UNAIR NEWS — Pada Sabtu, 17 Januari 2026, kelompok mahasiswa Belajar Bersama Komunitas (BBK) 7 Universitas Airlangga (UNAIR) Purwodadi melaksanakan aksi nyata dalam mendukung sektor peternakan di Kabupaten Banyuwangi. Melalui kunjungan edukatif ke Rumah Potong Hewan (RPH) Purwoharjo dan partisipasi aktif dalam vaksinasi sapi di berbagai desa daerah Banyuwangi Selatan, mahasiswa berupaya memberikan kontribusi langsung terhadap masyarakat. Langkah ini selaras dengan pencapaian SDGs poin ke-3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui penguatan keamanan pangan asal hewan.
Dalam kunjungan ke RPH Purwoharjo, para mahasiswa diberikan pemahaman mendalam mengenai manajemen rumah potong yang memenuhi standar operasional prosedur (SOP) keamanan pangan. Fokus utama dalam edukasi ini adalah penerapan konsep kesejahteraan hewan (animal welfare) serta prosedur higiene dan sanitasi yang ketat. Mahasiswa mempelajari alur pemeriksaan ante-mortem, yakni pemeriksaan kesehatan hewan sebelum disembelih, hingga pemeriksaan post-mortem untuk memastikan daging yang dihasilkan aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH). Proses ini penting guna menjamin bahwa produk asal hewan yang beredar di masyarakat bebas dari kontaminasi penyakit zoonosis.
Tak berhenti di situ, mahasiswa BBK 7 UNAIR Purwodadi juga aktif berpartisipasi dalam kegiatan lapangan bersama mantri hewan setempat, Pak Dodik. Di daerah Banyuwangi Selatan, mahasiswa mengikuti proses vaksinasi PMK pada sapi secara langsung dari kandang ke kandang. Kegiatan vaksinasi ini merupakan upaya preventif yang sangat penting untuk memutus rantai penularan penyakit infeksius pada ternak, yang sering kali menjadi kendala utama bagi ekonomi peternak lokal. Kehadiran mahasiswa di lapangan bertujuan untuk memahami peran tenaga kesehatan hewan dalam menjaga keberlanjutan populasi ternak sekaligus memberikan edukasi kepada peternak mengenai pentingnya manajemen kesehatan mandiri.
Mantri hewan yang mendampingi mahasiswa, Pak Dodik menyampaikan bahwa pengalaman ini merupakan sarana belajar yang sangat relevan. Dengan turun langsung, mahasiswa dapat melihat kesenjangan antara teori akademis dan realitas di lapangan, sehingga mereka dapat mencari solusi yang lebih aplikatif bagi masyarakat. “Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya belajar secara teoritis, tetapi juga melihat langsung praktik kesehatan hewan dan pengelolaan RPH yang baik,” ujarnya. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antara akademisi, tenaga profesional kesehatan hewan, dan masyarakat dalam menjaga stabilitas ketahanan pangan di Banyuwangi. Melalui kolaborasi ini, diharapkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan ternak semakin meningkat demi terciptanya produk pangan yang berkualitas tinggi.
Penulis: Qiswatun Alfi





