Sarkoma Kaposi adalah jenis kanker yang berasal dari pembuluh darah dan pembuluh limfe. Penyakit ini berkaitan erat dengan infeksi virus HHV8 (Human Herpesvirus-8). Sarkoma Kaposi lebih sering ditemukan pada orang dengan daya tahan tubuh yang lemah, terutama penderita HIV/AIDS dan pasien transplantasi organ yang menggunakan obat penekan kekebalan tubuh (imunosupresant). Deteksi dini pada penyakit ini, sangat penting untuk dikerjakan karena pengobatan yang tepat dapat menghambat perkembangan penyakit dan memperbaiki kualitas hidup pasien.
Keluhan yang paling sering muncul pada Sarkoma Kaposi adalah perubahan pada kulit. tanda-tandanya antara lain: bercak atau benjolan berwarna ungu, merah, atau kecokelatan, lesi dapat berbentuk datar atau menonjol, tidak terasa nyeri, ukuran dan jumlah lesi dapat bertambah secara perlahan, sering muncul pada kaki, telapak kaki, wajah, telinga, atau lengan.
Diagnosis Sarkoma Kaposi ditegakkan dengan pemeriksaan klinis disertai pemeriksaan penunjang seperti: biopsi jaringan untuk pemeriksaan Patologi Anatomi, pemeriksaan imunohistokimia atau tes virus HHV-8 serta pemeriksaan penunjang lain bila dicurigai keterlibatan organ dalam.
Biomarker Jaringan: Kunci Akurat untuk Diagnosis Sarkoma Kaposi
Pada pemeriksaan klinis, sarkoma Kaposi biasanya tampak sebagai bercak atau benjolan berwarna ungu, merah, atau kecokelatan pada kulit. Namun, lesi ini tidak hanya terbatas pada kulit, bagian lain seperti mulut, saluran cerna, paru-paru, dan kelenjar getah bening juga dapat terlibat. Tantangan utama dalam praktik medis adalah memastikan diagnosis yang tepat, karena secara mikroskopis sarkoma Kaposi sering menyerupai tumor pembuluh darah lain yang bersifat jinak. Di sinilah peran biomarker jaringan menjadi sangat penting.
Pemeriksaan histopatologi masih menjadi standar emas dalam menegakkan diagnosis sarkoma Kaposi. Di bawah mikroskop, tumor ini dicirikan oleh proliferasi sel berbentuk gelendong (spindle cells) yang membentuk celah-celah pembuluh darah tidak teratur berisi sel darah merah. Masalahnya, gambaran ini dapat menyerupai berbagai kelainan pembuluh darah lain seperti hemangioma, granuloma piogenik, atau malformasi vaskular. Jika hanya mengandalkan morfologi jaringan, risiko salah diagnosis tetap ada. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan tambahan berupa pemeriksaan imunohistokimia menggunakan biomarker spesifik.
Pada artikel jurnal yang ditulis oleh Yedida Gracia bersama Willy Sandhika telah dijelaskan beberapa biomarker jaringan yang dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis Sarkoma Kaposi. Berikut adalah beberapa biomarker jaringan pada Sarkoma Kaposi.
1) Biomarker terpenting dalam sarkoma Kaposi adalah LANA-1 (Latency-Associated Nuclear Antigen-1). Protein ini diekspresikan oleh virus HHV-8 saat berada dalam fase laten dan tampak sebagai pewarnaan inti sel yang khas pada pemeriksaan imunohistokimia. Keberadaan LANA-1 menegaskan bahwa sel tumor terinfeksi HHV-8, yang merupakan penyebab utama sarkoma Kaposi. Karena sifatnya yang sangat spesifik, LANA-1 dianggap sebagai hallmark diagnosis sarkoma Kaposi dan jarang ditemukan pada tumor pembuluh darah lain.
2) Selain memastikan keterlibatan virus, diperlukan juga mengetahui asal sel tumor. Di sinilah peran CD31 dan CD34 menjadi krusial.
- CD31 adalah penanda sel endotel pembuluh darah yang sangat sensitif. Ekspresinya yang kuat pada sarkoma Kaposi mengonfirmasi bahwa tumor ini berasal dari sel pembuluh darah.
- CD34 juga merupakan penanda endotel yang banyak digunakan untuk menilai diferensiasi vaskular dan aktivitas angiogenesis, yaitu pembentukan pembuluh darah baru yang menjadi ciri pertumbuhan tumor.
Kombinasi CD31 dan CD34 membantu membedakan sarkoma Kaposi dari tumor sel gelendong non-vaskular atau proses reaktif.
3) Sarkoma Kaposi tidak hanya menunjukkan karakter pembuluh darah, tetapi juga memiliki sifat limfatik. Hal ini dibuktikan dengan ekspresi D2-40 (podoplanin), sebuah biomarker yang biasanya ditemukan pada endotel pembuluh limfe. Temuan ini mendukung teori bahwa sarkoma Kaposi berasal dari sel endotel dengan karakter campuran yakni pembuluh darah dan limfatik, yang mengalami perubahan akibat infeksi HHV-8. Secara diagnostik, D2-40 membantu membedakan sarkoma Kaposi dari tumor vaskular lain yang murni berasal dari pembuluh darah.
4) Untuk menilai seberapa aktif sel tumor membelah diri atau berproliferasi, digunakan biomarker Ki-67. Penanda ini menunjukkan tingkat proliferasi sel dan biasanya lebih tinggi pada sarkoma Kaposi dibandingkan lesi vaskular jinak. Ki-67 bukan biomarker spesifik untuk Sarkoma Kaposi akan tetapi biomarker untuk memastikan bahwa lesi tersebut adalah tumor ganas. Hal ini diperlukan untuk membedakan dengan lesi jinak pembuluh darah.
Tidak ada satu biomarker tunggal yang mampu menjawab semua pertanyaan diagnostik. Diagnosis sarkoma Kaposi yang akurat dicapai melalui panel biomarker, yaitu: LANA-1 untuk memastikan etiologi HHV-8, CD31 dan CD34 untuk menegaskan asal vaskular, D2-40 untuk menilai diferensiasi limfatik dan Ki-67 untuk melihat aktivitas proliferasi sel yang menunjukkan sifat tumor ganas. Pendekatan ini memberikan gambaran menyeluruh tentang asal-usul, sifat biologis, dan perilaku tumor.
Dapat disimpulkan bahwa Sarkoma Kaposi merupakan kanker dengan karakteristik biologis yang kompleks dan dapat menyerupai berbagai lesi lain. Meskipun pemeriksaan histopatologi tetap menjadi dasar diagnosis, penggunaan biomarker jaringan secara signifikan meningkatkan ketepatan diagnosis. Dengan pemeriksaan biomarker jaringan pada setiap penderita, diagnosis Sarkoma Kaposi dapat dipastikan dan juga sifat biologis tumor dapat dipahami dengan lebih baik. Hal ini pada akhirnya berdampak pada pengambilan keputusan klinis yang lebih akurat dan penatalaksanaan pasien yang lebih optimal.
Artikel Ilmiah Populer diambil dari artikel Jurnal dengan judul:
Tissue Biomarkers in Kaposi Sarcoma, dengan penulis: Yedida Gracia Sandika, Willy Sandhika and Lusiani Tjandra, yang telah terbit pada: GSC Biological and Pharmaceutical Sciences, volume 33 nomer 03 tanggal 2 Januari 2026.
Link jurnal: https://gsconlinepress.com/journals/gscbps/content/tissue-biomarkers-kaposi-sarcoma





