Universitas Airlangga Official Website

Dosen FISIP UNAIR Ungkap Pentingnya Kepemimpinan Berbasis Dampak Nyata

Potret Parlaungan Iffah Nasution S IAN MPA Dosen Fisip dalam Sesi Pemaparan Materi (Foto:Istimewa)
Potret Parlaungan Iffah Nasution S IAN MPA Dosen Fisip dalam Sesi Pemaparan Materi (Foto:Istimewa)

UNAIR NEWSFakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (FISIP UNAIR) kembali menjadi ruang diskusi kepemimpinan strategis melalui Leadership Talk Rumah Kepemimpinan 2026 yang digelar pada Minggu (8/2/2026) di Aula Soetandyo FISIP UNAIR. Kegiatan itu menghadirkan tiga pemateri, salah satunya Parlaungan Iffah Nasution S IAN MPA, dosen FISIP UNAIR sekaligus alumni Beasiswa Rumah Kepemimpinan.

Dalam pemaparannya, Parlaungan yang akrab disapa Ucok, menekankan bahwa kepemimpinan sejati tidak berhenti pada niat baik atau kelancaran proses. Menurutnya, pemimpin harus bertanggung jawab pada konsekuensi nyata dari setiap keputusan yang diambil.

“Kepemimpinan itu tidak cukup dinilai dari proses atau popularitas, tetapi dari dampak akhirnya. Apakah keputusan kita benar-benar menyelesaikan masalah?” tegasnya.

Ia menyebut pendekatan ini sebagai kepemimpinan konsekuensional, yakni kepemimpinan yang menempatkan hasil dan perubahan nyata sebagai tolok ukur utama keberhasilan.

Ucok juga mengkritisi praktik kepemimpinan yang terlalu berfokus pada prosedur administratif dan pencapaian simbolik. Menurutnya, proses memang penting, namun bukan tujuan akhir dari sebuah kepemimpinan publik.

“Pemimpin konsekuensional tidak bersembunyi di balik prosedur. Proses itu alat, bukan tujuan,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa kepemimpinan yang hanya berorientasi laporan dan narasi keberhasilan berpotensi mengaburkan tujuan awal sebuah kebijakan.

Sebagai ilustrasi, Ucok mengangkat Program MBG. Ia menilai keberhasilan program tersebut seharusnya diukur dari peningkatan status gizi dan penurunan stunting, bukan dari indikator turunan seperti penciptaan lapangan kerja.

“Lapangan kerja boleh menjadi dampak tambahan, tapi bukan indikator utama. Kalau indikatornya salah, maka arah kepemimpinannya juga melenceng,” jelasnya.

Menurutnya, kesalahan dalam memilih indikator menunjukkan kegagalan memahami esensi kepemimpinan konsekuensional.

Di akhir sesi, Ucok mengajak peserta khususnya pemimpin muda Rumah Kepemimpinan untuk berani dievaluasi oleh dampak kebijakan yang dihasilkan. “Pemimpin sejati berani bertanya: apa konsekuensi nyata dari keputusan saya bagi masyarakat?” tuturnya.

Ia berharap forum ini mampu membentuk pemimpin muda UNAIR yang tidak hanya cakap berbicara, tetapi juga konsisten menghadirkan perubahan nyata dan terukur. (*)

Penulis: Nafiesa Zahra

Editor: Khefti Al Mawalia