebaya pun dapat memberi umpan balik terhadap potensi dan kemampuan yang mahasiswa miliki

Selain itu, mahasiswa juga dapat memanfaatkan organisasi kemahasiswaan yang ada di lingkungan kampus. Seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Himpunan Mahasiswa (HIMA), Badan Semi Otonom (BSO), maupun Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) sebagai sarana untuk eksplorasi diri. Tidak hanya itu, mahasiswa juga dapat terlibat dalam berbagai program Kampus Berdampak sebagai pengalaman belajar yang memungkinkan mereka berkontribusi langsung dalam kehidupan bermasyarakat.

“Kegiatan-kegiatan itu menjadi sarana mahasiswa pengembangan diri, menambah pengalaman sekaligus memperluas jejaring. Pengalaman interaksi bisa memberikan banyak manfaat nanti setelah mereka lulus dan berperan orang dewasa dan warga negara,” pungkasnya.

Penulis: Fania Tiara Berliana M

Editor: Yulia Rohmawati