Universitas Airlangga Official Website

Otomasi Proses Robotik dan Norma Baru Dalam Akuntansi, Sebuah Pandangan Dalam Paradigma Kuhn

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Tulisan ini disarikan dari karya ilmiah Perwitasari dan Iswati (2025) dengan tujuan untuk memenuhi kewajiban ilmiah dalam penyebaran ilmu dengan tampilan populer. Keniscayaan dalam perkembangan ilmu pengetahuan tak dapat dipungkiri. Berbagai penemuan baru yang diyakini secara ilmiah mendorong perubahan yang signifikan (Nurkhalis, 2012; Diamastuti, 2015Putri dkk., 2020). Kuhn (1962) merupakan salah seorang filsuf penggagas “Revolusi Ilmiah”, yang berfaham rasionalis dalam filsafat kontermporer. Kuhn mengkritik perspektif positivis Auguste Comte dan falsifikasi Karl R. Popper. Pandangan positivis berpendapat bahwa perkembangan ilmu pengetahuan yang berkelanjutan dihasilkan dari temuan empiris berdasarkan prinsip verifikasi. Berlawanan dengan Popper yang menolak prinsip verifikasi. Ilmu pengetahuan berkembang berdasarkan falsifikasi, yaitu upaya untuk membuktikan bahwa teori, hipotesis, atau proposisi yang ada tidak benar (Farid, 2021). Kuhn berpendapat bahwa pendekatan revolusi ilmiah, yaitu kemajuan ilmu pengetahuan, mengarah pada perubahan paradigma yang lebih revolusioner.

Kemajuan teknologi yang pesat turut mendorong pemikiran kembali tentang profesi akuntansi. Munculnya kecerdasan buatan (AI) dalam profesi ini mengubah cara institusi dalam memproses informasi. Riset-riset baru berfokus pada penerapan “otomatisasi proses robotik” (RPA) dan ketrampilan yang diperlukan akuntan untuk berkolaborasi dengan RPA (Alsharari, 2017; Cooper dkk., 2019; Matthies, 2020 Kokina dkk., 2021). Kekhawatiran yang timbul, penggunaan RPA akan menggerus beberapa peran akuntan, sehingga diperlukan adaptasi yang radikal dalam mendidik para akuntan baru juga yang telah eksis untuk beradaptasi dengan paradigma baru.

Hal utama yang akan diungkapkan dalam tulisan ini adalah: 1)Bagaimana fenomena RPA dalam profesi akuntansi dalam perspektif Kuhn?. 2)Munculnya RPA apakah menjadi tantangan atau justru peluang dalam profesi akuntansi?. 3) Bagaimana firma akuntasi dimasa depan?

TINJAUAN PUSTAKA

Konsep “paradigma” Kuhn lebih fokus pada filsafat ilmu pengetahuan, gagasan revolusi dan perubahan struktural yang mendalam hal ini selaras dengan konsep. Paradigma Strukturalis Radikal. Meskipun Burell dan Morgan tidak secara eksplisit menyebutkan gagasan Kuhn dalam konteks empat paradigma mereka, para sejarawan telah menafsirkan dan melihat bahwa gagasan Kuhn yang berfokus pada pergeseran paradigma lebih sejalan dengan paradigma strukturalis radikal karena tekanan perubahan revolusioner dalam struktur sosial. Keduanya mengakui bahwa perubahan radikal atau “revolusi” dapat terjadi dalam konteks sosial dan ilmiah

Otomasi Proses Robotik (Robotic Process Automation – RPA)

Otomasi Proses Robotik mendasarkan pada sekelompok alat otomatis untuk mengotomatsasi aktivitas manual dan berulang dalam skala besar. Contohnya, mengotomatiskan operasi manual yang dilakukan pada spreadsheet, (Bendovschi & Ionescu, 2015). Penerapan RPA dalam akuntansi dan keuangan seharusnya tidak menggantikan peran manusia; dengan RPA, manusia dapat berkonsentrasi pada aktivitas strategis. RPA dapat menyelesaikan pekerjaan administrasi dengan cepat, sehingga memudahkan pekerjaan akuntansi. Akuntan dapat lebih fokus pada analisis dan pemikiran ke depan dan mendorong kemajuan berkelanjutan (Chan et al., 2018).

Kantor akuntan publik dapat menggunakan RPA. Balamurugan et al. (2022) dan Bahrin dkk. (2016) menyebutkan tiga tahap dalam implementasi RPA: 1) Pemahaman proses, 2) Standardisasi data untuk audit, dan 3) Eksekusi uji audit otomatis. RPA unggul dalam melakukan pekerjaan diskrit dan langsung serta operasi bervolume tinggi yang seringkali membutuhkan pengawasan manusia, seperti memproses faktur, memasukkan pesanan penjualan, menangani pengembalian dana, dan mengotomatiskan respons layanan pelanggan.

Relevansi RPA dalam profesi akuntansi dalam Paradigma Kuhn

Teknologi Robotic Process Automation (RPA) berkembang pesat dan telah mempengaruhi perubahan di bidang akuntansi. Dengan menghilangkan pekerjaan  berulang yang dilakukan manusia. Perubahan yang terjadi saat ini menarik karena selaras dengan pandangan Kuhn tentang revolusi ilmiah. Misalnya, RPA dan kemajuan teknologi lainnya dapat menyebabkan pergeseran paradigma di bidang akuntansi, menciptakan pekerjaan baru yang membutuhkan pemikiran kritis dan pengembangan strategis (Kesuma dan Hidayat 2020). RPA mampu membantu meningkatkan output dan mengurangi kesalahan manusia (Madakam dkk. 2019). Kombinasi RPA dengan AI dan kekuatan pembelajaran mesin yang memungkinkan robot untuk mengenali data kompleks dan membuat keputusan dasar berdasarkan tren data yang dianalisis (Ribeiro dkk. 2021, Abdullah dan Almaqtari 2024).

Menurut Kuhn pergeseran paradigma merupakan sebuah lompatan, bukan proses linier, yang secara radikal merestrukturisasi ilmu atau disiplin ilmu yang bersangkutan. Dalam keadaan ini, penerapan RPA oleh profesi akuntansi dapat dianggap sebagai bagian dari “lompatan” menuju paradigma baru dengan kemampuan akuntansi teknologi dan kesadaran akan analisis data dan otomatisasi. Paradigma baru ini menempatkan akuntan sebagai pengambil keputusan strategis dan analis data yang membantu mewujudkan tujuan perusahaan melalui pengetahuan teknologi yang unggul (Kroon dkk. 2021). Pergeseran ini mengharuskan akuntan untuk meningkatkan keterampilan yang sebelumnya tidak ada atau tidak ada dalam bidang pekerjaan mereka. Paradigma baru dalam implementasi RPA membutuhkan pemahaman tentang teknologi digital, manajemen data, dan analisis informasi. Menurut teori Kuhn, perubahan paradigma baru membutuhkan adaptasi terhadap alat atau pendekatan yang belum pernah digunakan sebelumnya, sehingga memotivasi profesi akuntansi untuk mengikuti jalur yang lebih berorientasi pada teknologi dan inovasi (Almas, 2018). Dari perspektif Kuhn, munculnya kecerdasan buatan (AI) dalam dekade terakhir telah menyoroti munculnya paradigma revolusioner di berbagai sektor industri. AI berubah menjadi program komputasi dengan kemampuan kecerdasan manusia yang dapat membantu pengambilan keputusan, pemecahan masalah, dan pengembangan prediksi (Vedapradha dkk. 2019, Manongga dkk. 2022). AI merupakan katalis paradigma untuk revolusi, yang relevan dengan teori Kuhn.

Perspektif Komunitas Ilmiah tentang Otomasi Proses Robotik (RPA): Peluang dan

Otomasi Proses Robotik (RPA) telah menjadi perbincangan seru dalam komunitas ilmuah sejak tahun 2017, hal ini mendorong banyaknya riset dibidang tersebut (Syed dkk, 2020; Kokina Julia dan Blanchette Shay 2019). Demikian juga dengan meningkatnya literatur akademis tentang (Van der Aalst et al. 2018).

Komunitas ilmiah memandang Robotic Process Automation (RPA) sebagai cara untuk meningkatkan efisiensi operasional dan mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja manusia. RPA telah diimplementasikan di berbagai sektor industri; misalnya, di industri keuangan, audit dan pengendalian risiko (Lacity dan Willcocks 2016).

Disisi lain juga banyak dibahas dampak finansial dan sosial dari subtitusi manusia (Van der Aalst et al. 2018). Juga termasuk dampanya dalam bidang ekonomi, sosial, teknis, dan etika. Di sisi ekonomi, RPA dapat membantu bisnis menghemat hingga tiga puluh persen (Willcocks et al. 2015, Everest Group 2020). RPA juga menghasilkan efektivitas waktu yang lebih baik. Terutama untuk tugas-tugas administratif rutin seperti entri data atau manajemen dokumen, pekerjaan yang dulunya memakan waktu berjam-jam kini dapat diselesaikan dalam hitungan menit (Aguirre dan Rodriguez 2017). RPA mempercepat transaksi industri keuangan termasuk reservasi pinjaman, klaim asuransi, dan perbankan lainnya. Akibatnya, perusahaan dapat segera memuaskan pelanggan dan menyediakan layanan kepada mereka.

Dalam bidang sosial, RPA sebagai sarana untuk mengurangi jumlah tenaga kerja manusia yang dibutuhkan untuk tugas-tugas yang membosankan dan berulang. Hal ini memungkinkan karyawan untuk berkonsentrasi pada proyek-proyek yang lebih strategis dan kreatif (Madakam dkk. 2019). Implementasi RPA menyebabkan beberapa pekerjaan dihilangkan di masa depan. Menurut beberapa studi, otomatisasi dapat mengancam hingga 800 juta pekerjaan secara global pada tahun 2030. Administrasi, manufaktur, dan logistik adalah tiga industri yang akan paling terpengaruh (Van der Aalst dkk. 2018). Selain itu, kesenjangan keterampilan juga menghadirkan hambatan lain. Hal ini memicu kecemasan, stres, dan bahkan depresi tentang masa depan para pekerja (Everest Group 2020). RPA juga menimbulkan masalah moral. Salah satu kekhawatiran utama adalah bagaimana bisnis harus memastikan bahwa hilangnya pekerjaan tidak memperburuk ketidaksetaraan sosial (Lacity dan Willcocks 2016). Penggunaan RPA harus disertai dengan kebijakan yang menggabungkan kesejahteraan sosial dan efisiensi ekonomi. (Lund dkk. 2021). Perguruan tinggi dapat membantu dengan menawarkan program pelatihan otomatisasi teknologi yang relevan (Van der Aalst dkk., 2018).

RPA dan Masa Depan Kantor Akuntan Publik

Bidang audit adalah salah satu bidang dalam akuntansi yang paling membutuhkan implementasi Robotic Process Automation (RPA). RPA memungkinkan prosedur audit yang lebih kompleks, termasuk pengukuran data otomatis secara real-time. Hal ini akan meningkatkan akurasi dan efisiensi proses audit (Zhang dkk. 2022). Tantangan penerapan RPA: pertama, tingginya investasi. Kedua, kebutuhan akan pemeliharaan, terutama tentang keamanan data. Ketiga, memastikan keberlanjutannya. Keempat, mengurangi kemungkinan pelanggaran hukum terkait.

Ada 3 kesimpulan dalam paper ini:

1). Teknologi Robotic Process Automation (RPA) menyebabkan pergeseran paradigma di bidang akuntansi, menciptakan pekerjaan baru yang membutuhkan pemikiran kritis dan pengembangan strategis. Menurut Kuhn pergeseran paradigma merupakan sebuah lompatan, bukan proses linier, yang secara radikal merestrukturisasi ilmu atau disiplin ilmu yang bersangkutan. Penerapan RPA oleh profesi akuntansi dapat dianggap sebagai bagian dari “lompatan” menuju paradigma baru yang menempatkan akuntan sebagai pengambil keputusan strategis dan analis data yang membantu mewujudkan tujuan perusahaan melalui pengetahuan teknologi yang unggul.

2). Implementasi RPA menawarkan banyak manfaat sekaligus tantangan. Secara ekonomi, mengadopsi RPA memungkinkan institusi untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas sekaligus meningkatkan daya saing. Namun implementasi RPA harus dibarengi dengan minimasi dampak sosial, etika dan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah wajib menyiapkan perangkat peraturan yang dapat menyeimbangkan antara kemanfaatan dan dampaknya.

3). Pada firma akuntasi dimasa depan, khususnya bidang audit yang paling membutuhkan implementasi Robotic Process Automation (RPA). Perlu dilakukan langkah strategis antara implementasi RPA dengan para pekerja yang terkait didalamnya, sehingga gab investasi teknologi dan sumberdaya manusia dapat berjalan lebih harmoni.