Universitas Airlangga Official Website

SAPA Remaja: Langkah Awal Cegah Pernikahan Dini di Sukamade

UNAIR NEWS – Mahasiswa Belajar Bersama Komunitas (BBK) 7 Universitas Airlangga (UNAIR) Desa Sarongan telah melaksanakan program kerja “SAPA Remaja (Sarongan Peduli Anak dan Remaja)” sebagai bagian dari upaya pencegahan pernikahan dini dengan menyasar ke tingkat terkecil. Kegiatan ini berlangsung dengan partisipasi dari 14 siswa kelas 5 dan 6 SDN 2 Sarongan dengan fokus utama dampak negatif pernikahan dini dan motivasi untuk menggapai cita-cita setinggi mungkin. Permasalahan utama yang dihadapi Dusun Sukamade, khususnya pada kalangan anak adalah rendahnya motivasi belajar dan kurangnya pengetahuan tentang dampak negatif dari pernikahan dini. Hal ini menyebabkan banyak anak merasa bahwa pilihan setelah menyelesaikan pendidikan dasar adalah langsung bekerja atau menikah. Dilanjut dengan kurangnya edukasi risiko pernikahan dini serta terbatasnya ruang diskusi yang terbuka, membuat anak rentan mengambil keputusan menikah dini dan berpotensi membatasi kesempatan untuk mengembangkan potensi diri.

Untuk mengatasi hal tersebut, tim dari BBK 7 UNAIR Desa Sarongan merancang kegiatan sosialisasi secara interaktif. Diawali dengan penyampaian materi tentang dampak dan risiko pernikahan dini, BBK 7 UNAIR Desa Sarongan memadukan pendekatan positif dengan memfokuskan pada pentingnya pendidikan dan impian masa depan. Anggota tim menjelaskan pernikahan dini dapat mengganggu proses belajar, membatasi peluang karir, dan memengaruhi kesehatan fisik maupun psikologis. Puncak kegiatan adalah sesi kreatif  “Pohon Cita-cita”, dimana setiap peserta diberikan selembar kertas lipat berbentuk daun dan mereka diminta untuk menuliskan cita-cita diatas kertas tersebut. Selanjutnya, mereka diarahkan untuk menempelkan kertas tersebut ke dalam sebuah pohon simbolis.

Ketua BBK 7 UNAIR Desa Sarongan, Aura Firdaus Putra, menyampaikan bahwa “aktivitas ini tidak hanya memperkuat pesan tentang pentingnya meraih mimpi, tetapi juga menjadi visualisasi komitmen bersama untuk menunda pernikahan demi masa depan yang lebih cerah.” Akhirnya, melalui sesi tanya jawab interaktif terlihat bahwa 14 siswa yang menjadi sasaran kegiatan kini telah memiliki pemahaman awal tentang pentingnya menjaga masa depan dan menyadari bahwa pernikahan bukanlah tujuan utama di usia anak. Dengan pendekatan berbasis penguatan cita-cita, program ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran kritis sejak dini, dan mengurangi risiko putus sekolah di kalangan anak pada Desa Sukamade. Program ini merupakan langkah strategis dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan (SDG 4), kesehatan yang baik (SDG 3), melalui pencegahan perkawinan anak.

Penulis: Aulia Ayuningrum